Maaflah sanjo baru takana mam-posting!
Tapek hari ko salah satu Urang Awaknan manjadi Urang Gadang d jamannyo laia.
Sangaikpatuik rasonyo awak mangenang perjuangan beliau ko yang membuahkan
kemerdekaan Indonesia. Ko lah salah satu urang awak nan lah babuek batando
gores di negara tacinto ko. Moga2 wak bisa maikuiki dan malanjuikan langkah
baliau..aamiinn
Jumat, 5 Maret 2010 | 04:40 WIB
(KOMPAS)
Perdana Menteri Republik Indonesia pertama
(November 1945-Juni 1947), Sutan Sjahrir, lahir di Padang Panjang,
Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Selama setahun sejak peringatan Seratus
Tahun Sjahrir pada 5 Maret 2009, serangkaian acara diselenggarakan—baik
di Jakarta maupun di beberapa daerah—dalam bentuk seminar, pameran
foto, maupun malam peringatan.
Semuanya itu bermuara pada hari
ini, 5 Maret 2010, bertepatan dengan 101 tahun Sutan Sjahrir, dengan
diluncurkannya dua buku tentang Bung Sjahrir dalam suatu acara untuk
para undangan. Buku pertama adalah terbitan baru berjudul Sutan
Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan/True Democrat, Fighter
for Humanity; 1909-1966. Buku ini unik karena diterbitkan dalam dua
bahasa (Indonesia dan Inggris) yang memuat tulisan esai biografis oleh
wartawan senior Rosihan Anwar (87) dengan kata pengantar oleh Ignas
Kleden.
Seratus foto tentang perjalanan hidup Sutan Sjahrir sejak
ia di besarkan di kota Medan sampai dimakamkan di Taman Pahlawan,
Kalibata, Jakarta Selatan, menunjang dua tulisan tersebut. Buku kedua
(tebalnya hampir 500 halaman!) sebenarnya merupakan cetak ulang dari
buku Mengenang Sjahrir yang diterbitkan pada awal 1980, sehubungan
dengan peringatan 14 tahun meninggalnya Sjahrir pada 9 April 1966 di
Zurich saat masih sebagai tahanan politik rezim Presiden Soekarno.
Buku
itu (editor Rosihan Anwar; kata pendahuluan oleh Soedjatmoko) memuat
sumbangan tulisan dari sejumlah besar tokoh di dalam dan di luar negeri
yang pernah bekerja sama atau pernah mengenal Sjahrir. Cetak ulang ini
menjadi tebal karena ditambahkan dengan beberapa tulisan oleh peserta
dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan di gedung Kompas, 2 Maret
2009, untuk memperingati Seratus Tahun Sutan Sjahrir. Cetak ulang ini
atas dorongan Jakob Oetama dan St Sularto yang menulis 100 Tahun
Sjahrir: Inspirator untuk Bangsanya.
Buku Sutan Sjahrir, Demokrat
Sejati, Pejuang Kemanusiaan dikonsepsikan oleh Jaap Erkelens, warga
Belanda, yang bertahun-tahun pernah bertugas sebagai Kepala Perwakilan
Badan Riset dan Penerbitan Belanda, KITLV, di Jakarta. Ia fasih
berbahasa Indonesia.
Cita-citanya adalah menerbitkan buku foto
dengan esai biografis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentang
tiga tokoh utama Revolusi Indonesia pada HUT ke-100 mereka, yakni
Soekarno (terbit tahun 2001), Mohammad Hatta (terbit tahun 2002), dan
Sutan Sjahrir, yang seharusnya terbit pada tahun 2009, tetapi karena
beberapa kendala teknis baru terbit tahun 2010.
Jaap Erkelens
bertekad untuk menunjang setiap buku dengan 100 foto yang dipilih
secara ketat. Untuk buku seratus tahun Sjahrir ini, ia memerlukan dua
tahun menelusuri sejumlah arsip yang menyimpan foto-foto Sjahrir. Dan,
kalaupun diketemukan, pemilik arsip minta harga yang cukup tinggi untuk
setiap foto yang akan dimuat sehingga memerlukan pendekatan diplomasi
yang agaknya dilakukan oleh Jaap Erkelens secara efektif. Beberapa dari
foto dalam buku Sjahrir, Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan memang
mengharukan dengan penulisan teks keterangan yang sarat dengan ungkapan
khas (kadang-kadang teks dalam bahasa Inggris lebih menarik
dibandingkan dengan versi Indonesia), seperti foto di halaman 94: Amir
Sjarifoeddin dan Sutan Sjahrir berdiri di tangga Istana Rijswijk
(sekarang Istana Negara), dua tokoh pemimpin Sosialisme Demokrasi yang
kemudian berpisah haluan; dan di halaman 163: Sjahrir, dengan istri dan
keluarga sedang menghirup udara segar di tepi Danau Zurich tahun 1966,
beberapa bulan sebelum ia meninggal.
Ukuran buku baru tentang
Sjahrir ini, hasil gagasan Jaap Erkelens, amat menarik: 21 x 21 cm,
dicetak dengan kertas kualitas luks. Sejumlah foto tua berhasil
”diremajakan” oleh Penerbit Buku Kompas sehingga lebih cemerlang
pantulannya. Dua tulisan dalam buku ini: kata pengantar oleh Ignas
Kleden dan esai biografis oleh Rosihan Anwar (padat, tidak
bertele-tele) mengesankan kualitasnya. Tulisan Ignas Kleden bukan saja
mencerminkan didikan solid yang dialaminya di Jerman di bidang
sosiologi dan filsafat, tetapi ia juga menguasai kerangka teoretis dari
alam pemikiran Sjahrir.
Cita-cita Sjahrir
Rosihan
Anwar dalam tulisannya memanfaatkan pengetahuan serta pengalamannya di
bidang drama sehingga mampu menyajikan hidup Sjahrir dengan suasana
suspense. Bung Rosihan meminjam alat utama untuk menganalisa drama,
yaitu ”premis”. Tulisnya: ”Riwayat hidup Sjahrir, kita rumuskan
premisnya sebagai berikut: Cita-cita yang luhur membawa kepada maut,
tapi juga harapan.”
Dalam buku kedua, cetak ulang Mengenang
Sjahrir (1980) dicantumkan subjudul yang tidak ada pada edisi aslinya,
yakni kata-kata berikut: ”Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang
Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan”.
Label ”Tersisih dan
Terlupakan” tampaknya sudah merupakan merek pada figur Sutan Sjahrir.
Merek itu sudah diberikan pada tahun 1995 oleh penulis biografi
Sjahrir, Rudolf Mrazek, Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia. Dalam
bab penutup, ia secara prematur berkonklusi bahwa Sjahrir mulai
dilupakan karena mereka yang mengenal dan mengaguminya satu per satu
meninggal.
Paradoksnya, usaha mencetak buku tebal Mengenang
Sjahrir itu sendiri membuktikan bahwa tidak begitu akurat menyebut
Sjahrir sebagai ”Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih
dan Terlupakan”. Kalau demikian halnya, apa yang mendorong masyarakat,
bahkandari generasi muda sekalipun, sekarang ini ingin mengetahui
mengenai sosok, pemikiran, dan cita-cita Sutan Sjahrir?
Mungkin,
seperti yang pernah dinyatakan Soedjatmoko, karena: ”Sjahrir, dalam
tulisan-tulisannya, ataupun dalam tindakan-tindakannya, mencerminkan
keyakinan bahwa kemerdekaan nasional hanya merupakan jembatan untuk
tercapainya tujuan-tujuan perjuangan kebangsaan lainnya, yaitu
kerakyatan, kemanusiaan, kebebasan dari kemelaratan dan tekanan dan
pengisapan, keadilan dan pembebasan bangsa dari genggaman sisa-sisa
feodalisme, serta pendewasaan bangsa”.
Sepuluh tahun setelah
reformasi merekah, tampaknya justru meningkat urgensi untuk menemukan
kembali tujuan esensial dari kemerdekaan nasional. Mungkin karena
itulah, memperingati dan mengenang Sutan Sjahrir bukanlah sekadar
ritual hampa belaka.
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe