Dek mambaco tulisan Da Iqbal tantang BUKU taragak lo ambo malewakan nan ciek ko:
Seorang kritikus sastra senior di karantina di sebuah
rumah sakit jiwa karena kritik-kritik yang dilontarkannya terlalu tajam tanpa
mengindahkan perasaan si penulis. Menurutnya
triangle ilmu sastra meliputi kritik sastra, teori sastra dan sejarah bila dapat
berjalan normal, fungsional dan optimal, maka kemajuan ilmu sastra dapat
tercapai. Idealis memang. Namun demikian beberapa rekannya menganggap
kritikus ini rada ”sedeng”.
Hasil pemeriksaan psikater menyarankan supaya memberikan
buku-buku untuk membantu percepatan penyembuhan.
Setiap tiga hari kitikus gaek ini dikirimi berbagai buku,
terutama yang berkaitan dengan sastra.
Beliau mampu melahap 2-3 buku hanya dalam tiga empat hari saja, lalu
mengkritiknya. Empat lima buku
dikirim, seminggu selesai lalu dikritik.
Demikian seterusnya. Aneh, ”sakit”-nya
makin menjadi-jadi. Teman-temannya kewalahan
buku apalagi yang sebaiknya dikirim. Akhirnya
diputuskan untuk memberikan buku yang agak tebal agar dibaca lebih lama.
Setelah tiga hari tidak ada kabar darinya meminta buku
baru seperti biasa. Selang dua minggu
kemudian demikian pula; tak ada permintaan. Temannya jadi penasaran dan
membezoeknya
di dampingi teman lain.
Setelah menanyakan keadaan si kritikus, salah seorang
mereka bertanya, ”Bagaimana dengan buku yang dikirim dua minggu lalu, Pak?”
”Saya masih membacanya!” katanya.
”Kenapa sekarang Bapak membaca lebih lama dan tidak
seperti biasanya?” tanya temannya menyelidik.
”Buku ini aneh.
Terlalu banyak tokoh yang terlibat. Hubungan antara satu tokoh dengan tokoh
lain
tidak dijelaskan. Alur ceritanya
melompat-lompat. Peran masing-masing
tokoh sangat samar. Si apa ayah, siapa
ibu, mana anak? Siapa yang lebih muda,
lebih tua, dll, sulit ditebak. Mungkin
harus dibaca berulang-ulang baru bisa dimengerti,” katanya antusias.
”Satu-satunya yang hal yang paling jelas adalah domisili masing-masing
tokohnya,” lanjutnya.
”Baik Pak,” kata temannya sambil mengangguk-angguk.
”Silakan Bapak lanjutkan membacanya dan kamit mohon
pamit.”
Setelah keluar ruangan, teman satunya bertanya penasaran,
”Buku apa sih yang diberikan?”
”Buku telepon,” kata temannya dingin!
Wassaam,
ZulTan,
L, 49+, Bogor
"Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe