Kalau di baco-baco, tagalak-galak sengeang se membandingkan situasi politik
Indonesia tahun 1996 jo kini, beberapa nan tasabuik namonyo di bawah, alah
ma apik kapalo harimau kini....ha...ha... (Paguno juo pepatah di palanta RN
ko)


Salam


andiko sutan mancayo



From: John MacDougall
<[email protected]<[email protected]?subject=re:%20IN:%20RPK%20-%20Syarwan:%20Kekuatan%20Mereka?&in-reply-to=%[email protected]%3e>>

Received: (from apaka...@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id
TAA19008; Mon, 30 Dec 1996 19:45:47 -0500 (EST)
Subject: IN: RPK - Syarwan: Kekuatan Mereka? Tak Ada

 [Republika Online] [Image]

                                  [Image]

                          Minggu, 29 Desember 1996

 Kassospol ABRI Letjen TNI Syarwan Hamid: Kekuatan Mereka Sekarang sudah
 tak Ada!

 Sebagai pelengkap catatan akhir tahun, Republika meminta Kassospol ABRI
 Letjen TNI Syarwan Hamid memberikan refleksi kehidupan sosial politik
 tahun 1996 -- tahun yang menurut banyak pihak ditandai dengan suhu dan
 dinamika politik nasional sangat tinggi.

 Wawancara dengan pria asal Riau ini berlangsung di Mabes ABRI jalan
 Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (23/12). Wawancara berlangsung satu
 setengah jam (07.15 - 08.45), didampingi hidangan menu pagi Kassospol hari
 itu (teh manis, goreng singkong, pisang, bakwan). Juga hadir pada sebagian
 waktu wawancara, Asyawan Kassospol ABRI Mayjen TNI Slamet Sugiardjo.

 Pewawancara dari Republika: Nasihin Masha, Purwadi Tjitrawiata, Hersubeno
 Arief, Arys Hilman, dan fotografer Teguh Indra. Dalam wawancara itu juga
 hadir wartawan Gatra. Berikut petikan wawancara:

 Awal 1996 Anda mengatakan adanya penyusunan kekuatan antikemapanan.
 Bagaimana Anda melihat keadaannya saat ini?
 Peluang mereka saat ini sudah tidak ada. Mereka mau menggunakan apa?
 Kekuatan-kekuatan mereka sudah terdeteksi semua. Saat ini mereka
 bersembunyi. Kalaupun ingin bersuara, mereka menumpang orang lain.

 Bisakah dikatakan klimaks dari gerakan tersebut adalah kasus 27 Juli?
 Kasus itu akumulasi dari macam-macam konflik. Ada ini, ada itu. Kelompok
 seperti PRD adalah salah satu yang menumpang dalam situasi itu. Tapi yang
 lebih tepat, insiden 27 Juli itu adalah antiklimaks. Karena setelah itu
 mereka cooling down.

 Apakah hanya kelompok-kelompok seperti PRD saja yang mampu menggerakkan
 massa. Soalnya seperti kejadian di Purwakarta, ternyata massa juga bisa
 ...
 Ya tapi itu kan massa spontan. Kalau yang terorganisasi itu ndak banyak.
 Kalau massa spontan itu biasanya lebih mudah cair. Bila kasusnya sudah
 ditangani, ya tak akan terjadi apa-apa. Ini berbeda dengan gerakan yang
 punya tujuan secara konsepsional. Insiden-insiden itu bagi mereka hanya
 sasaran antara. Itu semua dijadikan alat untuk menimbulkan simpati.
 Sasaran lebih jauhnya ada.

 Misalnya saja, PRD. Mereka itu, seperti terbaca lewat manifestonya,
 menginginkan susunan masyarakat berdasarkan demokrasi kerakyatan.
 Pancasila tidak masuk di sana. Itu tujuan mereka. Dan sebelum tujuan itu
 tercapai, kejadian apapun di masyarakat akan mereka manfaatkan.

 Ada pendapat bahwa PRD itu hanya semacam titik masuk bagi militer, dan
 bahwa sebenarnya ada persoalan lain yang lebih besar yang dituju militer?
 Apa misalnya?

 Misalnya apakah militer hanya ingin mengejar anak-anak muda itu, atau
 ingin menghancurkan penyusunan kekuatan yang disebut-sebut sebagai
 'aliansi pelangi'-nya PRD?
 Sementara ini, hanya itu. Tak ada lagi. Kalau ada yang besar seperti yang
 Anda katakan itu, kita tak tahu.

 Ada analisis soal peristiwa 27 Juli bahwa pemerintah sekali tepuk dapat
 dua: PDI kena; sementara persoalan tidak di PDI lagi, tapi beralih ke PRD?
 Orang bisa saja menganalisis. Tapi bagi kita, lihat sisi positifnya. Mau
 sekali tepuk tiga malah bagus, hemat energi. Saya melihat itu semacam
 blessing in disguise (rahmat di balik petaka -- red).

 Dengan kejadian itu akhirnya PRD, walaupun saya bilang kecil,
 memperlihatkan sosok yang lebih jelas dari dinamika sebelumnya. Gambaran
 mengenai mereka menjadi lengkap sekali. Unjuk rasa yang mereka kembangkan
 punya ciri-ciri khas. Tidak sekadar tuntutan sesaat, tapi selalu
 berkembang. Itu karena mereka punya konsep.

 Mereka juga menyebarkan selebaran-selebaran yang isinya membangun opini
 tentang apa yang terjadi pada tahun 1965. Mereka bilang, dua juta rakyat
 dibantai saat itu. Selebaran-selebaran semacam itu kami dapati banyak
 sekali menjelang kasus 27 Juli. Opini-opini semacam itu akan menimbulkan
 antipati, dendam.

 Selain itu ada banyak pula buku-buku yang beredar yang ingin mengubah
 citra tentang PKI seperti yang telah diceritakan selama ini. Coba baca
 bukunya Haryo Ketjik, Oei Tjoe Tat, statemen-statemen Pramudya [Ananta
 Toer].

 Untungnya masih hidup orang-orang seperti Pak Muchtar Lubis, Taufik
 Ismail, yang dulu yang menjadi korban [PKI]. Mereka membantah.

 Namun sasaran kelompok-kelompok itu sebenarnya generasi yang tumbuh dengan
 keawaman terhadap kejadian itu. Mereka itu yang mungkin lama-lama bisa
 mulai ragu-ragu dengan kisah mengenai PKI selama ini.

 Dengan gambaran itu Anda ingin memberikan semacam bantahan bahwa ABRI
 terlalu membesar-besarkan persoalan PRD?
 Besar-kecil itu relatif. Itu tergantung kita mengukurnya dengan apa?
 Misalnya saja, walau secara kuantitas banyak, kriminalitas di Indonesia
 itu mungkin belum bisa dianggap besar.

 Sebaliknya dalam hal ini, walau jumlahnya kecil, tapi karena
 orang-orangnya punya konsep mengubah tatanan ke arah tatanan yang tidak
 cocok dengan tatanan kita, itu bisa dianggap ancaman. Karena kalau mereka
 berhasil, mereka akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan ini. Mereka ini
 kan ingin merombak sistem? Dan orang yang punya konsep takkan pernah
 berhenti. Dia pasti akan berusaha agar konsep itu berjalan. Bagi dia,
 pertanyaannya adalah bagaimana membangun kekuatan agar konsep itu
 terwujud.

 Sejarah telah membuktikan itu. Lihat saja dulu sebelum merdeka ada seorang
 Snevliet (orang Belanda yang mendirikan organisasi ISDV -- red). Dia masuk
 ke Syarikat Islam (SI), sehingga SI pecah jadi SI Merah, yang akhirnya
 tahun 20 menjadi berhaluan komunis. Tahun 26 mereka sempat memberontak.

 Lalu Muso yang dari Uni Sovyet membangun kekuatan juga, sampai pada 1948
 ia dengan teman-temannya memberontak. Itu ditumpas. Tapi muncul DN Aidit
 membangun kembali PKI yang waktu itu hitungannya tinggal lima ribu.

 Mereka membangun kekuatan terus. Bagaimana mereka membangun memang
 macam-macam, sampai akhirnya berhasil membuat Bung Karno mengeluarkan
 konsep Nasakom. Bagi mereka itu payung untuk legitimasi kehadiran mereka.
 Dengan konsep Nasakom, mereka punya legitimasi. Di desa pun, kalau tidak
 ada 'kom'-nya dianggap tak benar.

 Sampai 1965, hitungan kuantitas PKI mencapai 23 juta orang -- bukan kader
 tapi massa. Di ABRI pun dia berhasil menyusup. Untung misalnya. Mereka
 merasa kuat, tapi kemudian ditumpas lagi. Mereka membuat basis kembali di
 Merapi, di Blitar Selatan.

 Mereka masih bergerak terus, karena kadernya kan tidak habis? Mungkin
 dalam bentuk yang minimal sekali: OTB (Organisasi Tanpa Bentuk). Istilah
 OTB dari mereka, bukan dari kita.

 Cara bergerak mereka beragam. Kalau satu orang bagaimana, kalau dua orang
 ada model belati. Kalau tiga orang ada model segitiga pemutus. Itu
 ditemukan oleh Pak Tambunan. Waktu itu dia Pangdam di Manado. Ia
 mempelajari bagaimana menemukan jaring-jaring. Dia yang mengajarkan saya
 ketika di Bogor, tahun 1975. Secara khusus, dalam waktu empat bulan, ia
 mengajarkan bagaimana melacak gerakan di bawah tanah.

 Dari mana Pak Tambunan mendapatkan data?
 Dia termasuk orang yang rajin. Dia menemukan itu. Misalnya bila kita
 menemukan 'orang mereka', jangan melakukan interogasi jalur cepat. Pertama
 yang ditanyakan adalah "kapan kontakmu berikut?". Itu ditanyakan sampai
 dia mengaku. Itu penting karena mereka punya ketentuan bahwa bila pada
 kontak berikutnya salah seorang tidak ada, berarti ada satu yang
 tertangkap. Karena itu, sel mereka pecah.

 Jadi pertanyaan pertama adalah, kapan kontak berikut. Kalau jamnya masih
 di depan, kita bisa menangkap kelompok sel itu. Tapi kalau sudah lewat
 jamnya, pecah sel itu.

 Dalam pengadilan kasus PRD itu sendiri digunakan pasal anti-subversi yang
 banyak dikritik orang...
 Saya bukan orang yang diberi kewenangan menggunakan undang-undang itu. Itu
 untuk penegak hukum. Tapi Anda lihat penggunaan UU Antisuversi itu selama
 ini selektif sekali. Hanya untuk beberapa kasus khusus. Tapi selama belum
 ada yang lain, itu masih kita gunakan.

 Betapapun itu akan terus mengundang reaksi?
 Kalau Anda harus memilih antara melihat negara ini bubar atau melihat
 sekelompok orang dihukum, Anda pilih yang mana? Saya yakin kita semua akan
 berpikir tentang keselamatan negara lebih dulu.

 Tentu saja kita ingin yang enak-enak saja. Tapi kalau sudah terpaksa, ya
 kita akan gunakan secara selektif. Orang-orang itu memang sudah susah
 sekali berubah cara pandangnya.

 Cobalah diskusi dengan mereka. Saya pernah diskusi dengan Andi Arief
 (Ketua Umum SMID), sebelum Insiden 27 Juli. Saya pernah tanya bagaimana
 SMID. Waktu itu sedang berkembang cerita-cerita tentang kiri baru (new
 left).

 Mereka menjawab, "Kami menganggap sistem yang ada ini takkan mampu
 menyejahterakan negara. Karenanya bagi kami, sistem ini harus dibongkar
 dulu." Saya tanya, "Lalu bagaimana nanti negara ini akan dibangun?"
 Dijawab, "Akan ada dengan sendirinya secara alami." Ada Pak Amien Rais di
 situ, ada Pak Dasron Hamid, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

 Kata saya, "Kalau begitu pikiranmu, kamu lebih buruk dari PKI, kamu
 bermain dengan nasib bangsa. PKI saja masih punya konsep. Kamu ndak." Tapi
 sebenarnya saya yakin dia punya konsep, yang waktu itu dia tak mau sebut.
 Akhirnya itu terlihat dalam PRD, di mana SMID menjadi salah satu
 onderbouw-nya. Dia bilang waktu itu, "Motto kami hanya satu: perlawanan
 untuk perubahan." Itu sudah setahun lalu saya tahu.

 Kalau kita lihat secara jernih kehidupan politik saat ini, Anda lihat ada
 progress dalam semua hal. Bahwa ada kekurangan, ya, karena pertumbuhan
 selalu menghasilkan kesenjangan. Tapi bukankah kehidupan politik kita
 bertambah baik?
 Rumah bangsa ini sebenarnya sudah terbangun dengan landasan Pancasila dan
 UUD 1945. Kalau memang ada kekurangan bukan berarti rumahnya yang
 dibongkar. Kekurangannya kita perbaiki, tapi bangunannya mesti
 dipertahankan. Kalau Anda bongkar lagi, rumah yang baru belum jelas kayak
 apa. Kerjanya hanya bongkar pasang. Yang sengsara pasti rakyat.

 Kalau memang ada indikasi bahwa PRD itu memang komunis, mengapa itu tak
 muncul di pengadilan?
 Begini, kalau empat itu tak mesti kita bilang empat. Bisa satu. Tambah
 satu, tambah satu lagi, tambah satu lagi akhirnya kan empat. Apa mesti
 kita bilang empat?

 Sejumlah tokoh mereka kini dalam tahanan. Apakah, menurut Anda, kekuatan
 lainnya masih ada?
 Di belakang mereka, ada lapisan lainnya. Jadi mereka tidak datang
 tiba-tiba. Pasti hasil binaan. Mereka tak pernah berhenti membangun
 kekuatan.

 Berarti ada semacam mentor
 Dugaannya begini. Di PRD, Budiman kan baru? Sebelumnya ada, orang dari
 Sangir Talaud (Syarwan kemudian menyebut nama). Dulu dia punya jabatan,
 saat nama mereka masih Persatuan Rakyat Demokrasi. Orang ini pernah di
 Kuba dua tahun; di Filipina satu bulan; mungkin belajar dengan guerilla
 expert NPA (sayap militer komunis Filipina -- red).

 Kerja mereka dalam rantai-rantai. Kalau dilacak terus pasti ketemu apa
 muatan awalnya. Namun untuk mencapai itu memang tak mudah. Mereka kan
 selalu menggunakan penghubung. Semakin pintar, semakin panjang
 penghubungnya. Kalau Budiman, dia bukan kader hebat. Dia cacing cau (pion
 -- red) saja.

 Kontak-kontak perorangan mereka kan belum 'diambil' oleh ABRI. Itu kan
 punya potensi untuk melakukan gerakan-gerakan serupa?
 Kita harus bicara soal prosedur hukum. Orang tak bisa 'diambil' begitu
 saja. Kalau kita bicara dugaan, mudah saja. Tapi kalau sudah pada tahap
 'mengambil', harus jelas prosedur hukumnya. Budiman saja baru diambil
 setelah kasus 27 Juli. Jadi itulah, saya rasa peristiwa itu merupakan
 blessing in disguise. Mereka mungkin terlalu percaya diri, sehingga muncul
 dengan terang-terangan.

 Dita (Sekjen PPBI) misalnya, begitu jelas sekali membicarakan siapa
 mereka. Dalam catatan hariannya, dia mengomentari PRD, "Setelah 31 tahun,
 bangkit kembali ..." Itu apa maknanya? Asosiasinya jelas sekali, pasti
 PKI. Tapi kita juga tak bisa bertindak begitu saja. Harus selektif.

 Bahwa masih ada tokoh-tokoh yang terlibat bebas berkeliaran, itu merupakan
 indikator tindakan yang selektif tadi?
 Kalau dibiarkan, tidak mungkin. Tapi ada banyak pertimbangan. Bisa juga
 secara teknik dilepas, namun sebenarnya kita ingin lihat kontak dia siapa.
 Jadi dalam operasi intelijen, tidak selalu orang ditangkap.

 Kembali ke soal kelompok-kelompok yang tidak puas. Bisakah Anda
 klasifikasikan?
 Secara terbuka tidak bisa. Kita melihat saja kadar-kadar. Secara umum
 tidak puas kan tidak bisa kita salahkan? Orang tidak puas tidak salah.
 Tapi ada yang tidak puas, namun ketidakpuasannya menjadi permanen. Ada
 pula yang menginginkan perubahan, tapi tetap dalam sistem. Sementara ada
 yang bergerak di luar sistem, radikal.

 Selain PRD, yang di luar sistem ada yang lain?
 Kita tidak bisa hitam putih. Meskipun menunjukkan gejala-gejala yang
 mirip, apa yang ada di benak dia kita kan tidak tahu?

 Tentang keadaan politik dan keamanan kita selama 1996 ini, bagaimana
 pandangan Anda?
 Saya melihat, 1996 adalah tahun penuh dinamika. Secara positif kita
 melihatnya sebagai bagian demokrasi. Dinamika itu tidak akan muncul
 seandainya tidak dimungkinkan oleh peluang-peluang yang ada.

 Secara makro dinamika itu masih dalam batas-batas yang wajar. Meskipun
 dengan prihatin kita juga melihat bahwa saat diberi peluang, mereka yang
 semula dilarang kini ingin hidup kembali. Jadi ke depan, perkembangan ini
 harus selalu diamati. Kita jangan hanya bicara memberi peluang, namun tak
 pernah memperhatikan risikonya.

 Jadi kita perlu senantiasa waspada. Jangan terlalu terpukau hanya oleh
 kebebasan. Karena apa yang kita alami menunjukkan, begitu kebebasan
 diberikan, ada pihak-pihak yang melihatnya sebagai peluang untuk bisa
 muncul kembali dengan kemasan-kemasan populer seperti masaah HAM dan
 kesenjangan. Selalu begitu. Mereka tak mungkin muncul dengan tema-tema
 yang melawan arus.

 Itu tak mudah kita simak. Karena mereka berjalan dalam gendang-gendang.
 Kita baru bisa memahaminya bila kita melihat dengan hati-hati, cermat.
 Saya cepat melihat. Anda mungkin kurang cepat. Apalagi yang lain, pengamat
 awam, lebih kurang cepat lagi.

 Jadi jangan apriori kalau saya -- saya ABRI -- menuduh ini itu. Tak ada
 gunanya sembarang menuduh. Salah-salah kita tak disukai orang. Sebenarnya
 secara pribadi saya nggak suka, nggak enak. Tapi kalau itu dalam rangka
 memperjuangkan kepentingan yang lebih besar, bagi saya nggak ada masalah.
 Kalaupun untuk itu saya dituntut di sana-sini, itu kecil. Karena
 taruhannya besar.

 Tentang prospek politik 1997, kita melihat persaingan semakin keras karena
 ada pemilu. Bagaimana perhitungan ABRI?
 Persaingan keras apanya? Biasa. Menurut saya takkan sampai jadi crowded.
 Masih tetap dalam aturan.

 Jadi takkan sampai berdarah-darah seperti Insiden 27 Juli?
 Ndak.

 Wanhankamnas sudah mengeluarkan pernyataan tentang kampanye dengan porsi
 sama, di TVRI dsb. ABRI sendiri, meskipun dalam konstitusi netral, kan
 mempunyai hubungan historis dengan Golkar. Bagaimana ABRI akan
 menyesuaikan diri?
 Dari awal saya selalu menyampaikan bahwa pemilu harus lebih bagus,
 berkualitas. Indikator kualitas adalah bila pemilu berjalan sesuai aturan.
 Kalau kita melihat keadaan sekarang, ya lumayanlah. Pada pemilu yang lalu,
 baru tahap pendaftaran pemilih saja sudah ndak karuan. Sekarang, dalam
 pendaftaran pemilih, begitu ada kekeliruan, langsung diperbaiki.

 Jadi dibanding pemilu sebelumnya sekarang lebih baik?
 Ya begitu. Ini soal tahapannya dulu. Nanti kampanye kita lihat. Sekarang
 aturan sudah disampaikan, agar semua pihak bertindak seobjektif mungkin.
 Nanti misalnya kita akan pantau per-pulau, apakah masing-masing OPP
 memiliki kesempatan sama. Jadi akan ketahuan apakah saat PDI seharusnya
 kampanye, kesempatan itu memang diisi mereka dan bukan oleh Golkar. lalu
 ada pula kampanye dialogis. Melalui cara itu, diharapkan ada kedalaman
 kampanye.

 Tapi banyak pemain-pemain yang tak masuk dalam OPP. Tidakkah mereka akan
 memanfaatkan keadaan?
 Di daerah sudah ada daftar mereka yang nakal-nakal. Dari sekarang sudah
 ada. Dulu karena merasa pandai, mereka merasa takkan terdeteksi. Ya, satu
 dua kali tak terdeteksi bisa saja. Tapi tak bisa tak terdeteksi terus.
 Dalam ABRI saja punya trouble maker. Kalau ada apa-apa, biasanya yang
 membuat ulah orangnya itu-itu juga.

 Kembali soal ABRI menempatkan diri dalam pemilu. Wanhankamnas memberikan
 formula semua OPP diberi porsi yang sama. Bagaimana sikap ABRI?
 Aturannya sudah dibicarakan bersama. Bila ada kelompok yang merasa
 kepentingannya dirugikan, kita bisa merujuk pada aturan-aturan itu.

 Kalau aturannya sekarang minggu pertama di pulau ini, yang lain ndak bisa.
 Peraturannya sendiri sudah memperkecil peluang. Kalau toh secara manusiawi
 ingin menyalahgunakan, sudah ditangkal oleh aturan itu.

 Dalam fakta, meskipun mungkin ini kasuistis, penyimpangan terjadi.
 Tentu saja pasti akan ada juga pelanggaran. Di negara manapun pemilu penuh
 manipulasi. Namun kita berharap dengan aturan sistem pengawasan yang lebih
 terbuka, kontrolnya semakin tinggi. Karena itu kalau bicara kualitas,
 pemilu kali ini akan lebih bagus.

 Salah satu kesimpulan Yapusham pada 1996 ini, pelanggaran oleh aparat
 mencuat ...
 Saya tidak punya bahan pembanding: tahun sebelumnya berapa, sekarang
 berapa. Tapi bagi ABRI, setiap pelanggaran yang dilakukan aparat selalu
 dikaji. Misalnya yang menyangkut HAM, di Liquisa atau Timika. Juga kasus
 Situbondo, Bupati Aceh Tengah maupun Ujungpandang.

 Hasilnya bisa macam-macam. Ada yang dipenjara, dipecat. Itu diharapkan
 secara preventif membuat yang lainnya jadi lebih berhati-hati. Tapi yang
 penting kami mempelajari mengapa itu terjadi. Dari waktu ke waktu,
 dinamika itu kita pelajari untuk menyesuaikan diri. Supaya bisa mencegah
 kasus, atau meningkatkan kemampuan pembinaan.

 Kelompok Mega masih melakukan manuver, menentang DPP Soerjadi.
 Sebetulnya kelompok itu tidak besar. Secara kuantitatif kecil. Misalnya
 ada yang berkata, "Kayaknya Soerjadi ditentang di mana-mana."
 Persoalannya, di mana-mana itu di mana saja? Coba secara konkret jelaskan.
 Apakah Wonogiri representasi dari Jawa Tengah? Apakah Cianjur dan Bogor
 representasi dari Jawa Barat? Apalagi representasi dari Indonesia? Sebut
 di Aceh, ada ndak? di Sumut ada ndak? Juga di Riau, Sumbar, Sumsel,
 Kalimantan, Sulawesi, Maluku, ada ndak? Kalau bicara Indonesia, itu dari
 Sabang sampai Merauke. Jadi beberapa kejadian kecil sesungguhnya bukan
 representasi dari gambaran PDI. Ndak bisa itu didramatisasi, seolah-olah
 Soerjadi ditentang di mana-mana.

 Mereka yang beberapa orang ini, kalau bisa kita imbau ya kita imbau. Tapi
 kalau melakukan kesalahan, ditindak di lapangan. Apa sih kemungkinan
 terburuknya? Mungkin dia tidak ikut pemilu. Berapa orang jumlahnya dari
 100 juta orang lebih?

 Kemarin mereka menggembok rumah Soerjadi yang dijadikan kantor DPP PDI.
 Itu kriminal namanya. Kalau masih begitu modenya memperjuangkan ide, itu
 saya kira cara yang tak bermutu. Kalau ingin memperjuangkan yang benar,
 bikinlah catatan yang simpatik, bertarung kepemimpinan untuk periode yang
 akan datang, bukan terus ngotot pada periode ini. Pak Abdurahman Wahid
 juga omongannya patut disimak dalam kasus ini: "(Kasus PDI) melebar-lebar
 nggak karuan."

 Ada analisis yang perlu klarifikasi: mereka menyatakan diajari pemerintah,
 karena pemerintah mendudukkan Soerjadi
 Itu versi mereka. Mereka ngomong apapun, pokoknya yang penting nggak
 sejalan. Kalau yang seperti itu, sudah biasa didengar. Yang lebih jelek
 dari itu pun ada. Tapi apa mesti kita gubris semua? Yang penting
 legitimasi yang kita pakai. Ada patokan yang bisa kita pakai.

 Bukankah militer juga yang mendudukkan Mega dulu?
 Saya nggak ngomong begitu.

 Tak adakah pendekatan-pendekatan, agar mereka tak menggunakan cara-cara
 yang -- menggunakan istilah Anda -- tak bermutu itu?
 Apa sih maksudnya pendekatan itu? Supaya mereka jangan begitu? Apa mereka
 tak mengerti jangan begitu?

 Apakah mereka punya potensi untuk merusak pemilu?
 Tidak.

 ABRI yakin sekali pemilu akan mulus?
 Yakin seyakin-yakinnya. ABRI yakin berdasarkan hitungan, tahu persis di
 daerah itu seperti apa. Orang mengacau itu kan pasti ada kekuatannya, ada
 pembangunan kekuatannya. Sekarang mana kekuatannya? Katakanlah, paling
 buruk, ada pemberontakan. Apa bisa memberontak tiba-tiba. Membangun
 kekuatan itu perlu puluhan tahun. Baru kemarin saja PRD mau macam-macam
 kita sudah tahu. Walaupun dulu orang-orang ribut macam-macam: ABRI mau
 menutup kembali keterbukaan, ABRI mengada-ada, ABRI membuat musuh
 imajiner. Tapi saya tidak peduli, karena dengan mata pengalaman saya
 melihat. Bahwa Anda tak melihat, bisa dimengerti, lahirnya baru.
 Kalau ada gerakan besar, mau ada perombakan, harus ada people power-nya,
 grass root yang mendukung. Juga harus ada kekuatan yang terorganisasi
 bagus. Di Filipina, Ramos mendukung. Kuat sekali dia. PKI dulu ada Untung,
 tapi kecil dia. Dia over estimate, seolah-olah kalau di batalyon
 komandannya ikut, satu batalyon pun ikut. Tapi syarat-syarat Untung itu
 ada, Pemuda Rakyat misalnya. Yang seperti itu, ada nggak sekarang?  

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke