Dari milis subalah
From: "Herman" <[email protected]>
To: <[email protected]>;
<[email protected]>;
<[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Subject: OOT : Catatan tentang Tahun Baru Imlek
Date: Saturday, February 13, 2010 1:59 PM
Asal Muasal Kalender Imlek
Tahun Baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok.
Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut
perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai
iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek
(penanggalan petani). Hal inilah yang disyukuri petani, karena selain
panen, masa itu baik untuk menanam kembali untuk musim berikutnya.
Dengan demikian, selain suasana syukur, Imlek juga munculnya harapan
baru untuk masa depan (musim) yang lebih baik.
Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan
ajaran Kongfuzius (Kong Hu Chu) sebagai agama resmi, dan penanggalan
yang dianjurkan oleh Kong Hu Chu, yaitu He Lek resmi dipakai semua
orang, baik masyarakat maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung
dari tahun kelahiran Kong Hu Chu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian
penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Oleh
karenanya jika tahun masehi saat ini 2005, maka tahun Imleknya menjadi
2005 + 551 = 2556. Karena dihitung sejak Kong Hu Chu lahir maka tahun
Imlek lazim disebut sebagai Khongculek.
Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di
antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara
lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi
merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Budha
Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan
penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.
Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan
mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun
sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas
peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti
penanggalan masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme
yang dikenal sebagai 'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua)
bulan tambahan setiap 5 (lima) tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka
lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).
Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM,
sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus
pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan
asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766
SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan
penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti
Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He,
yakni akhir musin dingin.
Kong Hu Chu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM)
merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang
mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jatuh pada hari Tangcik
(Tung Ze). Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Khong Hu Chu,
penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari
Sabda Kong Hu Chu : "Pakailah penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda
Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11.
Tahun Baru Khon Hu Chu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It /
Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat
terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Februari (spring
showers - hujan musim semi).
Tahun Baru Imlek Tiongkok atau Festival Musim Semi sama seperti Hari
Natal di Barat adalah hari raya tradisional yang paling besar di
Tiongkok. Meskipun seiring dengan perubahan zaman, isi yang terkandung
dalam Tahun Baru Imlek dan cara merayakannya sudah berubah, tapi Tahun
Baru Imlek dalam kehidupan rakyat Tiongkok tetap berposisi penting tak
tergantikan.
Tahun Baru Imlek Tiongkok konon sudah bersejarah 4,000 tahun lebih. Tapi
pada permulaan, hari raya itu tidak disebut sebagai Tahun Baru Imlek,
dan juga tidak dirayakan pada hari yang tetap. Kira-kira pada tahun 2100
Sebelum Masehi, rakyat Tiongkok pada waktu itu menyebut rotasi Bintang
Jupiter sebagai "Sui", yakni satu tahun, maka Tahun Baru Imlek pada
waktu itu disebut sebagai "Sui". Pada tahun 1000 Sebelum Masehi, rakyat
pada waktu itu menamakan Tahun Baru Imlek sebagai "Nian", dengan artinya
panen.
Menurut adat istiadat masyarakat Tiongkok, Tahun Baru Imlek dalam arti
makro dimulai dari tanggal 23 bulan 12 Imlek, dan berlangsung sampai
hari Cap Goh Meh yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dengan
masa perayaan berlangsung selama tiga minggu. Di antaranya, malam
tanggal 30 bulan 12 atau "chuxi" dalam bahasa Tionghoa dan tanggal
pertama bulan pertama Imlek paling meriah, dan merupakan puncak perayaan
Tahun Baru Imlek.
Lain tempat, lain adat istiadatnya. Memang rakyat di berbagai daerah di
Tiongkok mempunyai kebiasaan perayaan Tahun Baru Imlek yang tidak sama,
tapi tradisi seisi keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan Tahun
Baru Imlek pada malam tanggal 30 bulan 12 Imlek, yaitu malam menjelang
Tahun Baru Imlek adalah kebiasaan yang sama baik bagi penduduk di bagian
utara maupun di selatan.
Pada malam menjelang Tahun Baru Imlek, rakyat Tiongkok mempunyai tradisi
menyambut kedatangan tahun yang baru tanpa tidur. Kegiatan perayaan
Tahun Baru Imlek beraneka ragam, antara lain, pertunjukan opera, tari
naga atau barongsai, jakungan, pekan kelenteng dan sebagainya, dan di
mana-mana penuh suasana riang gembira. Selama Festival Tahun Baru Imlek,
banyak pula orang yang menonton TV di rumah, karena selama liburan
Festival Tahun Baru Imlek, acara televisi memang lebih menarik daripada
hari-hari biasaya.
Memasang kuplet dan gambar tahun baru serta lampion berwarna-warni
adalah kegiatan yang sangat digemari rakyat untuk merayakan Tahun Baru
Imlek.
Seiring dengan meningkatnya taraf hidup rakyat, cara perayaan Tahun Baru
Imlek pun lebih bervariasi. Di antaranya, bertamasya ke luar negeri kian
hari kian menjadi mode bagi rakyat Tiongkok untuk merayakan Tahun Baru
Imlek.
Tahun Baru Imlek Dengan Mitos dan Ritual di Dalamnya
Tahun Baru Imlek 2561 tahun ini jatuh pada pada hari Minggu tanggal 14
Febuari 2010 Masehi. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan
pertama dari sistem kalender yang dipakai oleh orang Tionghoa. Imlek
merupakan sistem kalender lunisolar yaitu gabungan dari sistem kalender
bulan dan kalender matahari. Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Tahun
Baru China dan Festival Musim Semi (Chun jie). Perayaan tahun baru ini
tentunya tidak bisa lepas dari segala mitos dan ritual yang melekat kuat
di dalamnya.
Asal Muasal peringatan Tahun Baru Imlek ini pun mempunyai kisah
tersendiri. Konon pada dahulu kala pada tepat setiap musim semi tiba di
akhir musim dingin masyarakat sering diganggu binatang buas yang bernama
Nian.
Binatang buas ini datang dari dasar lautan untuk memakan manusia.
Masyarakat mengetahui bahwa Nian ini takut akan bunyi yang keras. Karena
itu untuk mencegahnya datang, mereka memukul beduk, gong dan membakar
bambu yang akan menimbulkan suara ledakan (terakhir ini telah diganti
dengan petasan, setelah diketemukannya mesiu pada dinasti Sung).
Mulai saat itu setiap akhir musim dingin, masyarakat merayakan tahun
baru imlek dengan membakar petasan dan memainkan barongsai untuk
mengusir segala yang jahat dan menyambut datangnya musim semi.
Imlek secara tradisi telah diperingati oleh masyarakat Tionghoa seluruh
dunia sejak ribuan tahun lalu. Dari buku kuno diketahui Imlek dirayakan
di Tiongkok 4699 tahun yang lalu oleh raja pertama Huang Ti. Secara
tradisi penyambutan Imlek diisi dengan aktivitas menjadi baru mulai dari
mendandani rumah dan dirinya sendiri dengan pakaian dan semangat baru.
Yik Nien Fuk Se, Wan Siang Keng Sin artinya datangnya tahun baru
mengubah segalanya menjadi baru.
Warga Tionghoa kini menghabiskan hari-harinya mempersiapkan Imlek dengan
membuat aneka macam kue keranjang atau kue tar, membersihkan rumah dan
tempat ibadah serta menyiapkan angpao. Sementara yang laki-laki akan
membersihkan pekarangan atau mencat rumah.
Segala rangkaian prosesi perayaan Tahun Baru Imlek ini dimulai dengan
suatu ritual yang dinamakan Cap Ji Gwee Jie Shie (tanggal 24 bulan ke-12
Imlek), yang jatuh pada hari Minggu, 14 Febuari 2010.
Pada permulaan hari itu, sesuai tradisi, orang Tionghoa menyalakan
puluhan hio (dupa bergagang) berketinggian tiga meter di
klenteng-klenteng. Bagi yang tidak mampu membeli itu, pelaksanaan
sembahyang cukup dengan hio biasa, lilin kecil, minyak nabati, serta
sesaji buah-buahan, kue serba manis, dan pembakaran hu (kertas merang
bergambar kuda terbang).
Ritual ini juga sering disebut dengan Shang Sheng. Shang Sheng merupakan
salah satu dari rangkaian ritual keagamaan pemeluk agama Khong Hu Cu,
meski kemeriahannya tak semencolok pada Malam Tahun Baru Imlek, dan Cap
Go Mee atau hari ke-15 Tahun Baru Imlek.
Rangkaian kegiatan menyambut tahun baru Imlek dimulai dengan sembahyang
syukuran tutup tahun imlek 2558 atau Sam Sip Pu mulai 6 Februari mulai
pagi hingga malam. Acara persembahyangan Tahun Baru sendiri, dimulai
menjelang tengah malam hingga besok paginya.
Biasanya pada malam sebelum tahun baru atau Chu Si Ye, seluruh anggota
keluarga harus kumpul bersama dan makan Thuan Yen Fan (makan malam
sekeluarga). Jika ada keluarga yang tidak sempat atau berhalangan untuk
pulang ke rumah, di meja akan disiapkan mangkok dan sepasang sumpit yang
mewakili yang tidak sempat datang tadi.
Sayur yang disajikan cukup banyak dan mengandung arti tersendiri,
seperti Kiau Choi yang melambangkan panjang umur, ayam rebus yang
disajikan utuh melambangkan kemakmuran untuk keluarga. Sedangkan bakso
ikan, bakso udang dan bakso daging melambangkan San Yuan atau tiga
jabatan yaitu Cuang Yuen, Hue Yuen dan Cie Yuen. Tiga jabatan tersebut
adalah jabatan yang sangat dihormati masyarakat Tionghoa pada jaman
kekaisaran dahulu.
Juga ada Kiau Se atau pangsit yang bentuknya dibuat mirip dengan uang
perak zaman dulu. Menurut kepercayaan, makan Kiau Se akan mendatangkan
rejeki. Malahan sesuai tradisi di antara pangsit tersebut salah satunya
akan diisi dengan koin. Bagi yang mendapatkan koin tersebut konon akan
mendapatkan rejeki besar.
Di meja juga disiapkan ikan yang dihias dan akan dimakan. Maknanya yaitu
Nien nien yeu yi atau setiap tahun ada lebihnya. Ikan dingkis bertelur
yang dikukus merupakan hidangan istimewa sebab diyakini dapat membawa
keberuntungan di tahun baru.
Selain sajian-sajian itu yang menjadi tradisi di warga Tionghoa dalam
menyambut Imlek adalah dengan menggunakan pakaian tidur berikut pakaian
dalam yang masih baru. Maksudnya adalah untuk membuang kesialan tahun
lalu. Pada malam tahun baru setelah berdoa dan makan malam, tidur dengan
menggunakan pakaian tidur yang baru umumnya berwarna merah.
Pada hari pertama Sin Nien atau tahun baru, pertama yang akan dilakukan
adalah sembahyang pada leluhur bagi yang ada altar di rumah. Bagi yang
tidak punya altar, akan ke klenteng terdekat untuk sembahyang
mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun.
Setelah itu memberikan hormat kepada kedua orang tuanya, saling
mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.
Selain itu bagi anak-anak muda mereka akan menyambut tahun baru dengan
memasang petasan dan main barongsai yang mengandung arti mengusir segala
yang jahat dan menyambut segala yang baik. Banyak pantangan yang tidak
dilakukan pada hari tersebut. Seperti tidak menyapu dan tidak membuang
sampah yang katanya akan mengusir rejeki keluar rumah.
Pantangan lainnya yaitu tidak boleh bertengkar atau mengeluarkan
kata-kata fitnah dan tidak boleh memecahkan piring. Namun jika kebetulan
secara tidak sengaja ada piring atau mangkok yang pecah, untuk
penangkalnya harus cepat-cepat mengucapkan Sue sue Phing an yang artinya
setiap tahun tetap selamat.
Pada hari kedua tahun baru adalah saatnya hue niang cia atau pulang ke
rumah ibu. Hari ini bagi wanita yang sudah menikah akan pulang ke rumah
ibunya dengan membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpao
(kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya.
Secara tradisi Angpao atau Hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan
orang tua. Pada hari ketiga, mereka lebih banyak tinggal di rumah, tidak
banyak melakukan perjalanan dan aktivitas.
Pada hari keempat adalah hari menyambut para dewa untuk kembali ke bumi.
Konon menurut kepercayaan Dewa Dapur (Co Kun Kong) dan para dewa dari
langit akan kembali ke Bumi. Pada hari kedatangan kembali para dewa-dewi
itu, khususnya Dewa Dapur, akan disambut bunyi-bunyian antara lain
dengan kentongan. Warga Tionghoa biasanya ke klenteng untuk Hi Fuk atau
memohon kepada dewa untuk mendapatkan perlindungan dan rejeki. Sesaji
yang dibawa biasanya berupa buah-buahan juga ciu cha (arak) dan teh.
Dihitung dari Shang Sheng, rangkaian persembahyangan menjelang dan
sesudah Tahun Baru Imlek meliputi 21 hari. Bagi orang yang masih kental
merayakannya secara lengkap, tiga pekan itu adalah saat-saat penuh makna
bagi perawatan batin. Mereka berdoa, mawas diri, bersedekah, mohon
pengampunan, berterima kasih kepada Thien (Tuhan), leluhur, orang tua
dan orang-orang yang dituakan, dan mohon pertolongan kepada Tuhan dan
para dewa agar sehat, selamat dan sejahtera di tahun yang baru.
Kebiasaan merayakan Imlek memang tidak harus dilakukan dalam pesta atau
perayaan yang berlebihan. Yang paling penting adalah pergi ke Vihara,
berdoa menghaturkan kasih dan persembahan ke Tuhan dan leluhur. Juga
tidak lupa bersedekah. Prinsip di sini yaitu adat dijalankan, soal pesta
nomor dua.
Imlek 2561 dilambangkan dengan shio Macan (Harimau) Demikianlah IMLEK
2561 ini sangat Istimewa karena bersimbul MACAN dimana majapahit juga
bersimbul MACAN PUTIH, Perayaan IMLEK kali ini sudah dipersiapkan dengan
Matang, Para Suhu / Sianshe / Biksu Sudah membuat membuat persiapan
untuk mengatur Acara IMLEK MACAN RATU EMAS KEMBAR yang untuk mengulangi
bisa makan waktu 300 tahun lebih. Karena unsur Kayu, Logam, Air, Tanah,
Api / HO SWE MUK CING THO 5 unsur x 12 Shio tiap 60 tahun baru ada
muncul Shio macan 1 Unsur untuk kembali ke unsur Emas x 5 jadi yiap 300
tahun baru ada Macan Ratu Emas Kembar lagi.
Pada dasarnya shio apa pun pasti mengalami kendala, hanya ramalan itu
ada untuk mengingatkan kita agar berhati-hati dan sabar. Karena itu,
warga Tionghoa lebih mengutamakan sembahyang bersama keluarga. Terutama
kalau masih ada orang tua, berkumpul di rumah orang tua minta maaf dan
kemudian bersyukur dengan makan bersama.
Happy Chinese New Year!
Gong Xi Fa Cai (Mandarin) and Gong Hey Fat Choy (Cantonese).
Gong Xi is congratulations or respectfully wishing one joy.
Fa Cai is to become rich or to make money.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe