Tari Syarikaik, Berkumpul Maka Bersengketa 

JAKARTA, KOMPAS.com - Lima penari berkostum putih dengan celana galembong, 
seorang di antaranya pria yang bertelanjang dada, bertemu di satu titik. Mereka 
memulai aksi seperti main randai, teater tradisional di Minangkabau. Dengan 
gerak pencak silatnya yang cekatan, mereka membuktikan bahwa masyarakat 
Minangkabau di Sumatera Barat, sangat menguasai seni bela diri asli Indonesia 
yang diduga lahir dari Sumatera Barat itu.

click to enlarge 

Demikian awal gerakan Tari Syarikaik karya koreografer terkemuka Ery Mefri, 
dari Nan Jombang Dance Company, Padang, saat pentas Minggu (14/2/2020) malam di 
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta.

Penampilan tari Minang kontemporer itu dipentaskan Yayasan Kelola, Jakarta, di 
hadapan para tamu yang terdiri dari kalangan produser, direktur festival, dan 
presenter dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. "Kalau mereka tertarik dan 
ingin mengetahui lebih jauh, mungkin ada peluang tari Minang kontemporer pentas 
di Amerika Serikat," kata Ery Mefri.

Ery Mefri merupakan salah seorang koreografer terkemuka Indonesia, yang sudah 
lebih 25 tahun berkarya tanpa henti. Karya-karyanya selalu mendapat sambutan 
luas. Setelah sukses tampil di Indonesian Performing Arts Market 2009 , di 
Solo, yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, karya lain Ery, 
Rantau Berbisik; Warung Nasi Padang , telah pentas di Espalanade Theater, 
Singapura. Kemudian, Maret 2010 ini, mewakili Indonesia pentas di Tokyo 
Performing Arts Market 2010. Ery juga sudah mengantungi undangan tampil di 
festival tari dunia di Essen Mulhein, Berlin, Australia, dan London sampai 2011.

Pada tarian Syarikaik yang ditampilkan semalam di TIM, Ery mengritik kondisi 
kekinian di Indonesia. Syarikaik di Minangkabau merupakan kelompok komunitas. 
Syarikaik dulunya adalah tempat menyelesaikan masyarakat secara musyawarah dan 
mufakat, serta menghidupkan silaturrahim.

Perubahan zaman terjadi, sehingga peran dan fungsi Syarikaik kini tidak seperti 
dulu lagi. Sekarang sudah ada intervensi baik oleh pemerintah atau kepentingan 
lain, sehingga keberadaan Syarikaik menjadi bibit sengketa. Kebersamaan mulai 
luntur, sehingga yang dominan adalah semakin menguatnya individualistis.

"Di banyak daerah di Indonesia, kondisi seperti ini terjadi. Sudah berkumpul 
maka mereka bersengketa. Mestinya mereka berkumpul itu bisa menyelesaikan suatu 
persoalan. Bukan membuat persoalan baru," papar Ery Mefri.

Tarian Syarikaik yang berdurasi sekitar 45 menit itu, bercerita dengan sangat 
jelas dan tegas tentang situasi dan kondisi kekinian di Tanah Air itu, meski 
mengambil adagium atau kearifan lokal Minangkabau, yang dikenal sebagai daerah 
yang budaya demokratisnya sangat kuat. Bahkan Gus Dur (alm) ketika menjadi 
Presiden pernah mengatakan bahwa demokrasi lahir dari Ranah Minangkabau, 
Sumatera Barat.

Yang menarik dari tari Syarikaik karya Ery Mefri ini adalah, Ery tidak 
menggunakan musik secara artifisial, tetapi musik dimainkan penari dengan 
suara, tepukan tangan, hentak kaki, dan tepukan galembong.

Ery Mefri mengakui, musik adalah nafas dari karya tari. Akan tetapi, yang 
membedakan dengan koreografer lain, Ery menyalurkannya melalui penari. Setiap 
produksi, alat-alat musik berusaha dikurangi dan digunakan seminimal mungkin. 
"Karena bagi saya teriakan kesakitan tak mungkin disuarakan melalui alat musik, 
kecuali oleh para penari," katanya. (Yurnaldi)

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke