Serial Minang Diaspora: Petualangan Machoedoem Sati di Tanah Rencong Ayanda M. Historya | 7 September 2009 | 02:42
410 7 Belum ada chart. Belum ada chart. Belum ada nilai. Siapakah pasangan suami istri pahlawan nasional yang berasal dari Aceh? Maka murid-murid sekolah dan kita semua akan menjawab dengan lantang: Teuku Umar dan Tjoet Njak Dhien. Betul..!! kedua orang di Tanah Rencong ini memang gigih mengusir Belanda dalam perang Aceh yang berdarah-darah di akhir abad 19 hingga awal abad 20. Belanda mengakui perang ini merupakan perang terberat yg harus mereka hadapi selama kurang lebih 350 tahun mencoba menguasai seluruh wilayah kepulauan nusantara. Lantas, apa hubungannya beliau berdua dengan si “petualang” Minang Machoedoem Sati? Ada…!, beliau adalah kakek dari kedua pahlawan tersebut, begini ceritanya yg coba saya rangkumkan dari berbagai sumber: Apa alasan orang-orang Minang termasuk Datuk Machoedoem Sati berpindah ke pantai barat Aceh yg kini di sebut Meulaboh? Kedatangan orang-orang Minangkabau ke Meulaboh disebabkan akibat pecahnya perang Paderi (1805-1836) di Sumatera Barat. Mereka terpaksa mengungsi, menghindari pertumpahan darah dengan saudara sendiri sesama orang Minang dan sama-sama beragama Islam. Waktu itu, kaum Paderi membawa ajaran pembaruan Islam beraliran Wahabi dari Arab. Tiga orang ulama pulang dari mengikuti pendidikan si Arab. Mereka adalah Haji Piobang, Haji Miskin dan Haji Sumanik. Ajaran pembaruan Islam yang dibawa tiga orang haji ini, membuat gundah masyarakat Minangkabau yang waktu itu sudah menganut ajaran Islam, yang disebut beraliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Mungkin seperti terlihat sekarang ini, antara Muhammadiyah (yang menganut ajaran Wahabi) dengan NU (Nahdlatul Ulama) yang menyatakan diri sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan ada pula yang menyebut seperti ajaran Syi’ah. Sampai di Teluk Pasir Karam pendatang dari Minangkabau itu sepakat untuk berlabuh “Disikolah kito berlaboh,” kata mereka. Semenjak itulah Negeri Pasir Karam dikenal dengan nama Meulaboh dari asal kata berlaboh. Pendatang dari Minangkabau itu kemudian hidup berbaur dengan masyarakat setempat. Diantara mereka malah ada yang menjadi pemimpin diantaranya: Datuk Machoedoem Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu. Di Meulaboh para pendatang dari Minangkabau itu membuka perkebunan lada yang kemudian membuat daerah itu disinggahi kapal-kapak Inggris untuk membeli rempah-rempah. Karena semakin maju maka dibentuklah federasi Uleebalang yang mengatur tata pemerintahan negeri. Meulaboh bertambah maju ketika Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Ibrahim Mansjur Sjah (1841-1870) karena semakin banyaknya orang-orang dari Minangkabau yang pindah ke sana, karena Minangkabau saat itu sudah dikuasai Belanda. Kemajuan ini sampai juga ke telinga Raja Aceh di ibu kota Darod Donya (Banda Aceh) yang memerintah saat itu adalah Poteu Jeumaloe/ Sultan Jamalul Badrul Munir. Ia segera memerintahkan orangnya untuk memungut pajak/upeti kedaerah Machoedoem Sati, karena wilayah itu masih dalam wilayah Aceh juga. Mengapa Machoedoem Sati dapat mempunyai peranan penting dalam kesultanan Aceh di Kutaraja (Banda Aceh)? Mulanya Machoedoem Sati menyanggupi sebagai tanda hormat dan patuh rakyat Rawa terhadap Sultannya, tetapi upeti yang dikirim Machudum Sati aneh sekali, sepertinya makna dari sebuah ‘pembangkangan’, yaitu ia memerintahkan rakyatnya mengumpulkan pakaian2 bekas dan besi2 tua kemudian dimasukkan kedalam peti tempat upeti tadi. Kemudian peti itu di bawa ke Kotaraja, di istana Sultan membuka isi peti tersebut dan alangkah terkejutnya beliau ketika dibuka isinya tidak lain hanya pakaian2 bekas dan besi2 tua. Beliau pun murka karena penghinaan ini di depan orang banyak, dan Machoedoem Sati harus menerima hukuman seberat berat-beratnya atas yang ia perbuat. Ia (Sultan) memerintahkan Panglima Sagoe-nya yang paling perkasa untuk menghadapi pembangkang itu, setelah Datuk Machoedoen Sati mengetahui perihal ini, maka ia segera mempersiapkan pasukannya pula untuk menghadapi serangan pasukan Aceh sekaligus mempertahankan adat lembaga dia. Maka serangan pun tiba dan pecahlah perang di “Rantau Duabelas” Aceh Barat, korban pun berjatuhan tidak terhingga jumlahnya dari kedua belah pihak. Akhirnya prajurit2 Aceh yang gagah perkasa itu memenangkan pertempuran, uniknya setelah seluruh pasukan Machoedoem Sati tewas tetapi ia sendiri tidak mati. Dengan penuh hati2 panglima Aceh dan pasukannya berusaha mendekati Machoedoem Sati, ditengah gelimpangan mayat2 ia terlentang dan berlumuran darah ia masih saja garang seperti seekor Harimau kelaparan dan terus saja bersilat. Tikaman dan tebasan rencong tidak membuat dia tewas juga. Dengan rasa hormat bercampur ngeri dan dengan hati2 mereka membelenggu Machoedoem Sati untuk kemudian diputuskan dibawa ke Kotaraja. Dalam perjalanan ia dirantai dibelakang buritan kapal, ditenggelamkan kelaut dan diseret sampai ke Kotaraja. Sesampainya di pelabuhan teluk Aceh orang2 pun sudah lupa dengannya, dan teringat oleh mereka bahwa mereka punya seorang tawanan. Ketika diangkat kepermukaan tenyata ia belum mati juga, hanya saja badannya menggigil kedinginan dan dipenuhi oleh lumut laut. Dihadapan raja ia menerima hukuman, dengan terpaksa Sultan memerintahkan ia meminum tuangan besi2 tua yang ia kirim dulu ke raja, kalau dengan itu juga ia tidak tewas, maka ia akan diampuni. Akhirnya dengan ‘bergidik’ orang2 menyaksikan pemandangan mengerikan Machoedoem Sati meminum tuangan besi cari panas membara itu. Sungguh menakjubkan mata ia tidak mati juga oleh racun itu, dan ia pun diampuni raja. Karena kesaktian dan kekebalan jasmaninya ia di angkat oleh Sultan menjadi penjaga taman. Salah satu keturunannya berjasa pada sultan berikutnya menyelamatkan Sultan dari kudeta ingin merebut kekuasaannya yang dilancarkan oleh salah seorang Panglima Sagoe, berkat jasa panglima keturunan orang Minangkabau ini Sultan selamat ancaman dari bahaya. Atas jasa-jasanya pada Sultan Aceh, Machoedoem Sati diberi kekuasaan di VI mukim untuk turun temurun dan namanya diganti menjadi Nanta Seutia Raja. Ia kemudian memiliki dua orang putra yang diberi nama Teuku Nanta Suetia dan Teuku Cut Mahmud. Teuku Nanta Seutia (ayah Cut Nyak Dhien) yang kemudian menjadi penerus uleebalang. Sedangkan Teuku Cut Mahmud menikah dengan adik raja Meulaboh Cut Mahani. dari hasil perkawinan inilah lahir 4 orang putra yang salah seorangnya adalah Teuku Umar (suami kedua Cut Nyak Dhien). Maka, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar adalah sepupu yang juga suami Isteri. -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
