Pak Abraham yth.
Ambo pun sapaham jo bapak, karono nan bakambang kini adolah sejarah ala Ranke, 
nan manulih catatan dari sisi kekuasaan, atau carito tantang kakuasaan. Alah 
manjadi mode kini catatan sejarah tu disusun oleh urang biaso, dan bacarito 
tantang urang biaso. Kok lah ado itu, kito masuakkan dalam bab cupak usali di 
dalam tambo.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Mon, 3/8/10, Abraham Ilyas <[email protected]> wrote:



Datuk Endang yth.
 
Untuk sejarah tentang peristiwa "perjuangan PRRI" melawan Pusat ini, memang 
sudah banyak tulisan yang dibuat dan dibukukan.
 
Tapi perjuangan PRRI ini melibatkan hampir seluruh anak nagari MK (mungkin 
istilah militernya sekarang "perang semesta", karena seluruh rakyat ikut 
terlibat dengan kesadaran yang tinggi).
 
Oleh karano itu, ambo punyo keinginan agar rakyat&nagari yang terlibat tersebut 
membuat catatan sejarahnya sendiri sendiri. Lalu akan muncul problem baru untuk 
enulisnya, apabila tulisan tersebut akan diakui sebagai "sejarah". 
 
"Sejarah" harus dilengkapi tanggal kejadiaan, nama pelaku dsb. Masyarakat/anak 
nagari yang terlibat/mengalami peristiwa tak punya catatan tanggal waktu 
peristiwa terjadi.
Kita juga akan berdebat soal istilah istilah yang dipakai misalnya kata 
"pemberontak" atau "pejuang"
 
Yang memiliki catatan tanggal peristiwa tsb. biasanya hanyalah orang orang 
besar/pemimpin, padahal semangat, pengorbanan, penderitaan yang dialami sama 
saja rasanya. 
 
Peluru canon ditembakkan yang jatuhnya empat sekaligus ledakannya atau siraman 
peluru mitraliur dari Mustang dengan senjata 12,7 mm. sama saja akibatnya bagi 
keselamatan negara ini dengan keselamatan nyawa satu orang yang mati akibatnya.
 
Oleh sebab itu ambo punyo keinginan agar masyarakat/anak nagari/pelaku mau 
menulis catatan peristiwa peristiwa tersebut dibuat dalam bentuk karya sastra 
saja (syair, kaba dsb.) dan pihak lain tidak bisa menggugat keakuratannya. 
Diterima oke, diacuhkan silahkan. Kalau disalahkan, coba buktikan dimana 
kesalahannya !
 
Toh kedua bentuk penulisan catatan peristiwa ini, "sejarah dan tambo" sama sama 
untuk diambil hikmahnya agar tidak terulang pada diri kita atau di anak cucu 
kita. 
Manusia bersifat pelupa, perlu diingatkan setiap waktu. Sekadar untuk contoh 
bagi yang belum melihatnya, silakan http://td73.nagari.or.id/tanjungprri.php
 
Salam
 
Abraham Ilyas.
 


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke