Terima kasih Rita, 

Image yang kita dapat mengenai Danau Maninjau berasal dari foto-foto Danau 
Maninjau yang Indah dengan tranquilitynya. tidak pernah terbayang gejolak 
raksasa yang menyiksa ini. Mudah-mudahan dengan berita ini miskonsepsi ini 
dapat diperbaiki.

Salam,
--MakNgah

--- In [email protected], Rita Desfitri Lukman <rita.desfi...@...> 
wrote:
>
> Dunsanak palanta sadonyo,
> 
> Ikan mati secara massal di danau Maninjau memang sering terjadi. Angin badai
> dan hujan deras sepanjang hari Rabu dan Kamis kemaren di sekeliliang danau
> kembali membuat air danau 'bergolak'. Hari Kamis pagi itu, melihat cuaca
> yang sudah beberapa hari kurang bersahabat, kami di Maninjau sudah mulai
> mengkhawatirkan kalau-kalau musibah ini terjadi. Dan ketika ikan-ikan
> keramba-keramba di pantai utara danau sudah banyak mati, mereka-mereka yang
> di pantai barat dan timur saya lihat mulai cepat memanen ikan-ikannya,
> walaupun belum masa panen. Tetapi tetap saja kalah cepat dengan kencangnya
> perputaran arus air. Kasihan memang....
> 
> Angin kencang, pergerakan air danau, itu adalah kekuatan alam. Kita harus
> menghadapinya.
> Dulu sebelum keramba-keramba bermunculan pun, pada saat-saat tertentu air
> danau juga bergolak, karena pergerakan arus, angin kencang, atau mungkin
> juga karena pergesaran dasar danau dan air belerang di dasar danau yang
> naik.
> Pada saat itu semua ikan akan ke permukaan dan demikian mudah ditangkap,
> bahkan dengan tangan sekalipun, dan kami menamakannya 'tubo'. Tetapi saat
> itu ikan-ikan 'nonoi' yang hampir mati itu masih aman untuk dimakan, karena
> jarang yang sampai mati membusuk dipermukaaan danau.
> 
> Tetapi sekarang tentu kondisinya berbeda. kalaupun air danau bergolak,
> keruhnya air, tidak murni lagi hanya karena kondisi belerang di dasar danau.
> 
>  Dengan keramba yang demikian banyaknya di sekeliling danau, setiap
> hari, ratusan ton makanan yang tidak sempat dimakan ikan akan terus meluncur
> dan mengendap di dasar danau. ketika angin kencang atau pergerakan lain di
> bawah air, sisa-sisa makanan yang sudah membusuk akan kembali ke permukaan
> dengan segala konsekuensinya.
> 
> Di samping penelitian untuk meminimalkan resiko ikan mati masal di keramba
> karena fenomena alam tersebut, barangkali yang juga sangat dibutuhkan
> sekarang adalah memikirkan suatu bentuk usaha pengolahan, mungkin perlu
> investasi dari pengusaha-pengusaha.
> 
> Bagaimana memikirkan agar sisa-sisa makanan ikan yang mengendap di dasar
> danau itu bisa dikeruk kembali, dan diolah menjadi sesuatu yang berguna,
> apakah membangun pabrik kompos mungkin, atau kalau sisa-sisa makanan itu
> dipadatkan, diolah menjadi bentuk lain, ya... sesuatu yang bermanfaat pula.
> 
> Sehingga kita harapkan, ketika air danau kembali berulah, air danau yang
> naik ke permukaan itu tidak terlalu kotor seperti sekarang, dan semoga
> jumlah ikan yang mati pun bisa kita minimalkan....
> 
> wassalam,
> 
> Rita Lukman
> 
> -----------
> Pada 13 Maret 2010 23:53, Muzirman -- <muzir...@...> menulis:
> 
> > Sanak2 Se balairung, yth,
> > Wah kalau ngak salah sdh sering terjadi hal yg sama, mati nya ikan ber ton2 
> > di keramba, 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke