Angku ZulTan dan dunsanak di palanta nan ambo hormati.

Ambo baru sajo mengupload tulisan budayawan Wisran Hadi nan bajudul "Jenaka
Minangkabau".
Karano tulisan iko agak panjang mako ambo copykan hanyo kesimpulan tulisan
tsb;

Bagi dunsanak yang sudah membaco artikel iko silakan di back, namun bila
ingin membaco lengkap silakan klik di
http://nagari.or.id/?moda=wisran&no=139

Salam
Abraham Ilyas Lk 64 th.

Dari beberapa jenaka yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau
sebagaimana yang dijelaskan di atas, untuk sementara dapat ditentukan
beberapa cirinya;

 1. Apapun juga bentuk persoalan yang dapat dijenakakan, jenaka Minangkabau
tidak mengeksploitir bentuk-bentuk tubuh seseorang yang menjadi objek yang
dijenakakan.
Tubuh yang pendek, tinggi, kurus, buruk, cantik tidak dijadikan sasaran
kejenakaan atau cemoohan.
Ini berarti, jenaka Minang tidak mengeritik kekurangan yang ada pada tubuh
pribadi-pribadi.

2. Jenaka Minangkabau lebih menekankan pada “permainan” kata dan makna.
Satu kata dengan pengucapan yang berbeda-beda, atau dalam susunan kalimat
yang berbeda akan merubah makna sebuah kata kepada makna lain.
Permainan kata dalam berjenaka, baik dalam bentuk pantun maupun teka-teki
merupakan suatu keunggulan tersendiri dari jenaka Minangkabau.
Hal ini sekaligus pula menjelaskan tingkat kecerdasan keintelektualan
masyarakat Minang itu sendiri.

3. Sebuah jenaka tidak bertendensi untuk memperbodoh-bodohkan seseorang.
Jenaka orang bingung dan bodoh biasanya tidak terlalu populer di kalangan
masyarakat Minang.
Hal berarti, mereka tidak mau jadi bodoh dengan berjenaka, atau dapat
dikatakan jenaka harus dapat mencerdaskan.

4. Setiap jenaka Minangkabau, terutama dalam bentuk teka-teki berusaha
memperluas wawasan.
Mereka yang punya pengetahuan yang luas akan mudah mengikuti jenaka Minang
dibanding dengan mereka yang punya pengetahuan terbatas.

5.Tema jenaka Minang sangat bervariasi, beragam dan bebas sekali.
Masalah-masalah sosial politik, ekonomi, adat dan agama dapat dijadikan
bahan jenaka.
Ini berarti bahwa masyarakat Minang yang begitu bebasnya berjenaka dapat
dikatakan sebagai cerminan mamsyarakat yang berfikir kreatif dan merdeka.

 6. “Isi” dari jenaka Minangkabau lebih merupakan kritik terhadap sesuatu
keadaan, kondisi, perlakuan dan luahan perasaan dari ketertekanan, ketakutan
dan kemualan yang terjadi di sekeliling kehidupannya.
Jenaka hanya merupakan “bungkus” saja dari isi. Dengan demikian, jenaka
bukan merupakan tujuan, tetapi menyampaikan isinya itulah tujuan utamanya.

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke