Melawan Korupsi Ala Bibit S. Rianto
 
Judul : Koruptor Go To Hell; Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia
Penulis : Bibit S. Rianto
Penerbit : Hikmah
Tebal : 176 Hal.
Tahun Terbit : Desember 2009
Oleh: Sutarno Bintoro
 
Bibit Samad Rianto adalah ikon perlawanan terhadap koruptor. Ia telah menjadi 
inspirasi bagi banyak orang untuk mengobarkan semangat antikorupsi. Bahkan, 
pengalamannya dikriminalkan bersama Chandra M. Hamzah, menjadikan suami dari 
Titiek Sugiarti ini The Rising Star. Hal ini adalah sejarah baru dalam 
pemberantasan korupsi di Indonesia, sehingga tak berlebihan jika bukunya 
“Koruptor Go To Hell; Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia”, menjadi semacam 
bacaan wajib bagi penggiat antikorupsi ataupun masyarakat pada umumnya.
 
Ada beberapa alasan mengapa perlu membaca buku karangan putra seorang petani 
dan penjahit dari Kediri ini. Pertama, buku “Koruptor Go To Hell; Mengupas 
Anatomi Korupsi di Indonesia” ditulis oleh Pimpinan KPK, dimana kompetensinya 
dalam hal pemberantasan korupsi tidak diragukan lagi. Kedua, buku ini lahir 
dalam situasi teramat pahit dan serba dilematis. Status Bibit saat itu adalah 
sebagai tersangka Mabes Polri. Ketiga, buku ini ditulis di dua alam, yakni alam 
bebas dan penjara Mako Brimob Kelapa Dua. Keempat, buku ini terbit tak selang 
lama dengan bebasnya Ayah empat anak ini dari penjara setelah melalui proses 
politik yang alot dan melelahkan.
 
Buku bersampul merah marun ini terdiri dari 7 (Tujuh) Bab, yakni Bab 1. Akar 
Korupsi, Bab 2. Gunung Es Korupsi, Bab 3. Tujuh Kelompok Korupsi, Bab 4. 
Kerawanan Korupsi, Bab 5. Potensi Masalah Penyebab Korupsi, Bab 6. Anatomi 
Korupsi di Indonesia, dan Bab 7. Baku Atur Ala Mafia. Melalui bab demi bab 
dalam buku setebal 176 halaman inilah dapat diketahui mozaik lain dari Bibit 
Samad Rianto.
 
Pada bagian awal, Bibit secara blak-blakkan berkisah tentang kasus yang dialami 
koleganya, Antasari Azhar. Ketua KPK Jilid 2 itu tersandung kasus pembunuhan 
yang menewaskan Direktur P.T. Putra Rajawali Banjaran, pada 14 maret 2009. Ia 
menepis mengetahui apa yang dilakukan Antasari. Selain itu, adanya 
kencenderungan untuk menarik Pimpinan KPK dalam kasus AA juga dibaca oleh 
Doktor jebolan Universitas Negeri Jakarta ini.
 
Beberapa kasus yang menjadi perhatian publik, seperti kasus gratifikasi saat 
pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia 2004, kasus Sistem Komunikasi Radio 
Terpadu (SKRT), kasus Bank Century, dan kasus kriminalisasi Pimpinan KPK yang 
melibatkan dirinya dan Chandra M. Hamzah juga tak luput menjadi materi dalam 
buku ini. Bersama dengan Nurlis E. Meuko, salah satu wartawan alumni Tempo, 
Wakil Ketua KPK, Bibit Samad Rianto mengeksplorasi pemikiran dan pengalamannya 
dalam memberantas praktik-praktik korupsi sejak di Kepolisian sampai menjabat 
Pimpinan KPK secara menarik dan mudah dicerna.
 
Ada empat hal penyebab korupsi yang menjadi roh dalam buku terbitan Kelompok 
Mizan ini, yaitu niat, peluang, kemampuan, dan sasaran. Keempat hal itu sangat 
rentan pada para pejabat dan penyelenggara negara. Berdasarkan pengalaman Bibit 
saat menjabat Kapolda Kalimantan Timur, ia pernah menangani 234 kasus illegal 
logging. Dalam menangani kasus tersebut mantan Rektor ini ditawari Rp. 500 juta 
per kasus. Berarti ada peluang untuk mendapatkan uang Rp. 117 miliar kalau ada 
niat waktu itu. Hal yang sama juga dialami oleh salah satu Kapolda Riau, 
Brigjen. Pol. Sutjiptadi.
 
Dalam bukunya bagian Baku Atur Ala Mafia, Bibit mengisahkan kejadian tragis 
yang menimpa teman sejawatnya ini dalam menangani kasus illegal logging. 
Tindakan tegas dalam menghentikan laju pembabatan hutan secara liar dan upaya 
menggulung perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat pembalakan liar di Riau 
justru berbuah penggeseran posisi yang dramatis. Sutjiptadi kini menjadi 
Perwira Tinggi yang tugasnya hanya sebagai tenaga pengajar di Kepolisian.
 
Pada bagian lain buku ini dipaparkan beberapa kelemahan yang mendukung praktik 
korupsi. Satu di antaranya adalah sistem politik dan anggaran. Sistem politik 
biasanya cukup melekat pada pemilihan kepala daerah (Pilkada). Biasanya para 
pemilik modal yang maju dalam Pilkada akan mencari uang pengganti dana yang 
dikeluarkan selama proses Pilkada. Termasuk dengan jalan yang menyalahi aturan. 
Modus ini disebut hidden income dalam istilah Pria kelahiran 3 November 1945 
ini.
 
Sebagai Doktor Manajemen, Bibit juga menyinggung masalah sistem penilaian 
kinerja yang bobrok. Adanya ambiguitas performance yang sering disebut PGPS 
(Pintar Goblok Penghasilan Sama) adalah salah satu pemicu sesorang untuk 
korupsi selain lemahnya pengawasan dan integritas yang rendah.
 
Secara tegas dan jelas, korupsi digambarkan seperti gunung es dalam buku yang 
diluncurkan di Hotel Sultan ini. Walaupun permukaan atasnya berhasil 
dihancurkan, namun akan muncul lagi gunung es yang baru sebab di bawahnya 
terdapat bongkahan yang lebih besar. Jadi, meski banyak koruptor berhasil 
diberantas akan tetap muncul koruptor-koruptor baru sepanjang akar masalah 
korupsi tidak dihancurkan atau tidak ditangani secara baik.
 
Bagi B.R.S. Wisnuwardhana, permasalahan korupsi di Indonesia yang super komplek 
memerlukan penanganan yang serius dari semua pihak. Bagaikan bakteri, korupsi 
tidak pernah berhenti berkembang biak dalam suatu siklus reproduksi yang sulit 
dideteksi. Agar korupsi tidak melumpuhkan fungsi organ-organ birokrasi di 
negeri ini, ia menawarkan tiga cara untuk menanganinya. Ketiga cara tersebut 
salah satunya secara kuratif (penindakan), kemudian preventif (pencegahan) dan 
selebihnya preemtif atau penanganan masalah dari hulu permasalahan.
 
Jelaslah, buku ini bukan satu-satunya buku yang membahas persoalan korupsi, 
namun buku ini sedikit banyak telah menjadi inspirasi bagi pemberantasan 
korupsi di Indonesia. Gambaran anatomis korupsi di Indonesia disajikan secara 
riil, tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Pengalaman dan pemikiran penulis 
dalam mengupas akar dan modus korupsi yang begitu detail dan gamblang menjadi 
nilai plus buku yang didominasi warna merah ini.
 
Sebenarnya buku ini dapat lebih kaya jika disertai surat-surat dan dokumen 
pribadi penulis lainnya yang berhubungan dengan tugas semasa di Kepolisian, 
maupun semasa menjadi tersangka seperti Surat Nonaktif dari Presiden SBY, surat 
panggilan dari Mabes Polri, dan sebagainya. Bukankah surat-surat dan 
dokumentasi tersebut yang menjadi sejarah manis dalam perjalanan hidup seorang 
Pimpinan KPK bernama Bibit Samad Rianto?. Tentu saja hal ini tidak mudah karena 
perlu usaha keras untuk penyempurnaan buku berharga ini.
Namun demikian, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya “Koruptor Go To Hell: 
Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia” sangat dinanti kehadirannya sebagai 
bekal dalam melawan korupsi.
 
Lewat buku ini, kita pun diingatkan kembali akan hidup bersih dan bersama-sama 
memberantas korupsi, terutama mulai dari diri sendiri.


      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke