Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,Selama ini orientasi kita orang
Minangkabau terkesan sangat terikat dengan darat belaka, sehingga mengabaikan
potensi laut, yang bisa dipandang sebagai 'pusako tinggi' Minangkabau. Padahal,
seperti ditulis oleh Prof Dr Gusti Asnan, pesisir Barat Minangkabau juga
pernah jaya di laut, dalam perdagangan internasional sekitar abad ke 18 dan
19.Rasanya kita bisa mengembalikan kejayaan Minangkabau di laut.
Secara berkebetulan saya mengenal beberapa urang awak, yang justru 'besar di
laut', antara lain Capt Darul Makmur, dan -- tentu saja -- Inyiak Lako. Pak
etek saya Thamrin (almarhum) adalah kapten kapal. Ipar saya Ismet Hermet dan
kemenakan saya Timoer Indra Prasta juga pernah berkiprah di laut. Seorang
keluarga dari isteri saya sekarang juga jadi kapten kapal. Dahulu di Teluk
Bayur pernah ada galangan kapal. Sekarang kita
tahu bahwa Bungus juga dirancang sebagai pelabuhan ikan. Rupanya Lautan
Hindia di depan pantai Sumatera Barat sangat kaya dengan ikan tuna, yang
sekarang sudah diekspor dengan pesawat Cardig Air. Bp Ir Ermansyah Yamin Dt
Tanmapiluti -- yang memperoleh pendidikan di Jepang -- bahkan sudah melakukan
uji coba ekspor cumi-cumi dan octopus. Bukan main.Adalah alamiah, bahwa dalam
berbincang-bincang di SC KKM 2010 berkembang gagasan kuat untuk mendayagunakan
potensi laut ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt, dengan
menjadikannya sebagai lahan baru untuk lapangan kerja kaum muda. Dalam hubungan
ini ada hasrat untuk mendirikan sebuah akademi maritim, bekerjasama dengan
perguruan tinggi yang sudah ada.Ternyata, permintaan untuk anak buah kapal
(ABK) sangat tinggi, sehingga rasanya tak akan cukup terpenuhi.Bagaimana
pendapat sanak sekalian ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
Pesawat Cardig Air Ekspor Ikan Tuna
Kompas, Jumat, 5 Maret 2010 | 04:04 WIB
Padang, Kompas - Potensi ekspor tuna segar melalui sarana
kargo di Padang, Sumatera Barat, tergolong besar. Sejak April 2009, pesawat
kargo Cardig Air telah mengekspor tuna segar ke Jepang hingga 408.000 kilogram.
CEO PT Cardig Air Boyke Soebroto di Padang, Rabu (3/3),
mengemukakan, potensi ekspor tuna dari Padang terhitung potensial karena waktu
tempuh dari pabrik pengolahan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus ke
Bandar Udara Minangkabau hanya satu jam.
”Sarana infrastruktur transportasi di Padang tergolong
memadai. Ini mendorong ekspor langsung tuna segar ke negara tujuan,” ujarnya.
Sarana infrastruktur transportasi di Padang paling baik
dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Pesawat kargo membutuhkan
jaminan barang sampai tepat waktu di negara tujuan.
Oleh karena itu, diperlukan efisiensi waktu untuk proses
pengolahan, distribusi, ataupun volume pasokan barang secara kontinu. Dengan
ketepatan waktu, kualitas ikan terjamin.
Pengiriman produk perikanan membutuhkan ruang bagasi khusus
di pesawat yang hanya bisa disediakan oleh pesawat kargo. Hal itu disebabkan
pesawat penumpang hanya mampu mengangkut barang maksimum 3-4 ton.
Ia menambahkan, kebutuhan tuna segar di pasar internasional
tergolong tinggi. Setiap minggu, pihaknya mengirim ikan tuna segar ke Jepang
dengan pesawat Boeing 737 rata-rata sebanyak 11 ton. Ikan yang dikirim berupa
ikan utuh, dengan isi perut yang sudah dikeluarkan.
Kapasitas kargo tersebut mampu mengangkut ikan sebanyak 17
ton dalam setiap penerbangan. Sementara kemampuan ekspor ikan tuna melalui
kargo baru sebanyak 11 ton.
Minim kapal
Meskipun Padang berpotensi untuk ekspor tuna segar, volume
pasokan ikan tuna di PPS Bungus hingga kini belum berkembang.
Padahal, PPS Bungus melayani kapal-kapal besar berukuran di
atas 30 gross ton (GT) dengan daya jelajah hingga ke zona ekonomi eksklusif
Indonesia.
Ibrahim, petugas di PPS Bungus, mengemukakan, kapal
berkapasitas di atas 30 GT yang sandar di pelabuhan itu hanya 60 unit. Semua
kapal itu dimiliki oleh pengusaha dari luar Padang. Minimnya jumlah kapal di
pelabuhan itu membuat serapan bahan bakar minyak bersubsidi menjadi tidak
optimal, yakni kurang dari 100 ton per bulan.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad
mengemukakan, pihaknya meresmikan stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN)
hari Kamis kemarin.
Pendirian SPBN, ujar Fadel Muhammad, dimaksudkan untuk
merangsang kapal-kapal besar agar bisa sandar di pelabuhan dan mendaratkan ikan
untuk diolah di pabrik yang berlokasi di pelabuhan itu. (LKT)
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe