PAHLAWAN NASIONAL UNTUK TOKOH PRRI ?
Oleh:

Wisran Hadi
(http://wisran.vndv.com/16.pdf)

Mustahil itu bisa terjadi!

Bagaimana mungkin bisa diberikan gelar pahlawan nasional kepada tokoh-tokoh
PRRI ketika semua pikiran rakyat Sumatera Barat sampai hari ini masih menganggap bahwa pergolakan daerah yang disebut PRRI itu sebagai sebuah pemberontakan. Dari sisi
pemerintah pusat di Jakarta, memang pergolakan daerah seperti itu dianggap
pemberontakan. Tapi dari sisi Sumatera Barat sendiri, apakah PRRI juga dianggap pemberontakan? Bukankah kehadiran PRRI merupakan representasi keinginan rakyat Sumatera Barat terhadap sistem sentralistik Jakarta dan keinginan untuk membagi kue pembangunan dan kekuasaan antara daerah dan pusat berada dalam sebuah keseimbang yang adil? Bukankah pergolakan tersebut merupakan cetusan kehendak dari keinginan untuk mendapatkan otonomi daerah, agar masing-masing daerah dapat membenahi dirinya
menurut kemampuan yang ada di daerah tersebut?
Mungkin saat ini kita perlu kembali untuk mengkaji ulang tentang keberadaan
PRRI. Dua rezim terdahulu; Sukarno dan Suharto telah meluluh lantakkan keberadaan PRRI, baik secara fisik maupun politik, karena dianggap sebagai tandingan dari pemerintah pusat yang sah. Kedua rezim terikat dengan pengertian kata PRRI, tetapi tidak
memasuki esensi persoalan dengan lebih objektif.
Ketika seorang wartawan sekaligus sastrawan Soewardi Idris menulis berpuluh
cerita pendeknya tentang keterlibatannya dengan PRRI dan berpuluh eseinya tentang pergolakan daerah tersebut, mungkin kita tersentak membacanya. Sampai akhirnya kita dapat menemukan berbagai hal yang penting untuk keberadaan kita hari ini. Bahwa, pergolakan daerah yang merebak dan meletus begitu cepat dan padam begitu cepat pula,
perlu mendapat apresiasi yang wajar.
Mungkin saja para tokoh PRRI masih terbelenggu dengan tudingan bahwa mereka
adalah “pemberontak”, tetapi dari hari ke hari bahwa apa yang diperjuangkan para tokoh itu untuk mendapatkan otonomi daerah, untuk mendapatkan perlakuan yang pantas dan seimbang bagi setiap daerah di wilayah NKRI kian terasa dan nyata. Apakah kita begitu teganya menghapus apa yang diperjuangkan para tokoh itu beserta rakyat Sumatera Barat
dipinggirkan begitu saja, dihapus, tidak diapa siapakan lagi.
Sebagai sebuah mata rantai dari sejarah kebangsaan, peristiwa pergolakan daerah yang dimotori oleh PRRI tidak perlu disembunyikan. Jika pengkhiatan PKI terhadap republik ini makin hari makin dimaafkan, lalu kalau kita boleh membanding, seberapa benarlah “dosa” PRRI terhadap negeri ini dibanding dengan pengkhianatan partai komunis
itu?
Sampai saat ini, baik pemerintah daerah mapun tokoh-tokoh politik selalu
menghindar bila bicara hal-hal yang telah lalu. Masalah PDRI dan masalah PRRI samasama dianggap sebagai “masa lalu” yang tidak perlu diungkit lagi, karena dianggap dapat menggelisahkan kedudukan beberapa tokoh-tokoh. Begitupun tokoh-tokoh PRRI, yang tentunya mereka sudah banyak yang meninggal, tua renta, juga tidak dapat menjelaskan secara lebih gamblang kepada generasi berikutnya, kenapa mereka terlibat dalam “dosa”
yang tidak dapat diampuni itu?
Dalam konteks ini, posisi Soewardi Idris sebagai “pembawa berita” dan
“penyampai khabar” terhadap bagaimana kemelut itu dirasakan, dialami oleh rakyat Sumatera Barat sangatlah penting. Dua bukunya yang diluncurkan oleh TVRI Sumbar 15
Februari 2008; Kumpulan cerpen PERGOLAKAN DAERAH dan setumpuk esei tentang
pergolakan daerah itu PERJALANAN DALAM KELAM adalah sesuatu yang dapat
disebut sebagai “catatan kebudayaan” dari perjalanan sejarah bangsa ini.
Tapi benar juga, sedangkan pergolakan daerah yang telah begitu banyak memakan korban nyawa dan harta benda tidak mendapat perhatian yang layak dari generasi hari ini, apalagi Soewardi Idris-nya. Begitulah sifat kita yang kurang terpuji. Kekalahan PRRI dianggap pemberontakan. Bagaimana sekiranya PRRI menang? Mungkin jika PRRI itu menang, akan berbondong-bondong pula rakyat Sumatera Barat ini mengusung tokohtokohnya
untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Memang, tidak ada tokoh yang kalah dibuatkan sejarahnya. Artinya sejarah
kekalahan termasuk “aib” dari sebuah masyarakat yang sombong. Tapi bagaimana pula dengan Imam Bonjol yang ditangkap Belanda, yang dituduh pula oleh Belanda sebagai pengacau, pemberontak? Imam Bonjol kalah dari Belanda, namun dia dipandang terbalik oleh bangsa Indonesia; dia pahlawan. PRRI kalah oleh pemerintah pusat, lalu apakah rakyat Sumatera Barat berani memandangnya terbalik sebagaimana mereka memandang Imam Bonjol; bahwa PRRI telah berjuang untuk mencegah munculnya pemerintahan yang otoriter; bahwa PRRI telah berusaha untuk mendapatkan otonomi daerah dan setelah
berjarak 50 tahun barulah otonomi itu dapat dilaksanakan sedikit-sedikit?
Walau sudah 50 tahun peristiwa PRRI itu berlalu, namun kita tetap kehilangan
nyali untuk memberikan apresiasi. Akankah kita, masyarakat Sumatera Barat ini, terus
menjadi orang-orang yang tidak mampu lagi untuk berterima kasih? **
Catatan tambahan dari Admin:
Bagi yang ingin menyampaikan pendapat tentang PRRI semacam tulisan di atas, silakan
kirimkan email ke: [email protected]
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama ===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke