Puncak Pato Oleh K Suheimi Beberapa kali saya ke Puncak Pato. Puncak Pato selalu diselimuti awan, atau hujan rintik atau kabut tebal Tapi hari ini Sabtu 3 April berbeda sekali Kami rombongan Alumni SMA 1 B Tinggi sampai di Puncak Pato Jam 17. Udara sangat bersih, sejuk dan segar srta agak dingin. Tanpa awan dan kabut apalagi hujan. Pandang dakek batukiakkan, pandang jauah balyangkan. Kami menyaksikan sebuah Panorama yang tiada terpermanai indahnya seperti pesan Mak angah Syamsir Syarif yang pernah menjelajahi tempat ini puluhan tahun nan silam
Batua bana nan sarupo mak angah katokan dan itulah kato sabananyo Dari Andaleh baruah menanjak melihat pemandangan nan luar biasa Kebetulan awan ngak kabutpun sirna udara sangat bersih sehingga apa yang mak angah sampaikan itu nyata adanya seperti kata mak angah dibawah ini Kalau dari Umbilin ke Batusangka tantu malalui Sumawang taruih kateh melihat Merapi di depan. Ambo panah malaui tabaliak dari Batusangka ke Umbilin melihat Singkarak di depan mata. Menjelang sampai di Puncak Pato nanti sesudah Andaleh Baruah Bukik caliak-caliak urang mamikua garigiak/tabuang niro sapanjang jalan mambawo niro segar. Kalau indak, mungkin ado lapau di sabalah kida jalan dima urang mambawo garigiak niro tu istirahat atau sadang mangumpuakannyo. Cubolah niro fresh tu. Kalau lah sampai ka Puncak Pato,layangkan pandangan ka kuliliang. Nikmati Alam Kampuang Halaman nan Indah Ciptaan Ilahi. Ke arah Barat lihatlah Ranah Batusangka dengan latar Belakang Merapi terpampang. Agak ke sebe lah kiri sedikitmungkin sayup mato mamandang tampak Singkarak, Umbilin dan Sumawang yang ditinggakan tadi. Arah ke kanan barat sedikit tampak Salimpauang dan Tabek Patah; jauh dibulakangnyo tabayang Ranah Agam Tuo. Ke utara Nikmati Sago dari dekat. Bayangkan lingkaran Sago keliling dengan berita Galodo Sago dibaliknya yang baru-baru ko kito danga. Arah ke timur, layangkan mata dari utara ke Selatan. Lembah Lintau Buo nan subur kelihatan Makmur. Jauh di belakang Lembah berjejer Bukik Seribu, dinding-dinding berlapis indah bagian Timur Batang Sinamar. Jauh dibalik Bukit Seribu, bayangkan (tidak kelihatan tentunya) ada lagi lembah Sempit Lembah Batang Sumpu dengan sejarahnya tersendiri setiap masa. Ke arah Timur Selatan terlihat Kawai dan Buo terus ke Kumanis di latar Belakang. Daerah itulah nanpernah ambo namokan "Triangle Kumanis - Buo - Sumpur Kudus", daerah "Trias Politika kedudukan Rajo Alam - Rajo Adat - RajoIbadat. Kenangan indah di Puncak Pato yang menakjubkan. Tulis mak angah mengakhiri suratnya. Puncak Pato ini terkenal karena dulu kala, sekitar tahun 1916 nenek moyang kita pernah berkumpul disitu. Lingkup semuanya termasuk tokoh-tokoh adat, alim ulama dan cerdik pandai, berhimpun berkumpul dan bersepakat, mengadakan Sumpah sakti bukit marapalam. hasil kesepakatan itu tercurah dalam sebuah ikrar yang akhirnya di kenal dengan "Piagam Bukit Marapalam". Isi piagam inilah yang jadi renungan saya saat ini, ketika saya di angkat dan di minta oleh Pak Drs Hasan Basri Durin Dt Rangkayo Mulie Nan Kuniang menjadi salah seorang pengurus LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minang Kabau) Sumbar pada seksi pembinaan Adat dan Syara'. "Piagam Bukit Marapalam" berisi; "Adat bersendi sara', sara' bersendi Kitabullah; sara' mangato adat mamakai". Terbaca disini bahwa , Adat adalah mempraktek kehidupan beragama sesuai dengan ajaran Islam yang berdasarkan Qur'an dan hadis. Adat dalam bentuk amal nyata ada juga yang menyebutnya sebagai dakwah bil hal. Disini ter ungkap bahwa syara' mangato dan adat memakai. Apa yang dikatakan oleh syara' di jalankan oleh adat. Jadi adat dalam bentuk amal nyata apakah perbuatan ataukah perkataan. Jadi antara adat dan agama itu terjalin hubungan yang sangat erat melekat dan bergelintin. Agama adalah rohnya dan jiwanya dan adat adalah jasmani nya. Makanya adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitabullah. Dalam adat di kenal istilah "alam takambang jadikan guru". Jadi sebelum Agama Islam datang, orang minang sudah belajar dari alam. Dan alam itu sendiri sesungguhnya adalah ayat-ayat dan tanda kebesaran Allah. Karena ayat itu ada yang tertulis ialah dalam buku kecil; Al-Qur'an. Dan ada ayat yang tak tertulis yaitu alam atau buku besar. Tapi bagi orang-orang yang jeli justru melihat di dalam alam ada tulisan yang besar-besar yang menandakan dan menampakkan kebesaran Allah dalam setiap hurufnya. Puncak Pato 3 April 2010 Powered by Telkomsel BlackBerry® -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.
