http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/03/29/09315560/Masalah.Serius.Jam.Gadang..Dinding.Retak

Masalah Serius Jam Gadang, Dinding Retak

Artikel Terkait:
Jam Gadang Dikonservasi
Bukittinggi Tanpa Perda Benda Cagar Budaya
Bukittinggi, Fort de Kock, Berawal dari Pasar
Jam Gadang, Kini Tanpa Patung Hermes dan Harimau

Pradaningrum Mijarto
Penunjuk waktu yang terdapat di ujung atas menara Jam Gadang.Senin, 29 Maret
2010 | 09:31 WIB
KOMPAS.com - Dalam rangka merehabilitasi Jam Gadang, Badan Pelestarian
Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda di
bawah program Shared Heritage Fund, serta mitra-mitra BPPI seperti
Universitas Bung Hatta (UBH), Padang,  telah membentuk Tim Rehabilitasi Jam
Gadang (TRJG).

Tim yang sudah dibentuk BPPI ini bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta
(UBH). Tim inilah yang kemudian merekomendasikan agar dilakukan pengukuran
ulang terhadap Jam Gadang dengan menggunakan 3D Laser Scanner Photogramettry
untuk melihat struktur bangunan. Untuk ini tim Jam Gadang bekerjasama dengan
Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur.

Selain itu, TRJG juga merekomendasikan perlunya ekskavasi arkeologis untuk
mengetahui ukuran, bentuk, dan bahan fondasi Jam Gadang. Sejarah konstruksi
bangunan dan teknologi bangunan, serta penelitian terhadap jenis bahan yang
digunakan juga harus dilakukan.

Dari  pengukuran ulang yang dilakukan TRJG dengan menggunakan 3D Laser
Scanner Photogramettry, ditemukan adanya kemiringan sekitar dua derajat.
Kemiringan itu terjadi dari lantai satu hingga empat. Pada level satu dan
dua kemiringan cenderung ke arah barat sedangkan pada level tiga kemiringan
cenderung ke arah timur, dan pada level empat ke arah barat.

“Tapi tidak ada data apakah kemiringan itu terjadi setelah gempa atau
sebelum gempa,” kata Jonny Wongso dari TRJG beberapa waktu lalu di
Bukittinggi.

Sebelumnya, dalam pertemuan di Jakarta, Ivindra dari Lembaga Afiliasi
Penelitian dan Industri (LAPI) - Institut Teknologi Bandung (ITB)
menjelaskan, soal kemiringan adalah soal struktur. Kalau tidak menunjukkan
satu arah yang dominan, itu bukan kemiringan serius. Bisa saja disebabkan
oleh waktu, gempa. Kemiringan itu bisa ditoleransi, adanya retak-retak itu
malah yang bahaya dan harus segera diperbaiki,” paparnya.

Ia menambahkan, jika retakan itu bukan retakan pada fondasi bangunan Jam
Gadang , hal itu bisa dikatakan tidak serius. “Tapi memang harusnya ada
evaluasi struktur menyeluruh, perlu data mengenai bahan dan fondasi. Ini
untuk ke depannya. Karena tidak ada catatan kondisi Jam Gadang sebelum
gempa,” tandas Ivindra.

Sementara itu, Han Awal, arsitek senior yang juga pakar dalam bidang
pemugaran, menambahkan, dalam rangka rehabilitasi Jam Gadang,  tim harus
mengupayakan langkah ke arah perbaikan, bagaimana supaya pada gempa
berikutnya bangunan itu bisa tahan. Maka itu, katanya, perlu ada analisa
konstruksi historis.

Contoh dalam konstruksi historis itu, misalnya, pada umumnya pada abad 17
dan 18 Belanda mendirikan bangunan di pantai dengan menggunakan konstruksi
tanpa semen. Perekatnya pada umumnya pasir dan kapur.

“Kadang-kadang menggunakan putih telur. Dinding diplester kemudian diberi
lapisan kapur. Lembap yang terjadi karena rembesan air, tak sempat naik dan
mengenai konstruksi kayu karena kena terik matahari. Tapi yang terjadi dalam
perawatan, biasanya cat dinding tidak menggunakan kapur tapi cat akrilik.
Hasilnya malah lembap lebih cepat langsung ke konstruksi kayu,” jelas Han.
Artinya, bahkan perawatan kecil pun perlu memahami kaidah konservasi
sehingga yang namanya perawatan bukan malah merusak.

Ia menambahkan, “Pada tahun 1926 itu teknologi beton bertulang mungkin sudah
digunakan. Tapi beton bertulang yang teknologinya tidak seperti sekarang.
Jadi mengenal metodologi pembangunan dari periode tertentu, itu perlu
diingat dalam menangani konservasi bangunan,” ucap Han.

Tak lupa ia mewanti-wanti agar sebisa mungkin tim tidak mengubah apapun pada
bangunan yang dikonservasi. “Jangan lupa, jamnya juga perlu diperiksa
terkait kemiringan,” imbuhnya.




-- 
Z Chaniago - Palai Rinuak

Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau  .

Sayangi Danau Maninjau -

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe from this group, send email to 
rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words 
"REMOVE ME" as the subject.

Kirim email ke