BENARKAH GAJAH MADA ORANG SUMATERA???

Majapahit mengalami kejayaan saat jabatan Mahapatih dipegang oleh Gajah
Mada, dan Majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggal oleh Gajah
Mada Apalagi setelah wafatnya Raja Hayam wuruk. Kehebatan Gajah Mada
meninggalkan misteri tentang sejarah dirinya, didalam Nagarakretagama
dan Pararaton tidak ada yang mengungkapkan tentang sejarah diri Gajah
Mada. Misteri itu mulai ungkapkan dikalangan tertentu. Seperti
diungkapkan oleh sebagian masyarakat Melayu yang mengatakan bahwa Gajah
Mada merupakan anak dari Dara Petak.[1]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn1>  Cerita tersebut belum terlalu kuat
kebenarannya. Menurut kepercayaan masyarakat Bali yang tertulis dalam
kitab Usana Djawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali Agung dan pada
suatu ketika berpindah ke Majapahit. Gajah Mada tidak mempunyai Ibu dan
Ayah, melainkan terpancar dari dalam buah kelapa sebagai penjelmaan Sang
Hiang Narajana ke atas dunia[2]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn2> . Menurut Mohammad Yamin, menduga bahwa Gajah
Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan
diantara kaki gunung Kawi-Arjuna.[3]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn3>  Cerita rakyat Lamongan mengisahkan bahwa Gajah
Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo,
Lamongan). Di wilayah Lamongan bernama Pamotan.[4]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn4> 

  <http://fadlyrahman.files.wordpress.com/2010/02/dscn0060.jpg> 

Patung Gajah Mada

Gajah Mada prajurit Melayu pengawal Dara Petak dan Dara Jingga ke tanah
Jawa

Siapa sebenarnya Gajah Mada?  Pada tahun 1285 raja Kertanegara
mengirimkan utusan ke Kerajaan Sriwijaya (maksudnya Darmasraya tp bs
jadi Darmasraya berada dlm kekuasaan Sriwijaya) dibawah pimpinan Kebo
Anabrang (nama lainnya Mahesa Anabrang) dan Mahapatih Singosari
Adityawarman (maksudnya Sri Wiswarupa Kumara atau Adwaya Brahma, karena
nama Adityawarman baru muncul sesudah ekspedisi ini) membawa piagam
(arca) Amoghapaca dan menawarkan (melamar) pernikahan kepada kepada dua
putri kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan sebutan Pamalayu, karena
hadiah tersebut Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dan
segenap rakyat Sriwijaya (Darmasraya) sangat gembira. Kemudian para
utusan dari Kerajaan Singosari kembali ke tanah Jawa dengan membawa dua
orang putri Melayu yakni Dara Petak dan Dara Jingga yang merupakan
putri-putri dari Maharaja Sriwijaya (Darmasraya) Trailokya
Maulibhusanawarmadewa (nama lain dari Tribuanaraja). Perjalanan ke Jawa
sangat jauh dan berbahaya apalagi dua putri Maharaja tersebut dibawa
oleh orang-orang yang belum dikenal dengan baik oleh mereka. Maharaja
memerintahkan beberapa orang prajurit tangguh untuk mengawal kedua putri
tersebut, diantaranya adalah Gajah Mada yang masih masih berusia muda.

Gajah Mada bukan nama yang sebenarnya, itu hanya sebuah julukan atau
gelar yang diberikan kerajaan. Dahulu Maharaja Melayu selalu memberi
julukan atau nama kehormatan untuk para prajurit-parajurit terbaik
mereka dan selalu menggunakan nama-nama binatang seperti Harimau Campo,
Kucing, Kambing Hutan, Anjing Mualim, Gajah Tongga. Ada juga dengan
dengan sebutan si Binuang, Si Gumarang, Si Kinantan, Si Kumbang dan
banyak lainnya.[5]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn5>  Pemberian gelar tersebut masih dilaksanakan
sampai saat ini bagi orang-orang yang berjasa untuk Negara. Nama-nama
kehormatan itu selalu mempunyai arti dan makna begitu juga dengan
sebutan Gajah Mada. Mada dalam bahasa Melayu dialek Minangkabau
diartikan sebagai Bandel atau tidak bisa diatur, Jadi Gajah Mada itu
maksudnya binatang yang berbadan besar yang tidak bisa diatur atau Gajah
Bandel. Ketangguhan dan kesetiaan Gajah Mada dan rekan-rekannya terhadap
kerajaan sudah diakui sehingga mereka mendapat kepercayaan untuk
mengawal putri-putri  kerajaan ke Tanah Jawa.

Gajah Mada menjadi pengawal Majapahit

Sampai di tanah Jawa mereka tidak menemukan lagi Kerajaan Singosari dan
Kertanegara pun telah meninggal dunia. Pada saat itu telah berdiri
kerajaan baru yang bernama Majapahit yang didirikan oleh Raden (Ra
Hadyahan) Wijaya (Kertajasa Jayawardhana). Raden Wijaya memperistrikan
Dara Petak yang kemudian melahirkan Raja Majapahit berikutnya yakni
Jayanegara dan Dara Petak mendapatkan posisi sebagai Permaisuri kerajaan
Majapahit, sedangkan Dara Jingga diperistri oleh Mahapatih  Dyah
Adwayabhrahma (mgkn nama lain dari Mahesa Anabrang) yang melahirkan
Adityawarman yang kelak menjadi Maharaja tanah Melayu. Semasa Dara Petak
menjadi Permaisuri dan Jayanegara sebagai putra Mahkota Majapahit, Gajah
Mada dipercaya sebagai prajurit istana (Bhayangkara) yang mengawal
mereka. Dahulu seorang prajurit istana atau pengawal keluarga kerajaan
merupakan orang terdekat dan bisa dipercaya. Dikarenakan Gajah Mada yang
sejak awal sudah dipercaya oleh Kerajaan Melayu/Sriwijaya (Darmasraya)
untuk mengawal putri Dara Petak hingga pada masa di Majapahit dipercaya
untuk memimpin prajurit Bayangkara yang mengawal Dara Petak beserta
putranya.

Gajah Mada menjadi Patih

Pada tahun 1309, Raja Kertajasa Jayawardhana meninggal dunia, yang
kemudian posisi Raja digantikan oleh Jayanegara. Naiknya Jayanegara
dapat pertentangan dari berbagai kalangan di Istana Majapahit termasuk
patih Nambi dan Wiraraja dikarenakan Jayanegara adalah keturunan Melayu
dan bukan keturunan asli Singosari. Maka terjadilah pemberontakan
keduanya, yang akhirnya dapat dipadamkan. Ketidakpuasan didalam istana
berlanjut, terjadi pemberontakan Kuti dan Semi. Bermula dari peristiwa
inilah, Karir Gajah Mada naik setelah dia berhasil menyelamatkan Raja
Jayanegara dari serangan Kuti dan Semi. Kemudian Gajah Mada juga
berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Atas jasanya itu, Gajah Mada
di angkat menjadi Patih Kahuripan dan dua tahun kemudian dipercaya
sebagai Patih Kediri.

Terjadi suatu peristiwa pembunuhan Raja Jayanegara oleh tabib Kerajaan
yang bernama Tanca. Pada saat Raja sedang mengalami sakit bisul seperti
biasa Tanca dipanggil untuk mengobatinya tapi ternyata dibalik itu ada
maksud untuk menyingkirkan Raja Jayanegara. Dalam Penjagaan oleh Gajah
Mada tanpa curiga akhirnya Tanca berhasil membunuh Raja Jayanegara.
Dengan sangat terkejut, Gajah Mada Spontan menarik kerisnya dan
menancapkan ketubuh Tanca hingga tewas.  Peristiwa Tanca ini merupakan
bagian dari pertentangan dan ketidaksenangan dalam istana kepada Raja
Jayanegara. Sepeninggal Jayanegara, terjadi kekosongan kekuasaan.

Akhirnya Gajah Mada mengangkat Putri  Tribuanatunggadewi sebagai Ratu
Majapahit dan bersama saudarinya Rajadewi memerintah Majapahit
bersama-sama. Pengangkatan seorang wanita sebagai pemimpin Majapahit
tidak masalah bagi Gajah Mada, dikarenakan dikampung halamannya seorang
wanita atau ibu sangat dihormati (Bundo Kanduang). Karir Gajah Mada
makin meningkat, setelah berhasil menaklukkan pemberontakan Keta dan
Sadeng. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit. Kemudian
didepan Ratu Tribuanatunggadewi, Gajah Mada bersumpah untuk menaklukan
Nusantara dibawah Kerajaan Majapahit dan sumpah tersebut dikenal dengan
Sumpah Palapa.

  <http://fadlyrahman.files.wordpress.com/2010/02/dscn0073.jpg> 

(Tonggak Gajak Mada). Konon saat mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada
Menancapkan Tonggak ini

Bersama dengan Adityawarman dan rekan-rekan lainnya, Gajah mada berhasil
menaklukan Nusantara seperti Palembang, Tumasik (Singapura), Pulau
Bintan, Aru/Barumun, Tanjung Pura, Pahang, dan sebagainya. Pada masa
Hayam Wuruk, Gajah Mada memperluas taklukan seperti Pulau Seram, Bima,
ambon, Buton, Sumba, Timor, Makasar dan sebaginya. Keberhasilan ini
membuat Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Ada beberapa
kerajaan yang belum takluk dalam kekuasaan Majapahit yakni Kesultanan
Samudera/Pasai dan Kerajaan Sunda Galuh. Kerajaan terakhir ini, yang
membuat karir Gajah Mada jatuh.

Gajah Mada dicopot

Pada tahun 1357,  Hayam Wuruk yang telah menggantikan ibunya sebagai
penguasa Majapahit, ada keinginan untuk berusaha menundukan kerajaan
Sunda Galuh dengan cara perkawinan. Hayam Wuruk melamar putri dari
Maharaja kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka (Dyah Lembu Tal
atau Dewi Singhamurti atau Mahisa Campaka). Pada saat acara lamaran
berlangsung, Gajah Mada mempunyai keinginan kerajaan Sunda Galuh
menggabungkan diri dan menjadi kerajaan bawahan Majapahit. Gajah Mada
telah banyak belajar dari sejarah Majapahit, seperti yang dilakukan
Kerajaan Melayu/Sriwijaya (Darmasraya) yang telah menerima lamaran raja
Kertanegara dari Singosari dan mengizinkan salah satu putrinya menjadi
istri raja Kertanegara walaupun akhirnya putri Dara Petak menikah dengan
Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara yang merupakan
pendiri Kerajaan Majapahit yang mengaku sebagai penerus Kerajaan
Singosari.

Keinginan Gajah Mada tidak disambut dengan baik pihak Kerajaan Sunda
Galuh, hingga terjadi perang bubat yang mengakibatkan tewasnya rombongan
pengantin termasuk Maharaja Sunda Galuh dan akibatnya lagi, putri Dyah
Pitaloka yang mengetahui kejadian ini akhirnya bunuh diri. Hayam Wuruk
marah dan memecat Gajah Mada sebagai Mahapatih, kejadian itu berlangsung
selama dua tahun. Tidak ada yang bisa mengantikan kepiawaian Gajah Mada
dalam memimpin kepatihan Majapahit dan akhirnya Gajah diangkat kembali
walaupun kekuasaannya sudah dibatasi.

Gajah Mada pulang kampung ke Suwarnabhumi setelah pensiun

Pada tahun 1364, keinginan Gajah Mada pulang ke kampung halaman untuk
menghabiskan sisa hidupnya sangat besar, apalagi Adityawarman telah
menjadi Maharaja Suwarnabhumi. Seperti pepatah Melayu mengatakan Hujan
Emas di negeri orang, Hujan Batu di negeri sendiri yang maksudnya
seenek-enaknya hidup dinegeri lain lebih enak lagi menghabiskan hidup
dinegeri sendiri. Penemuan kuburan yang diduga makam Mahapatih Gajah
Mada di Bengkulu Utara memperkuat asal usulnya sebagai orang Melayu.
Penemuan ini merupakan suatu bukti sejarah yang sangat berharga.[6]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftn7>  Sejarah Gajah Mada yang disamar-samarkan
menjadi jelas.

Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, terjadi pergolakan untuk
memperebutkan tahta Raja. Tahta Raja Majapahit berikutnya dikuasai oleh
Wikramawardhana yang merupakan keponakan dari Hayam Wuruk, sedangkan
putra Hayam Wuruk yang bernama Wirabumi merasa berhak mendapatkan
kedudukannya sebagai raja Majapahit. Pada tahun 1400, Wikramawardhana
menyatakan mundur sebagai raja dan memberikan kekuasaan kepada anaknya
Ratu Sugita. Hal ini membuat Wirabumi makin tidak senang, terjadilah
pemberontakan selama bertahun-tahun. Untuk membantu putrinya memadamkan
pemberontakan, Wikramawrdhana kembali dari pertapaannya yang akhirnya
pemberontakan tersebut dapat dipadamkan dan menewaskan Wirabumi. Sejak
saat itu, Majapahit kehilangan kewibawaannya dimata kerajaan bawahannya.
Sehingga beberapa raja-raja bawahan menyatakan kemerdekaannya dari
Majapahit.

Jakarta, Fadly Rahman

Sumber :

[1]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftnref1>  Basril Basyar dan Ampera Salim, Prosesi
Penobatan SBY Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, Website
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, 22 September 2006, Hal 4

[2]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftnref2>  Muhammad Yamin, Gajah Mada Pahlawan
Nusantara, Penerbit Balai Pustaka, tahun 1953

[3]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftnref3>  www.igardu.com <http://www.igardu.com/> ,
Wied, Peradaban Nusantara, Gajah Mada, dari mana asalmu?, 17 Nopember
2007

[4]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftnref4>  Sujatmiko,  Asal-usul Patih Gajah Mada asli
Lamongan Diteliti, www.tempointeraktif.com
<http://www.tempointeraktif.com/> , 22 juni 2009

[5]
<file:///C:\Documents%20and%20Settings\user\Local%20Settings\Temp\Rar$EX
00.516\index.html#_ftnref5>  Ampera Salim, Sejarah yang tercecer, Nagari
tertua di Ranah Minang, http://www.sumbarprov.go.id
<http://www.sumbarprov.go.id/> , Hal 1

[6] http://www.sinarharapan.co.id/berita/01017/23nus09.html
<http://www.sinarharapan.co.id/berita/01017/23nus09.html>  , Diduga
Makam Gaja Mada, Sinar Harapan, Senin 23 Juli 2001

 

Sumber : 

http://fadlyrahman.wordpress.com/2010/02/23/gajah-mada-orang-sumatera/ 

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

<<image001.jpg>>

<<image003.jpg>>

Kirim email ke