Industri knalpot mobil di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dipercaya memasok kebutuhan produsen mobil merk Mercedez Benz karena dinilai memiliki kualitas baik .”Siapa sangka knalpot buatan saya digunakan Mercedes Benz,” kata Agus Adi Atmaja, perajin knalpot di Desa Patemon, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga, Kamis (23/4).
Ia mengatakan, perusahaan mobil mewah asal Jerman tersebut memesan sebanyak 1.000 unit knalpot buatannya. Pemesanan sejak 2004 untuk masa kontrak satu tahun. Setiap unit knalpot, kata dia, terdiri dua buah bagian. Harga per uni, sesuai kontrak, Rp 2 juta. Menurut pria 40 tahun ini, pihak Mercy juga sudah menghubungi lagi dan menyatakan hendak memesan knalpot sebanyak 1.000 unit untuk mobil seri terbarunya. “Kontrak tahun ini mudah-mudahan terealisasi, karena Mercy selalu mengeluarkan seri terbaru setiap lima tahun,” ujar Agus. Agus menambahkan, untuk pesanan mendatang kemungkinan akan ada negosiasi ulang terkait tingkat kesulitan yang dihadapi bengkelnya. Selain melayani pesanan Mercy, Agus mengatakan, knalpot buatannya juga dijual untuk masyarakat umum di berbagai kota Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Knalpot buatan Agus untuk pasar lokal dijual pada kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 250 ribu per unit. “Produksinya rata-rata per bulan 500 buah yang dikerjakan oleh sembilan pegawai selama 26 hari kerja,” rinci pemilik perusahaan knalpot bernama Vanvolker Enterprise. Meski punya merek, Agus mengaku tetap melayani pesanan. Di antara knalpot pesanan adalah merek top seperti AMG dan Remus. Menurut dia, knalpot yang diberi nama merek terkenal hasil desainnya, bukan jiplakan. Pemilik merek, kata dia, mempersilakan nama produknya dipakai. “Tapi, saya yang rugi karena nama dagang saya jadi tidak dikenal. Apa boleh buat, hal itu demi memenuhi keinginan konsumen meski sebenarnya produsen pemilik merek dagang tidak membuat knalpot yang desainnya saya rancang sendiri,” katanya. Daerah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, tidak saja dikenal sebagai sentra industri bulu mata palsu dan rambut palsu. Industri rumahan knalpot buatan warga Purbalingga juga berkembang sedemikian pesat. Para perajin selama puluhan tahun mampu berevolusi dengan perkembangan industri otomotif dunia. Dirunut dari sejarahnya, usaha knalpot ini diciptakan oleh seorang perajin sekaligus pengusaha dandang, wajan, hingga peralatan musik gamelan yang berbahan dasar kuningan. Pelopornya adalah warga Desa Pesayangan, Kec. Purbalingga Utara, Kabupaten Purbalingga, bernama Hasan Yusuf (85). Usaha dandang mengalami titik nadir pada 1970 ketika dirinya mengalami kebangkrutan. Hasan saat itu tidak putus asa, tetapi berusaha mengembangkan usaha pembuatan knalpot. Pemasaran waktu itu di wilayah kota besar seperti Jakarta. Usahanya dalam waktu singkat mengalami kesukseskan. Kemampuannya membikin knalpot, akhirnya ditularkan oleh Hasan kepada anak cucu hingga akhirnya berkembang menjadi usaha yang ditekuni sebagian besar warga di kecamatan setempat. Hasan tak hanya mengajar teknik pembuatan, tetapi juga sistem pemasarannya. Kini pasarnya berkembang hingga seantero nusantara. Atas jasanya, Desa Pesayangan dijadikan pusat industri besar knalpot. Di ujung jalan Pesayangan pun kini berdiri patung pekerja yang sedang memahat knalpot. Ribuan warga menyandarkan hidupnya dari usaha pembuatan knalpot. Makanya, knalpot menjadi satu trade mark daerah Purbalingga. Usaha ini sekarang terus berkembang tak sebatas pada sistem pemasarannya, tetapi kualitas juga kreativitas, inovasi, hal lainnya yang lebih menentukan adalah pelayanan serta harga. Hasilnya, memang mampu bersaing dengan produksi pabrikan. Harga jualnya beragam, mulai dari termurah Rp 30.000,00/buah sampai Rp 800.000,00. Harga termahal memang untuk knalpot yang bisa membuat hemat energi. Knalpot dari Pesayangan juga sering dijadikan oleh-oleh khas Purbalingga. Mereka yang telah berkunjung ke objek wisata air (Owabong) banyak yang berhenti dulu di daerah Pesayangan untuk beli knalpot, karena murah tetapi kualitasnya tidak kalah dengan produk impor. "Dua kali ke Purbalingga, saya beli knalpot di Pesayangan, karena murah. Satu untuk knalpot motor dan kedua waktu membeli untuk knalpot mobil," kata Eko Setiabudi asal Kawalu, Kota Tasikmalaya. Dilirik dari kualitas, mampu dipertandingkan dengan produk pabrik yang orisinal. Bahan dasar knalpot dipakai menggunakan pelat yang berkualitas yang terbagi menjadi pelat stainless, galvanis, dan pelat biasa. Muhajirin (40) warga setempat yang tak mau membuang kesempatan tersebut memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia berani bereksperimen untuk memenuhi pasar otomotif yang berkembang sangat luar biasa dengan knalpot berlabel "Jet Hot Auto Muffler". Dirinya telah memperkenalkan knalpot hemat bahan bakar minyak (BBM) hingga 30 persen dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan knalpot biasa. Tentunya, ini merupakan kabar gembira bagi para pengguna kendaraan roda dua atau empat, mengingat harga BBM yang semakin mahal belakangan ini. Proses pembuatannya masih dilakukan dengan cara manual, tetapi hasilnya tidak kalah canggih dengan teknologi produksi pabrikan. Knalpot Jet Hot Auto Muffler juga mampu mendongkrak tenaga sepeda motor atau mobil yang menggunakannya hingga 20 persen. "Selain lebih irit bensin, knalpot ini bisa memacu kendaraan," kata Muhajirin meyakinkan. Pasar yang dia bangun tidak sebatas untuk produk otomotif semata, pria paruh baya menjalin kerja sama dengan produsen peralatan dan kendaraan tempur. PT Pindad (Persero) memercayakan knalpot buatannya untuk alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI), yakni panser. Pada 2009 ini, kata Muhajirin, PT Pindad telah memesan knalpot untuk alat perang amfibi dari Purbalingga 150 buah. Knalpot tersebut disesuaikan dengan alutsista, dibuat dari besi baja dengan ketebalan 1,6 ml, diameter 6 inci, dan panjang 90 cm. Pindad menjajaki knalpot buatan home industry karena terbukti memang memenuhi kualitas yang dibutuhkan sebagai suku cadang pesawat tempur. "Knalpot sebanyak 150 unit dibayar dalam dua kali anggaran 2009 dan 2010. Kita sudah menyelesaikan 90 unit, tahun depan tinggal menyelesaikan 60 knalpot lagi," tutur Muhajirin. Sebelum menggunakan buatan dalam negeri, PT Pindad harusmendatangkan suku cadang dari impor. Namun, sekarang kemampuan usaha kecil menengah ternyata cukup andal untuk memenuhi kebutuhan Pindad. Knalpot untuk panser memang berbeda dengan kendaraan biasa. Untuk itu, Pindad memberikan contoh desain dengan spesifikasi sangat ketat. "Kita berusaha memenuhi standar yang diinginkan Pindad dan tampaknya sampai saat ini belum ada keluhan," kata Muhajirin pemilik produk Jet Hot Auto Muffler. Selain unggul dalam kualitas, harganya lebih miring jika dibandingkan dengan knalpot panser produk impor. "Dari segi harga, hanya kita dan dan PT Pindad yang tahu, tetapi yang jelas harganya lebih miring 25 persen dibandingkan dengan barang impor," katnya menambahkan. Muhajirin atau biasa dipanggil Gajirin sangat diuntungkan dengan sistem kerja sama ini. Sebab pembayaran cukup lancar. Begitu barang dikirim ke Bandung, Pindad langsung membayar. "Jika jalinan kerja sama ini berlangsung dalam jangka waktu lama, sebagai pengusaha kecil kita sangat diuntungkan. Kita juga bangga dapat pesanan dari Bandung," kata Gajirin. -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
