AssWrWb,
Soal gempa kembali mengunjungi diskusi kita, bhw ke concern an Pak Badrul
akan efek social and efek ekonomi dll nya terhadap Kota Padang
harus kita appresiasi, tp masalahnya apakah kita bisa menganjurkan kpd
pakar2 itu bhw prediksi akan terjadinya gempa besar dan tsunamai seharusnya
tidak konsumsi rakyat banyak, maklum rakyat kami belum berpikir scr
kritis(maaf tidak semuanya) atau sebaliknya pakar2 tsb juga berkeinginan utk
meng ekspose pendapatnya spy di dengar. Yg jelas usaha2 kita utk
mempersiapkan /menghadapi gempa akan lbh terfocus dan terkonsentrasi serta
meng effisiensi kan sumber daya tersedia memberikan nilai positif akan
adanya berita gempa besar tsb.
Sewaktu Padang Kini online mengekspose berita ttg gempa ini bbrp hari yl,
lansung saya email pak Badrul, menanyakan siapa John McCloskey ini, memang
ada sedikit " slip of the tongue" siapa
sebenarnya Professor John McCloskey ini, ini memang "petty matter", dan yg
lbh penting adalah pak Badrul bersedia meluangkan waktu utk
berdebat/berediskusi dgn Prof. John Mc Closkey tsb. Terimakasih pak Badrul. Nah
siapa yg bersedia ber inisiatif mengadakan debat pertemuan ini.
Wass. Muzirman Tannjung.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Mari Bersahabat dengan Gempa*
oleh: *Badrul Mustafa*
(Ketua HAGI KomWil SumBar)
Setelah gempa besar dan dahsyat mengguncang Sumatera Barat tanggal 30
September 2009 yang lalu, ternyata trauma sebagian masyarakat bukannya
berkurang, malah bertambah dengan adanya isyu gempa (yang lebih besar) dan
tsunami yang siap menghantam kembali Sumatera Barat. Isyu ini dilontarkan
oleh seorang pakar Irlandia, Professor John McCloskey, seperti yang dikutip
harian ini Selasa lalu (19/01/2010). Pendapat ini sama dengan pendapat
pakar terdahulu, yakni Danny Hilman dkk. Dasar pendapatnya adalah setelah
gempa 30/09/09 yang lalu, menurut catatan GPS (Global Positioning System),
posisi pulau Siberut tidak bergerak kembali ke arah menjauhi pulau
Sumatera. Padahal menurut teorinya, yang dikembangkan oleh Danny Hilman dan
kawan-kawan, pulau-pulau terluar di depan Sumatera, mulai dari Simeulue,
Nias, Mentawai sampai Enggano, akan terdorong sedikit demi sedikit ke arah
Sumatera akibat dorongan lempeng India-Australia terhadap Eurasia sehingga
jaraknya mendekat. Ketika gempa terjadi mengikuti siklusnya di daerah
tersebut, maka pulau-pulau tadi yang dekat dengan episenter gempa akan
kembali menjauh setelah gempa. Jadi ia diibaratkan sebuah per, yang
bergerak bolak-balik mengikuti arah tekanan.
Teori ini sebetulnya baru diperkenalkan oleh team LIPI bekerjasama
dengan Caltech (California Institute of Technology), yakni sekitar tahun
2005/2006. Team ini melakukan penelitian dengan menempatkan GPS di Mentawai
dan di daratan pulau Sumatera untuk memantau pergerakan dan posisi
pulau-pulau terluar ini terhadap Sumatera. Professor John McCloskey menulis
di jurnal ilmiah, yang berpendapat sama dengan yang pernah dilontarkan oleh
Danny Hilman dkk., yang kemudian sampai ke media umum. Danny Hilman juga
mengomentari gempa 30/09/09, bahwa gempa tersebut bukan akibat tumbukan
(subduksi) lempeng India-Australia terhadap Eurasia, sehingga menurutnya,
energi tumbukan ini belum lepas, yang ditunjukkan oleh belum kembalinya
Pulau Siberut ke posisi awal.
Di sinilah titik perdebatan muncul. Saya berpendapat bahwa gempa
30/09/09 adalah produk dari tumbukan kedua lempeng yang disebutkan di atas.
Alasannya adalah kedalaman pusat gempa sekitar 78 km di bawah permukaan
laut. Kalau kita lihat bidang Benioff Zone, yakni bidang miring akibat
menyelusupnya lempeng India-Australia di bawah Eurasia pada busur Sunda,
maka kedalaman pusat gempa kemarin itu sudah berada pada bidang tumbukan.
Kemudian, kalau gempa 30/09/09 bukan produk subduksi, lalu darimana energi
gempa tersebut? Kalau energinya berasal dari Sesar (transform) Mentawai,
maka tidak mungkin kedalamannya sampai sejauh itu. Biasanya gempa yang
disebabkan oleh pergerakan sesar transform tidak dalam, sebagaimana biasanya
pula, patahan tersebut tidak dalam. Karena itulah gempa yang terjadi di
daratan Sumatera akibat Sesar Semangko banyak menimbulkan kerusakan karena
pusat gempanya dangkal sekali, sama seperti yang terjadi tanggal 12 Januari
2010 di Haiti. Begitu juga gempa yang terjadi di Turki, Iran, China dan
lain-lain akibat patahan/sesar mendatar menimbulkan korban yang banyak
karena kedalaman gempanya sangat dangkal, yang dekat dengan pemukiman.
Memang persoalan ini tidak sederhana. Kalau gempa 30/09 itu merupakan
produk subduksi, memang aneh jadinya kalau pulau Siberut masih terkunci,
yang belum kembali ke posisi semula. Nah, dengan adanya keraguan semacam
ini, maka sangat disesalkan apabila seorang pakar melemparkan pendapatnya ke
tengah-tengah masyarakat. Mestinya pendapat ini cukup menjadi perdebatan
dalam sebuah seminar atau diskusi, tanpa dipublikasikan melalui media cetak
atau elektronik.
Sejak ada pendapat yang mengatakan bahwa siklus gempa 200 tahun di
blok Siberut belum terjadi, artinya gempa besar, bahkan disebutkan lebih
besar dari yang 30/09/09, masyarakat banyak yang resah. Beberapa pengusaha
keturunan sudah ada yang pindah ke daerah lain seperti Jakarta, Riau atau
Jambi. Pendapat terakhir dari John McCloskey menyebabkan pasar sempat sepi,
jual-beli minim, kunjungan wisata berkurang. Apalagi beberapa hari sesudah
pendapat John McCloskey keluar, muncul pula pendapat Prof. Goto Yozo, pakar
bangunan dari Jepang yang melakukan penelitian terhadap bangunan yang runtuh
di Padang akibat gempa 30/09/09. Pakar Jepang ini juga mengutip atau
mendaur ulang pendapat pakar LIPI. Mereka seperti yang diakui sendiri
ketika penulis mengomentari presentasinya di Balaikota Padang, bukan pakar
gempa (geofisika/geologi), tapi *civil engineer*. Namun prediksinya tentang
gempa ini telah membuat heboh Padang/SumBar. Penulis sering mendapat
pertanyaan sekitar isyu-isyu ini. Penulis diminta pula memberikan komentar
melalui dialog interaktif di RRI. Salah satu hal yang penulis sampaikan
adalah bahwa ambil saja hal positif dari isyu tersebut, yakni agar kita
lebih waspada lagi, terutama dalam menyiapkan bangunan tahan gempa sesuai
dengan standar kelayakan teknik sipil. Isyu tersebut mungkin lebih
ditujukan kepada Pemko Padang dan Pemda lain yang berada di pesisir Sumatera
Barat agar lebih meningkatkan kewaspadaan apabila suatu saat ada gempa
(agak) besar lagi. Rencana-rencana yang telah disusun agar segera
diwujudkan, seperti menyiapkan peta jalur evakuasi, memperlebar jalan/jalur
evakuasi, atau bahkan membuat jalan-jalan baru tegak lurus pantai, membangun
shelter sampai *sea wall*. IMB yang diberikan kepada bangunan-bangunan baru
yang akan dibangun dipastikan sesuai dengan standar kelayakan teknik sipil,
sesuai dengan SNI 2002. Terutama pengawasan harus dilakukan dengan ketat
agar gedung yang dibangun sesuai dengan rancangan. Tidak menyimpang.
Menyinggung kembali masalah isyu tentang gempa besar dan tsunami yang
dilontarkan John McCloskey, kalau kepadanya kita tanyakan apa yang harus
kita lakukan, apa harus mengungsi. Kalau mengungsi kemana, mulai kapan dan
sampai kapan, dipastikan ia tidak akan bisa menjawabnya. Begitu juga kepada
pakar lain pelontar isyu sejenis. Paling dijawab waspada, waspada dan
waspada. Dari dulu kita memang (mestinya) sudah waspada. Dengan adanya
isyu, sebagian malah menjadi sangat ketakutan sehingga meresponnya dengan
cara yang kurang rasional dan proporsional. Contohnya seperti tadi, ada
yang pindah ke Jakarta dan Pekanbaru, bahkan Solok. Jelas ini tidak tepat,
karena daerah yang dipilih masih daerah yang rawan gempa. Ada pula menurut
Dinas Pendidikan Kota Padang sejumlah orangtua murid yang memindahkan
anak-anaknya bersekolah ke Jakarta dan Pekanbaru, menumpang kepada familinya
di sana. Sudah lebih 1000 orang yang pindah dari Padang. Anehnya orangtua
tersebut tetap berada/bekerja di Padang. Tentu sekali waktu anak-anaknya
tersebut pulang berlibur ke Padang, ke tempat orangtuanya. Karena sampai
sekarang gempa belum bisa diramal waktu terjadinya, tentu si anak dapat saja
*shock* kalau terjadi gempa sewaktu ia datang berlibur tersebut. Jadi kalau
mau pindah juga, harusnya ke Kalimantan, Bangka Belitung atau Kepri.
Pulau-pulau ini dapat dikatakan aman dari goyangan gempa. Kemudian jangan
pernah keluar dari pulau tersebut sampai meninggal dunia.
Jadi, sikap yang baik dalam menghadapi gempa adalah kita tetap hidup
berdampingan dengan gempa tersebut. Kita persiapkan diri kita dengan lebih
baik, misalnya terutama dengan membuat atau memperkuat bangunan, mengatur
barang-barang di rumah seperti lemari, rak dll dalam kondisi stabil. Lemari
besar sebaiknya dipakukan ke dinding, barang yang lebih berat disimpan pada
posisi lebih ke bawah.
Kita dapat mencontoh Jepang dalam menghadapi gempa dan tsunami ini.
Jepang memiliki jumlah gempa yang lebih besar dibanding Indonesia. Tapi
mereka tidak panik, tidak muncul keinginan untuk meninggalkan negerinya
untuk menetap di daerah/negara lain yang tidak rawan gempa. Mereka siasati
gempa tersebut dengan membangun struktur tahan gempa, sebagai aplikasi dari
ilmu *earthquake engineering*. Dengan begitu, bila terjadi gempa atau
tsunami, kerugian yang timbul dapat diminimalisir.
Penting untuk disimak hasil penelitian team Jepang baru-baru ini di
bawah pimpinan Dr. Goto Yoso terhadap banyak bangunan yang rusak di Padang
setelah gempa 30/09/09, yang dipaparkannya di Balaikota Padang tanggal
22/01/2010. (Catatan penulis: kajian team ini tentang bangunan tahan gempa
sangat baik, tapi tidak untuk prediksinya tentang gempa/tsunami yang akan
terjadi, karena mereka bukan pakar gempa dan hanya mengutip pendapat orang
lain). Pada umumnya bangunan yang rusak tidak memenuhi standar kelayakan
teknik sipil. Ia mengatakan bahwa kalau kita membangun mengacu kepada SNI
2002, barangkali tidak ada bangunan yang hancur. Jadi membuat bangunan
sesuai standar menjadi kunci dalam mewaspadai gempa. Ketika kita selamat
dari gempa karena bangunan tempat kita berada waktu gempa terjadi tidak
rusak/rubuh, lalu ada warning untuk evakuasi dari tsunami, maka kita punya
cukup waktu untuk menuju zona aman. Syaratnya tidak membawa kendaraan,
terutama roda empat. Karena belajar dari beberapa kejadian yang lalu,
kendaraan tidak menolong. Tidak sampai dua menit setelah gempa jalanan
langsung macet oleh kendaraan-kendaraan ini, sehingga kalau terjadi tsunami
waktu itu, kemacetan di zona merah ini akan menimbulkan korban yang besar.
Jadi evakuasi dari tsunami harus dengan jalan kaki. Hanya sedikit kendaraan
yang boleh lewat seperti ambulan atau kendaraan yang membawa korban sakit
atau meninggal akibat gempa. Kesimpulannya, jangan takut terhadap gempa dan
tsunami. Perkuat bangunan sesuai standar yang ada, kemudian berserah diri
kepada Allah SWT.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe