A M A N A H

Oleh : Dr.H.K.Suheimi

Subuh ini jum'at 9 April saya diminta memberi kuliah subuh di masjid An Nur, 
saya awali dg membuka surat Al ahzab ayat 72

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan 
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka 
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. 
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Kata-kata Amanah adalah suatu kata yang seakar dengan Aman, iman. Amin
Kata yang sering kita dengar, kata yang sering kita sebut dan kata yang sering 
di hembuskan dan di bisikkan setiap kali kita mendengar wejangan atau nasehat. 
Dan pada hakekatnya semua yang 
nyangkut dengan kita adalah amanah yang di percayakan. Dan setiap sesuatu yang 
di percayakan akan diminta kelak pertanggung jawab 
nya. Waktu yang di berikan untuk apa digunakan. Kesehatan untuk apa di 
manfaatkan. Anak istri adalah amanah. Ilmu yang di berikan 
apakah ada di sebar luaskan dan di gunakan untuk hal yang bermanfaat. Untuk 
semua itu marilah kita sama-sama merenung; Untuk apa
hidup ini, dari mana hidup ini dan apa tujuan hidup ini.

Hidup ini berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan (Inna lillah wa inna 
ilayhi raji'un) Sesungguhnya kita berasal dari Tuhan dan kita kembali 
kepada_Nya. Tuhan adalah asal dan Tujuan hidup. 
Karena itu manusia harus berbuat sesuatu yang bisa di pertanggung jawabkan di 
hadapan_Nya, baik di dunia ini maupun khususnya kelak dalam pengadilan Illahi 
di akhirat.
Sesungguhnya Shalatku, ibadahku. hidupku dan matiku Lilahirabil ‘alamin
Adalah sikap berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan itu yang menjadi inti dan 
hakekat agama dan keagamaan yang benar. 
Maka sikap berserah diri kepada Tuhan itulah jalan lurus menuju kepada_Nya, 
menerima jalan lurus itu bagi manusia adalah sikap yang paling fitri, alami dan 
wajar.
Bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Yaitu bahwa 
Tuhan adalah wujud mutlak, yang menjadi sumber semua wujud 
yang lain. Maka semua wujud yang lain adalah nisbi belaka.

Berada di lubuk hati yang terdalam pada hati nurani itu ialah kerinduan kepada 
kebenaran, yang dalam bentuk tertingginya ialahbertemu Tuhan dalam semangat 
berserah diri kepada_Nya.

Ber Islam sebagai jalan mendekati Tuhan itu adalah dengan berbuat baik kepada 
sesama manusia, disertai sikap menunggalkan tujuan hidup lkepada_nya, tanpa 
kepada apapun yang lain jua.

Amanah memang berat Tuhan sendiri mengatakan amanah itu berat. 
Amanah itu telah di pikulkan pada lamgit, langit menolak. Dipikulkan pada Bumi, 
bumi menggeleng. dipikulkan pada bukit, Bukitpun tak mampu memikulnya. Hanya 
manusialah yang sanggup memikul amanah. Memikul amanah itulah yang diamanahkan 
Tuhan pada kita.


"Sesungguhnya Allah telah menawarkan amanah itu kepada langit, bumi dan 
bebukitan, namun semuanya menolak untuk menanggungnya karena khawatir 
meng-khianatinya, lalu dipikulah amanah itu oleh 
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh"
( al-Ahzab: 72)
" Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh " zalim terhadap dirinya 
sendiri dan bodoh terhadap diin yang telah dituntunkan Allah untuknya.
Kini, tak ada waktu lagi untuk berfalsafah, kenapa mesti menerima amanah Allah 
itu dsb-dsb.? Yang perlu adalah menyambut amanah ini mewujudkan qiadah Allah di 
Bumi dalam semangat dan kesiapan sami'na wa atho'ana (kami dengar dan kami 
taat).

Kemarilah berbai'at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, 
tidak mencuri, tidak berzinah, tidak membunuh anak-anakmu,
tidak akan berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di 
belakangmu,
dan tidak akan membantah perintahku dalam hal kebaikan.
(Bai'at Aqabah I)

Aku bai'at kamu untuk membelaku sebagaimana kamu
membela istri dan anak-anak kamu.
Barra' bin Ma'rur menjabat tangan Rasulullah SAW 
seraya menjawab, "ya, demi Allah yang telah mengutusmu
sebagai Nabi dengan membawa kebenaran,
kami berjanji akan membelamu sebagaimana kami
membela diri kami sendiri.
(Bai'at Aqabah II)

Sebagai ibroh dari bai'at Aqabah, sebagai rijal dalam dien ini
maka tak ada pilihan apalagi membuang waktu untuk menunggukomando, untuk 
menunggu datangnya pimpinan. Kita sendiri mesti memberi arti pada bai'at itu 
dalam bentuk amal, sehingga dengan penuh bangga dan dada lapang kita dapat 
berkata, "wa ana minal
Muslimin", saya adalah seorang Muslim, saya telah menyerahkan seluruh hidup 
hanya untuk Allah, menyerahkan diri untuk diatur oleh hukum Allah, telah 
menjual harta dan jiwa dengan syurga Allah, saya hanya mengharap ridhaNya, dan 
saya akan membela dien ini mesti harus membunuh dan terbunuh (At Taubah:111), 
kemuliaan didunia, mati syahid atau syurga Allah, hanya itu. Inilah sikap 
Muslim yang berakhlaq islami.

Semoga amanah yang di amantkan kepada kita adalah amanah yang dapat kita 
pertanggung jawabkan. Untuk itu kita teringat akan 
sabda Rasul :
[1]Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintakan 
kelak pertanggung jawabnya terhadap apa-apa yang di pimpinnya"

An Nir 9 April 2010
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke