POTRET KESENIAN ANAK NAGARI  

Muhammad Bayu Vesky 

 

Rami pasanyo di Balimbiang

Rami Balai di hari Satu

Rami dek anak mudo-mudo

Raminyo sampai patang hari

 

Dulu baraja jo bareh ampiang

Kini baumbuak jo galo-galo

Nan dek lidah balain raso

Dak sakamek nan bak sari ...

 

MALAM mulai larut. Dingin seakan menusuk tulang. Sepenggal pantun klasik
tadi, terdengar mendayu-dayu di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kabupaten
Limapuluh Kota, di kaki Gunung Sago. Lambat laun, bunyinya merayap ke hati.
Membuat mata ingin memandang, siapa betul yang tengah berdendang?

 

Rupanya, itu suara Isur dan Dia, dua pendendang nan berparas rancak dan
kamek asal Kabupaten Tanah Datar. Mereka berdendang sekaligus meratapi
nasib, di sela desau talang sarueh (saluang) yang dilutok (ditiup) Mak
Kamarudin, dan petikan kecapi yang dimainkan Mak Muncak.

 

Saluang itu Tuen, amboinya, bagai pitunang yang menahan angin. Bagai irama
kehidupan anak negeri, membawa sepi, mengantar cerita, bahkan membuka angan
nan panjang.

 

Sebelum berdendang di hadapan ratusan orang yang membanjiri Nagari Ladang
Laweh: kampung halaman 'Si Bungsu' dalam cerita silat karangan Makmur
Hendrik tersebut, Isur dan Dia terlebih dahulu mendengar pantun demi pantun
yang ditulis para pagurau (sebutan untuk pecandu kesenian tradisional
saluang), dan dibacakan oleh si tukang hoyak (pembawa acara) bernama Antoni
Datuak Mangiang.

Biasanya, pantun yang ditulis masing-masing pagurau, bergantung pada suasana
hati mereka. Ada yang menceritakan soal nasib, ada yang menyindir kawan, ada
yang sedikit 'genit', dan tidak sedikit  pula yang memberi pesan moral. 

 

Misalnya saja, pantun yang ditulis Widiat B Artha alias Wan Siwe, begitu
penggemar saluang biasanya sering memakai nama samaran atapun julukan.

Pantun tersebut, liriknya kira-kira begini: Lagu banamo ratok bonjo.
Didendangkan katiko tangah malam. Dek nak dendang nan banamo Gadih Santan.
Cintoilah seni budaya kito. Saluang jo dendang dilestarikan. Kapado anak jo
kamanakan. (Lagu berjudul Ratok Banjo, didendangkan tengah malam oleh
pendendang bernama Gadis Santan. Cintailah seni budaya kita. Saluang dan
dendang dilestarikan. Kepada Anak dan keponakan).

 

Selepas pantun ini ditulis, Wan Siwe lalu berkirim salam buat para pagurau
dari tigo luhak (daerah di Minangkabau), meliputi Luhak Limopuluah (Kota
Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, dan sebagian Riau), Luhak Agam (Kota
Bukittinggi dan Kabupaten Agam) serta Luhak Tanah Datar (Kabupaten Tanah
Datar, Kota Padang Panjang, dan sebagian wilayah Kota Solok). Selanjutnya,
baru Wan Siwe berpesan kepada Antoni Datuk Mangiang, agar meminta Isur dan
Dia mendendangkan lagu Ratok Banjo.

 

Permintaan tersebut jelas dipenuhi dengan senang hati oleh Dia maupun Isur.
Ini tentu bukan hanya karena Wan Siwe sudah mengisi adatnya saluang, yakni
menyelipkan beberapa lembar pitih sebagai  pengganti beli kopi ataupun gula.
Namun juga dikarenakan, Dia dan Isur amat bahagia bila telah selesai
mendendangkan lagu ataupun pantun tradisional Minangkabau.

Bagi mereka, lagu dan pantun Minang bukan sekadar hobi perintang-rintang
hari, melainkan sebuah nafas hidup yang harus terus dihirup. 

 

Tersebab itupula, Isur dan Dia, tidak pernah lelah untuk berdendang. Nyaris
setiap malam (kecuali bulan puasa Ramadan), mereka masuk kampung keluar
kampung. Bahkan kadang-kadang juga duduk bersila di pusat pertokoan
Payakumbuh untuk menghibur para pagurau dan masyarakat.

 

Lagu dan pantun yang didendangkan oleh Isur maupun Dia, banyak sekali
jenisnya, tidak melulu Ratok Banjo. Tetapi bergantung pada permintaan dan
suasana hati para pagurau. 

Khusus untuk penampilan di Nagari Ladang Laweh, beberapa waktu lalu, lagu
yang diinginkan rata-rata Ratok Pasaman, Padih Ampo, Ratok Anak Gubalo,
Salendang Biru, Kicau Merpati sampai Singgalang Hoyak Kapua.

 

Bukan kesenian jadul

 

Bagi sebagian kita, dendang yang dilantunkan Isur dan Dia atau populer
disebut dengan istilah saluang hoyak, mungkin tidak ada enaknya. Bahkan bisa
jadi dicap sebagai kesenian jadul (zaman dahulu). 

Tetapi, bagi masyarakat yang tiap hari menguras keringat di lorong-lorong
kampung, mendengar saluang hoyak adalah sebuah kenikmatan. Sama halnya
dengan menghirup kopi ataupun menghisap rokok, ada citra rasa tersendiri
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

 

Makanya, jangan heran pula, bila Anda sempat bertandang ke daerah-daerah
dalam wilayah ketiga Luhak tadi. Pasti lebih banyak mendapati saluang hoyak
muncul dalam pesta pernikahan ataupun dalam kenduri lainnya.

 

''Biaya mendatangkan pemain saluang dan tukang dendang, sekarang lebih mahal
dari pada membawa organ tunggal ataupun band lokal. Ini menandakan, saluang
lebih disukai masyarakat di tiga Luhak,'' kata Syaiful Hadi, seniman jebolan
ASKI (STSI) Padang Panjang yang belakangan aktif mengorganisir para
pendendang dalam  saluang hoyak di Tigo Luhak. (*)

 

http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php
<http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=5709>
&id=5709

Sabtu, 20 March 2010

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe from this group, send email to 
rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words 
"REMOVE ME" as the subject.

Kirim email ke