"Oneng, Jangan Kau Curi Kambing Emaaakk !!!"

oleh : Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer & penulis)


"The best way to predict the future is to create it".
Peter F. Drucker


Kisah yang akan kututurkan ini adalah kisah nyata. 
Kisah nyata yang cukup memilukan dan mungkin belum berakhir sampai
sekarang. 
Meskipun yang menceritakan sudah tidak bekerja lagi padaku, namun kisah
ini akan selalu kuingat sampai kapanpun.

Kadang aku berpikir bahwa inilah luar biasanya kehidupan itu. Seringkali
seperti halnya malaikat yang berada di sekeliling kita, tidak selalu
menampakkan diri dalam rupa yang berkilauan,
begitu pula dengan berkat, rejeki atau apapun namanya, 
seringkali datang menjumpai kita tidak dalam wujud uang, 
harta dan kesuksesan. 
Kadang ia menyamar dalam bentuk kesehatan, 
persahabatan teman-teman, pelukan hangat istri dan anak-anak kita,
atraksi lucu hewan peliharaan dan tanaman kesayangan yang berbunga, atau
bahkan dalam wujud yang ekstrim seperti sakit-penyakit, kesedihan,
kegagalan sementara, kebangkrutan, 
bahkan pengalaman pahit milik orang lain.

Keharmonisan kita dengan hidup ini dan keyakinan kita akan cinta
TUHAN-lah yang kemudian memegang peranan penting, 
sejauh mana semua itu dapat ditransformasikan ke dalam bentuk kebaikan,
karena memang segala sesuatu yang terjadi disekitar kita berlaku dengan
satu maksud, yakni membaikkan diri kita.

Adalah seorang wanita tua renta bernama Isah (bukan nama sebenarnya). 
Diumurnya yang hampir memasuki tujuh puluh tahun, ia masih harus bekerja
sebagai pembantu rumah tangga.

Rambutnya sudah menipis, dan yang tersisa itupun sudah tidak berwarna
hitam lagi. 
Keriput tidak dapat disembunyikan lagi pada kulit wajah dan tangannya. 
Apalagi bau badannya... bau khas nenek-nenek !

Pertemuan kami, pertama kali dengan nya, sempat memunculkan rasa simpati
dan iba yang mendalam. 
Sejujurnya, tidak sampai hati kami untuk mempekerjakan Bi Isah
-seharusnya kami memanggilnya dengan Nek Isah- sebagai pembantu rumah
tangga, tetapi apa boleh buat, ia sangat mendesak kami untuk menerimanya
bekerja. 
Bahkan bagaimana ia memohonpun masih teringat jelas dibenakku. Bergetar
parau, sambil menahan tangis. 
Seolah ada kesesakan yang begitu besar dalam dadanya.

Bagaimana mungkin kami sanggup menolak permintaan yang demikian itu ? 
Permintaan dari seorang nenek tua, untuk bekerja sebagai pembantu
dirumah kami.

Apakah ia tidak memiliki anak dan cucu untuk merawatnya ? 
Tidak, Bi Isah tidak sebatang kara. 
Tetapi hidup -tanpa sebuah pilihan yang lain- memposisikan ia sama
seperti orang yang sebatang kara di dunia ini.

Belakangan Bi Isah baru bercerita tentang anaknya, 
sebut saja Oneng. 
Seorang anak yang dilahirkannya dari benih seorang lelaki yang sangat ia
benci. 
Laki-laki itu menipu Bi Isah, sehingga ia bersedia 
menikah dengannya. 
Dan ketika ia sedang hamil, sekonyong-konyong datanglah seorang
perempuan mencaci-makinya, menuduh Bi Isah merebut 
suami orang. 
Seisi kampungpun gempar, orang tua Bi Isah merasa terhina, parahnya
mereka semua melemparkan kesalahan itu padanya. Sementara Si Lelaki
Hidup Belang- Wajah Bopeng ini akhirnya meninggalkan Bi Isah begitu saja
(sekali lagi : begitu saja) seolah-olah tidak terjadi apa-apa, persis
seperti seseorang yang tiba-tiba saja terbangun, karena ketiduran di
pinggir jalan, 
lalu bangkit, berjalan pulang melenggang dan meneruskan tidur dikasurnya
di rumah.

Dalam kebencian Oneng dikandung.
Dalam kebencian juga akhirnya Oneng dilahirkan.

Merasa belum sanggup melupakan segala dendam dan sakit hati, Bi Isah
lalu menitipkan anaknya ini kepada ibu kandungnya sendiri, walaupun
berjanji tetap akan bertanggung jawab menafkahi Oneng. Ia pun berangkat
dan bekerja berganti-ganti tempat dan majikan, 
di Jakarta, Makasar, Bogor dan beberapa daerah yang lain.

Singkat cerita Si Oneng -tepat dihari pernikahannya- mengetahui
asal-usulnya. 
Ia terguncang. 
Bom waktu itupun meledak sudah. 
Bi Isah yang berharap itu menjadi pertemuan yang mengharukan pun harus
kecewa. 
Ternyata Oneng bereaksi tidak seperti yang diharapkannya.

Selanjutnya perjalanan hidup Oneng merupakan kisah memilukan dan
memalukan bagi kaum ibu diseluruh dunia. 
Kawin cerai, menyisakan anak dimana-mana. 
Pemuda ugal-ugalan yang tidak pernah mau bekerja menafkahi anak dan
istrinya sungguh-sungguh. 
Jangankan bakti kepada Bi Isah, Oneng melakukan persis kebalikan dari
semua perlakuan yang seharusnya dilakukan seorang anak pada ibunya. 
Ia menelantarkan Bi Isah, meminta uang dengan kasar, memeras, mencuri
tabungan ibunya, bahkan puncaknya ia merencakan untuk mencuri dan
menjual kambing aqeqah -yang dibeli dari hasil kerja keras ibunya
bertahun-tahun sebagai pembantu.

Bi Isah yang mengetahui rencana Oneng, akhirnya menitipkan dua ekor
kambingnya itu kepada family jauhnya.
Namun Oneng tidak menyerah, bak detektif kelas wahid ia terus memburu,
mencari tahu dimana kambing-kambing itu berada. 
Niat durhaka Oneng ini membuat Bi Isah dipenuhi perasaan cemas setiap
hari, tak jarang matanya terlihat bengkak karena menangis. Malam-malam
dilalui dengan susah tidur, memikirkan tingkah laku anak kandungnya itu.

Kami iba, namun tidak sanggup berbuat apa-apa. 
Sekali lagi, sepertinya hidup memang memaksa Bi Isah untuk berhadapan
seorang diri dengan anaknya.

Entah bagaimana ujung kisah itu berakhir, yang jelas dalam sebuah
kesempatan Bi Isah menasehatiku dengan mata berkaca-kaca.

"Aden (begitu ia memanggilku)... mumpung Aden masih muda dan masih
banyak kesempatan, Aden harus berhati-hati melangkah dalam hidup. Karena
apapun yang kita buat, apa itu kebaikan atau keburukan, akan kembali
lagi ke kita, Den. Tidak ada tempat untuk sembunyi. Bener-bener tidak
ada tempat...untuk sembunyi".

Hanya dua tahun Bi Isah bekerja pada kami. 
Tetapi kenangan dan pelajaran hidup yang ia tinggalkan sangat dalam
terpatri dihati ini. 
Pelajaran bahwa hidup ini adalah sebuah investasi, namun tidak seperti
investasi saham, surat berharga dan reksadana, yang mana tidak dapat
kita ketahui hasilnya dengan pasti, namun hidup memiliki HAKIM, yang
menjamin bahwa hasil investasi seseorang akan kembali kepada orang itu
sendiri.

Ini tentu kabar baik untuk mereka yang sudah menginvestasikan hal-hal
baik dalam hidupnya, sekaligus kabar buruk untuk mereka yang
menginvestasikan yang sebaliknya.

(***) 


 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke