http://koran.republika.co.id/koran/28/103666/Beban_Bangsa_Terasa_Semakin_Berat_Saja

Selasa, 09 Februari 2010 pukul 08:45:00
Beban Bangsa Terasa Semakin Berat Saja
Oleh Ahmad Syafii Maarif

Orang tidak perlu terlalu bermimpi muluk-muluk tentang bangsa ini. Bagi rakyat 
banyak, sekiranya cukup pangan, sandang, papan, anak bisa bersekolah, dapat 
berobat dengan biaya terjangkau, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. 
Cobalah tengok kantong-kantong kemiskinan di desa dan kawasan perkotaan, 
sungguh memilukan. Jumlah desa tertinggal menurut data tahun 2006 masih sekitar 
45 persen dari 70.611 jumlah desa di seluruh Nusantara. Sekarang, angka itu 
belum banyak berubah.

Berdasarkan data BPS 2010, di seluruh Indonesia masih terdapat 199 kabupaten 
tertinggal dengan jumlah desa terkebelakang sejumlah 32 ribu. Angka ini tinggi 
sekali. Jika demikian, apa yang kita bangun selama ini? Lingkungan kemiskinan 
pedesaan adalah salah satu faktor pemicu utama bagi maraknya migrasi dari desa 
ke kota, dengan segala dampaknya yang ruwet. Jakarta adalah contoh yang paling 
buruk bagi migrasi ini sehingga ibu kota negara ini sudah sangat sumpek. 
Kemacetan lalu-lintas dan langganan banjir tampaknya sudah sangat sulit 
diatasi. Maka, tidak mengherankan jika sebagian penduduknya mengalami gangguan 
saraf, termasuk polisi lalu-lintas.

Dengan demikian, selama empat tahun berjalan, kondisi ranah pedesaan tidak 
kunjung membaik. Sebagian lokasinya sangat terisolasi, sulit dijangkau, tetapi 
penduduknya masih merasa bangga sebagai bagian menyatu dalam bingkai 
keindonesiaan. Sekalipun bahasa Indonesia mereka belum tentu selalu teratur, 
alat komunikasi ini masih cukup efektif untuk saling menyapa antarberbagai suku 
di negeri ini. Alangkah sentralnya fungsi bahasa Indonesia sebagai salah satu 
pilar utama bagi kepentingan integrasi nasional. Bahasa yang berasal dari 
bahasa Melayu ini adalah sumbangan suku minoritas Riau yang teramat penting 
bagi Indonesia. Ki Hajar Dewantara, budayawan Jawa yang piawai, sudah semenjak 
tahun 1916 mengusulkan agar bahasa Melayu dijadikan lingua franca (alat 
komunikasi) bagi suku-suku di Nusantara, padahal saat itu Indonesia sebagai 
bangsa belum lagi muncul.

Masalah lain yang kurang digemari publik adalah masalah swasembada pangan yang 
dulu pernah ditunjukkan Indonesia, sekarang semuanya itu sudah menjadi masa 
lampau. Dua negara raksasa dari segi jumlah penduduk: Cina dan India ternyata 
mampu berswasembada pangan. Artinya, penduduk besar tidak merintangi sebuah 
negara untuk menghentikan impor pangan karena dengan kebijakan yang tepat dan 
berani, upaya swasembada bukan sesuatu yang mustahil. Kelemahan Indonesia bukan 
terletak pada rumusan kebijakan, melainkan dalam proses pelaksanaannya yang 
tidak dikawal dengan ketat. Kenyataan ini tetap saja berlangsung: antara 
rumusan kebijakan dan pelaksanaan di lapangan dibiarkan menempuh jalannya 
masing-masing. Bukankah ini sebuah pertanda semakin merapuhnya pilar-pilar 
kultur bangsa. Membiarkan ketimpangan ini sama saja dengan membiarkan bangsa 
ini menggali kuburan masa depannya.

Kita ambil contoh yang lebih konkret. Sejak tahun 2001, pemerintah telah mulai 
menyosialisasikan gerakan serbaorganik: beras organik, kacang, jagung, sayur 
organik, dan lain-lain. Gagasan ini sungguh mulia karena hasil tanaman yang 
diperoleh dengan pupuk kimiawi, pasti membahayakan kesehatan manusia. Sekarang, 
sudah berjalan sembilan tahun, upaya itu sama sekali tidak mencapai sasaran 
yang berarti, sementara sebagian masyarakat sedang gandrung-gandrungnya untuk 
beralih kepada produk yang serbaorganik itu, sekalipun dengan harga tiga kali 
lipat. Maka, berlaku lagi kenyataan ini: perencanaan hampir selalu terempas 
dalam pelaksanaan.

Contoh-contoh di atas semuanya serbakonkret dan dapat diukur. Bagaimana dengan 
penerjemahan ide-ide besar yang lebih abstrak dalam kehidupan berbangsa dan 
bernegara, seperti Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya, politik bebas-aktif, 
bhinneka tunggal ika yang mengajarkan prinsip pluralisme yang tidak mudah 
diukur? Di ranah ini telah terjadi penyimpangan sangat jauh, yang justru 
dilakukan oleh pemimpin negara dan elite politik sejak kita merdeka. Sila 
keadilan sosial yang mengunci Pancasila, siapa yang masih hirau dengan itu? 
Presiden sekarang tampaknya sudah berat lidahnya untuk menyebut Pancasila, kita 
tidak tahu mengapa demikian. Pancasila memerintahkan kejujuran, ketulusan; 
Pancasila anti keculasan dan kepalsuan. Untuk menegakkan kejujuran itulah, 
sumpah jabatan diperlukan. Beban bangsa ini akan semakin tak tertahankan, jika 
ide-ide besar di atas tetap saja dilecehkan dalam praktik penanganan 
masalah-masalah konkret di negara ini.


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke