Senin, 22 March 2010 Alfian Jamrah ISTANO Si Linduang Bulan adalah rumah gadang Tuan Gadih Pagaruyung yang merupakan rumah pusaka dari ahli waris Yang Dipertuan Raja Pagaruyung. Konon di sinilah lokasi istano raja itu pada mulanya, yakni setelah dipindahkan dari Ulak Tanjuang Bungo ke Balai Janggo pada 1550 masa Daulat Yang Dipertuan Raja Gamuyang Alam (Sultan Alif Khalifatullah Johan Berdaulat fil 'Alam I). Kemudian setelah istano lama ini semakin tua dan mulai runtuh, maka dibangunlah istano baru pada 1750 dengan namanya Istano Si Linduang Bulan.
Pada 1821 Istano Si Linduang Bulan yang terletak di Jorong Balai Janggo, Pagaruyung ini terbakar dalam Perang Paderi. Kemudian pada 1869 kembali dibangun oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu, beliau adalah kemenakan kandung Sultan Tangkal Syariful Alam Bagagar Syah Yang Dipertuan Hitam, anak dari Yang Dipertuan Gadih Reno Sori dengan Sultan Abdul Jalil Yang Dipertuan Sembahyang. Rupanya nasib malang masih menimpa istano ini karena terbakar lagi pada 3 Agustus 1969. Delapan belas tahun kemudian, timbul lagi kesepakatan para ahli waris Raja Pagaruyung untuk membangun kembali, maka pada 31 Agustus 1987 dilakukanlah peletakan batu pertama pembangunan Istano Si Linduang Bulan tersebut, diprakarsai Drs.Soetan Oesman Yang Dipertuan Tuanku Tuo, H. Aminuzal Amin Datuak Rajo Batuah, Raja Syahmenan bin H. Raja Harun (ahli waris Raja Beringin Seri Menanti Malaysia), Tan Sri Raja Khalid bin H. Raja Harun, Ir. H. Azwar Anas beserta seluruh Basa Ampek Balai, para niniak mamak Nagari Pagaruyung, anak cucu keturunan Raja Pagaruyung dan Sapiah Balahan Kuduang Karatan. Maka jadilah Istano Si Linduang Bulan yang dibangun pada tapak aslinya itu. Diresmikan secara adat pada 21 Desember 1989 dan secara formal pemerintahan pada 23 Desember 1989. Peresmian secara adat dilakukan dalam suatu prosesi adat yang didukung para pemangku adat se-alam Minangkabau, seperti Basa Ampek Balai, seluruh perangkat Kerajaan Pagaruyung, Langgam Nan Tujuah, Lubuak Nan Tigo, Tanjuang Nan Ampek, Sapiah Balahan, Kuduang Karatan, Kapak Radai, Timbang Pacahan serta undangan khusus Sri Sultan Hamengkubowono X, Raja Negeri Sembilan Malaysia, Raja Brunai Darussalam dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan peresmian secara formal pemerintahan dilakukan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi RI, yang waktu itu dijabat Soesilo Soedarman, dihadiri juga Ir. Ginandjar Kartasasmita Menteri Pertambangan dan Azwar Anas Menteri Perhubungan. Dua puluh tahun tiga bulan setelah itu, yaitu 21 Maret 2010 jam 01.30 WIB dinihari, Istano Si Linduang Bulan kembali dilalap si jago merah. Apa penyebabnya dan berapa jumlah kerugian belum dapat dipastikan, tapi yang jelas benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Pagaruyung tidak ada yang ikut terbakar karena disimpan di tempat yang lain. Istano Si Linduang Bulan memiliki model Alang Babega yang merupakan model khusus rumah gadang rajo. Model lainnya seperti Gajah Maharam, Rajo Babandiang, Bodi Chaniago, Koto Piliang dan lain sebagainya. Rumah gadang ini ukurannya 28 x 8 meter dengan 52 buah tonggak, antara lain: tiang tapi panagua alek, tiang tamban suko mananti, tiang panjang simajolelo atau tonggak tuo, tiang dalam puti bakuruang, tiang tangah manti salapan dan lain sebagainya. Semua bagian istano penuh dengan ornamen Minangkabau yang mempunyai filosofi khusus. Ukirannya saja ada 200 motif, seperti: aka cino bapilin, si kambang manih, pucuak rabuang, pisang sasikek, tupai managun, saik wajik dan lainnya. Di samping kiri dan kanannya juga terdapat anjuang, yaitu anjuang ameh tempat kedudukan rajo dan anjuang perak tempat kedudukan Tuan Gadih. Mungkin ornamen dan interior Istano Si Linduang Bulan adalah pernak-pernik yang paling lengkap dan paling indah yang pernah dimiliki sebuah rumah gadang di Sumatra Barat. Di Istano Si Linduang Bulan telah sering dilakukan acara baralek dan penganugerahan gelar sangsako (kehormatan) adat. Beberapa tokoh nasional dan daerah telah pernah menaiki rumah gadang ini, seperti: Sri Sultan Hamengubuwono X, Zulkifli Nurdin (Gubernur Jambi), Alex Nurdin (Gubernur Sumsel), Anwar Nasution (Ketua BPK-RI), Emil Salim (mantan menteri), Taufiq Ismail (sastrawan), Hasjim Djalal (mantan Dubes), Taufik Abdullah (sejarawan), Fadli Zon (politikus), Dharma Bakti (Sekjen BPK-RI), Syarifoeddin Baharsjah (mantan menteri), Elly Kasim (artis), dan puluhan orang tokoh lainnya. Terakhir Istano Si Linduang Bulan banyak dikunjungi wisatawan, terutama dari Malaysia, apalagi setelah Istano Basa Pagaruyung terbakar dan baru siap 90 persen hingga hari ini. Musibah yang menimpa Istano Si Linduang Bulan adalah kehilangan bagi kita semua masyarakat Minangkabau dan Sumatra Barat bahkan juga nasional. (*) http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=5736 -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe To unsubscribe from this group, send email to rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words "REMOVE ME" as the subject.
