Bialah ambo print tulisan sambutanko sebagai pelengkap buku edisi pertama
nan ambo terimo dari IJP. Beko kalau alah kalua edisi revisi insya Allah
ambo bali
melalui RangDapua. Apokah buku Bouraq-Singo vs Garuda dijua juo oleh
RangDapua?
Ambo ingin memilik ciat.

Wassalam

2010/4/11 Indra Jaya Piliang <[email protected]>

> Buku untuk Bangsa
> Sambutan Launching Dua Buku di JMC, 09 April 2010)
> Oleh
> Indra Jaya Piliang
>
> Assalamu’alaikum Wr Wb.
>
> Hari ini, Jum’at, 09 April 2010, adalah tepat setahun pelaksanaan pemilu
> legislatif. Artinya, empat tahun dari sekarang akan diadakan pemilu lagi.
> Waktu yang pendek untuk membenahi banyak hal yang terasa carut-marut dalam
> pemilu lalu. Mudah-mudahan, tahun ini juga akan dimulai proses revisi
> terhadap paket undang-undang bidang politik. Apabila tahun depan revisi itu
> selesai, maka proses sosialisasi dan pembuatan peraturan-perundangan lainnya
> juga membutuhkan waktu.
>
> Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa menerbitkan sebuah memoar, apalagi
> memoar tentang kekalahan. Ada juga yang menyeringai dan mungkin sampai
> sekarang tetap mencibirkan kehadiran buku setebal 591 halaman ini. Untuk
> menunjukkan bahwa saya juga menulis selain memoar, kehadiran buku
> “Bouraq-Singa Kontra Garuda” juga berjejer sebagai pendamping.
>
> Ijinkan saya menjawab pertanyaan itu hari ini. Buku yang saya tulis selama
> kurang lebih enam bulan ini adalah bagian dari potret demi potret dalam
> layar kehidupan seorang anak bangsa. Potret yang juga dimiliki oleh orang
> lain, dengan beragam profesi. Buku yang sebetulnya tertunduk malu kepada
> pendiri-pendiri bangsa, kepada para penulis cum politisi, kepada buku-buku
> lapuk dimakan usia yang berisi ungkapan cerdas penuh makna tentang
> perjuangan politik yang berujung kepada kemerdekaan, pasca-kemerdekaan,
> peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Mereka menulis jauh lebih muda umurnya
> dari saya.
>
> Kenapa memoar? Kalau hanya sekadar pikiran-pikiran tentang masalah-masalah
> besar bangsa ini, saya kira banyak kaum intelektual sudah menuliskannya.
> Pikiran-pikiran besar yang bisa dikutip dari text-book manapun. Seorang
> politikus, di negara manapun, tidaklah dinilai begitu saja dari apa yang dia
> pikirkan, melainkan apa yang sudah dia lewati dan lalui. Rekam-jejak
> politikus lebih banyak dikaitkan dengan proses yang sudah dijalankan dalam
> hidup, ketimbang impian-impian besarnya tentang Indonesia dan masa depan.
>
> Hadirin Yang Terhormat
>
> Sepuluh hari lagi saya berusia 38 tahun. Kalau dibandingkan  dengan usia
> Soekarno, itulah era tahun 1939 yang penuh gejolak dan harapan, mengingat
> Soekarno lahir tahun 1901. Tiga tahun setelah itu, Pak Jusuf Kalla lahir di
> Watampone, tanggal 15 Mei 1942, ketika balatentara Jepang mulai mengintip
> kekayaan alam Indonesia dan mulai berjalan dengan kaki-kaki pendeknya. Tahun
> 1980, ketika Pak JK seumur saya, adalah masa-masa yang sibuk dengan kegiatan
> ekonomi dalam bonanza dan lautan minyak.
>
> Kalau dibandingkan antara Soekarno dan Pak JK dengan saya, maka saya dan
> Soekarno lebih duluan masuk dunia politik. Setahu saya, Pak JK baru mulai
> bersentuhan dengan Golkar pada tahun 1984 di usia 42 tahun, bersama dengan
> Bang Fahmi Idris dan kawan-kawan. Atau mungkin Pak JK masuk lebih ke
> belakang lagi, sekitar akhir tahun 1980-an.
>
> Soekarno sudah menulis banyak sekali buku sebelum berusia 38 tahun.
> Buku-buku yang lahir di penjara, pengadilan dan diskusi lintas-aliran.
> Konon, Soekarno membaca lebih kurang 70.000 buku selama hidupnya atau
> sekitar 1.000 buku per tahun. Mungkin jumlah itu terlalu besar akibat
> bisikan dan doktrin sejumlah senior ketika saya menjadi mahasiswa.
> Katakanlah Soekarno membaca 7.000 buku atau 100 buku per tahun, tetap saja
> jumlah buku di Indonesia terlalu sedikit. Dan sebagian besar buku di
> Indonesia, apalagi buku-buku politik, masuk kategori buku-buku langka. Ada
> apa?
>
> Saya tidak ingin mengutuk itu. Sebagai politikus, saya harus melakukan
> sesuatu. Kehadiran dua buku pada hari ini adalah bentuk dari “sesuatu” itu.
> Politisi harus lebih banyak bekerja dan berbuat, ketimbang mengutuk keadaan.
> Sekalipun saya bukanlah seorang pejabat publik yang menghuni kursi di
> parlemen atau pemerintah, tetap saja tanggungjawab sebagai politisi akan
> hinggap di pundak saya sampai akhir hayat nanti.
>
> Tentu ada alasan yang lebih kuat, yakni saya tidak bisa memasang iklan.
> Kini berkembang pemikiran bahwa untuk menjadi ketua umum partai politik,
> anda harus memasang dan membuat iklan banyak-banyak. Kata-kata yang pendek
> dan dangkal diulang-ulang. Bagi saya, itu adalah pembodohan. Biarkan media
> melakukan tugasnya. Kalau memang ingin menjadi pemimpin sebuah partai –
> apalagi menjadi pemimpin bangsa ini – maka tulislah buku. Dengan buku,
> banyak hal yang bisa anda katakan.
>
> Jadi, saya menolak mengatakan sedang memulai sebuah tradisi baru di
> kalangan politisi, yakni dengan menulis buku. Yang lebih tepat adalah saya
> mengulangi lagi apa yang pernah dilakukan oleh pendiri bangsa Indonesia yang
> mayoritas terdiri dari para penulis dan pemikir. Tidak ada jenderal yang
> ikut-ikutan mendirikan negara Republik Indonesia. Kalaupun ada yang berasal
> dari luar kalangan dunia intelektual, ya, mereka dikenal sebagai saudagar,
> organisatoris lembaga sosial kemasyarakatan dan tokoh-tokoh yang berasal
> dari kerajaan-kerajaan pra-Indonesia.
>
> Hadirin Yang Mulia
>
> Tentang isi buku saya, tentu akan ada perdebatan. Silakan saja. Kecuali
> kesalahan penulisan nama, alamat, pekerjaan atau kesalahan-kesalahan teknis
> lainnya, Insya Allah akan saya perbaiki di edisi berikutnya. Terlalu banyak
> nama yang saya tulis dalam buku, terutama buku memoar, bahkan belum semuanya
> terisi di halaman index. Biarlah saya menjadi si buta dan si tuli,
> menyangkut apapun persepsi pembaca menyangkut isi buku. Saya tidak akan
> membelanya. Kecuali ada orang-orang yang ingin melarang peredarannya atau
> membakarnya, tentu saya akan melawan.
>
> Saya menulis puisi untuk kedua buku ini:
>
> Naskah Biru-Hitam
> : utk MMO & BSKG
>
> Ada yang lahir, ada yang mati
> Ada yang menangis, ada yang tertawa
> Ada yang fana, ada yang abadi
>
> Padamu, tertumpuk seluruh rasa, seluruh bahasa
> Tentang hidup, derita, cerita, berita
> Bahkan kabar-kabar kepedihan
> Senyum tulus persahabatan
> Hunus pedang, hunus kelewang
> Busa-busa kata, kata-kata berbisa
>
> Kamu, kalian, bukanlah pelarian
> Tapi tujuan
> Terawang cahaya dunia bisu
> Butir-butir ilmu samudera waktu
>
> Kulepas kalian
> Ke alam bebas
> Di genggaman orang-orang
> Berteman lampu, lilin, petromak atau matahari siang
>
> Tidurlah, lelaplah
> Lupakan bahwa kita pernah bermalam-malam
> Sejak dini hari ke dini hari
> Berbulan-bulan
> Bersama-sama bekerja ntuk saling memberi-menerima
>
> Kupungut kau, kalian, dari tanda-tanda langit
> Kau sapa aku, pandangi tombol-tombol huruf dan angka di laptopku,’ ntuk
> gerakkan tangan dan jariku
> Selain kata, kau dan kalian, apalagi yang hadir dalam kenisbian?
> Selamat jalan...
>
> Jakarta, 11 Maret 2010
>
> Dengan buku ini, saya mencoba memulai langkah-langkah kecil. Ibarat rumah
> yang diterjang gempa, maka dunia politik juga lagi sedang runtuh-runtuhnya.
> Party Id hanya sekitar 20-an persen, kecuali mendekati pemilu legislatif.
> Dunia politik seakan dunia yang sunyi dan magis, hanya dipenuhi oleh
> dedemit, gendoruwo, sihir sampai dukun. Langkah pertama saya untuk
> merasionalisirnya dimulai dengan menyampaikan semacam pidato di Universitas
> Paramadina pada tanggal 06 Agustus 2008. Pidato yang menegaskan bahwa saya
> bukan lagi seorang yang netral. Saya berpihak, parsial dan tidak lagi
> independen. Saya memanjat akar licin yang menjuntai pada dahan dan batang
> pohon beringin.
>
> Buku ini juga bagian dari langkah kecil itu. Sebuah pertanggung-jawaban
> kepada publik tepat setahun usai pemilu. Sejumlah cerita dari dunia dalam
> bagi masyarakat awam. Juga beragam pengalaman dan pengetahuan baru tentang
> masyarakat, terutama di Sumatera Barat. Sungguh, untuk pengalaman itu, saya
> berterima kasih kepada siapapun yang sudah berinteraksi dengan saya. Tentu
> yang pertama kepada Pak Jusuf Kalla dan yang kedua dan seterusnya untuk yang
> lain.
>
> Pak JK bagi saya hari ini adalah seorang guru olah pikir. Ada bagian yang
> saya tidak tuliskan dalam buku soal ini. Entah kenapa, saya menjadi lupa.
> Nanti saya hadirkan dalam edisi revisi. Padahal, menurut saya, itulah fase
> kelahiran bagi seorang JK yang baru yang kemudian menyingsingkan lengan
> baju: lebih cepat, lebih baik. Apa itu? Biar Pak JK yang menceritakannya.
> Yang saya tahu, Pak JK menjadi lebih cepat dan lebih baik, setelah migren di
> kepalanya tidak lagi mengganggu, lewat sebuah operasi di rumah sakit terbaik
> di planet bumi ini yag terapung di tengah galaxy.
>
> Hadirin Yang Mulai Bosan
>
> Sampailah saya pada akhir pidato pendek berjudul “Buku untuk Bangsa” ini
> dengan menyampaikan sebuah lampiran. Lampiran yang sampai hari ini tidak
> terawasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Badan Pengawas Pemilu atau
> PPATK. Apa itu? Dana kampanye pribadi saya. Inipun luput ditulis dalam buku,
> sekalipun saya memiliki datanya. Sebagai politisi, saya diajarkan untuk
> menyiasati Undang-Undang. Tidak ada kewajiban yuridis yang harus saya penuhi
> untuk menyebutkan biaya pribadi kampanye saya.
>
> Karena itu juga, saya tidak akan bercerita sedetik-detiknya. Biar saya
> menyebut saja garis besarnya. Bukankah ini sebuah awal saja? Bagi saya,
> salah satu ukuran bagi seorang politisi adalah seberapa banyak ia
> menyumbang, bukan seberapa banyak ia menyumbang dengan anggaran pribadi.
> Siapapun bisa menjadi politisi dengan bermodalkan uang. Semakin banyak
> seorang politisi disumbang, semakin ia memiliki tanggungjawab sosial kepada
> masyarakatnya.
>
> Sampai tanggal 09 April 2009 lalu, saya menghabiskan anggaran sebesar lebih
> dari Rp. 1 Milyar. 30% lebih dana itu berasal dari anggaran pribadi saya,
> termasuk uang pensiun dari CSIS. 25% disumbangkan oleh seorang pengusaha
> yang mungkin sadar bahwa saya adalah anak yang lucu yang lagi jumpalitan di
> jorong, korong dan nagari. 10% dana itu berasal dari seorang menteri yang
> berasal dari partai lain. Seorang menteri lain dari Partai Golkar,
> menyumbang sebanyak 2%.
>
> Tiga orang gubernur kepala daerah, satu dari partai yang berbeda -- baik
> secara garis perjuangan maupun populasi penduduk yang lain agama dengan
> Sumbar--, masing-masing menyumbang sebanyak 2%. Jumlah 2% juga disumbangkan
> oleh seorang pengusaha muda yang kini sepertinya “turun daun”, entah kenapa.
>
> Berapa sumbangan Pak JK? Sebanyak 5%. Hampir sama dengan sumbangan bekas
> boss saya di CSIS dan teman saya yang banyak turun dengan baliho-balihonya
> di Sumbar 1. Teman saya yang lain yang ada sub-babnya dalam buku memoar,
> menyumbang sebesar 2,5%, lalu di bulan terakhir menyumbang lagi 1%. Seorang
> dosen yang sukunya disembunyikan, sama-sama Piliang, menyumbang sebesar
> 0,7%. Yuddy Chrisnandi menyumbang 0,25% alias seratus kali lebih sedikit
> dari penyumbang terbesar saya. Sumbangan 0,25% ini lumayan banyak, juga ada
> seorang mahasiswa yang menyumbang 0,025% dan kawan yang lalu menjadi sangat
> akrab sebesar 0,5%.
>
> Kemana dana itu pergi? Alhamdulillah, menurut catatan Tim IJP 09 Center,
> paling banyak masuk ke mesjid, surau, pengaspalan jalan desa yang buruk
> dengan kerikil, buku-buku yang disebarkan ke banyak sekolah, biaya harian
> Tim IJP 09 Center yang terdiri dari anak-anak tamatan atau tidak tamat SD,
> beberapa pertandingan olahraga dan peralatan olahraga termasuk yang dikirim
> ke penjara, konsumsi ribuan orang dalam sejumlah kegiatan di posko IJP-09
> Center, juga tentu masuk ke lapau-lapau atau warung-warung penduduk di
> dusun-dusun yang sepi.
>
> Tidak ada dana itu yang masuk ke tangan dukun politik, makelar politik
> ataupun kepada kalangan yang mencari hidup lewat pesta lima tahunan itu.
> Sebagian kecil dana digunakan untuk membeli logistik, seperti baliho,
> spanduk, kalender dan lain-lainnya. Sebagian yang lain lenyap menjadi asap
> dari bahan bakar fosil yang dibakar. Dengan delapan bulan lebih saya dan tim
> di lapangan, berarti biaya yang keluar sebesar rata-rata Rp. 125 Juta per
> bulan atau sebesar Rp. 4 Juta lebih dalam sehari.
>
> Saya mengucapkan terima kasih atas sumbangan-sumbangan itu, besar atau
> kecil. Sebagai bukti saya bertanggungjawab atas dana publik itu, saya
> menulis buku ini sebagai bagian dari pertanggungjawaban. Saya juga berterima
> kasih atas bantuan pembuatan stiker, baliho, kalender dan spanduk serta
> karangan bunga yang diberikan selama kampanye. Termasuk juga saya berterima
> kasih kepada Fraksi Partai Golkar DPR RI yang telah membeli 500 eksemplar
> buku ini, kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang telah
> membantu untuk konsumsi kegiatan launching ini, kepada Jeffrie Geovanie,
> Poempida Hidayatullah dan Nurul Arifin yang juga membantu kegiatan ini.
>
> Dalam waktu dekat, saya berencana menulis – tepatnya menyalin—sebuah buku
> lagi dengan judul “1990: Jejak Langkah Anak-Anak Millenium”. Betul-betul
> subjektif. Salinan yang berasal dari catatan harian saya sepanjang tahun
> 1991-1998 atau dikenal sebagai era 1990-an. Tentu saya menjanjikan banyak
> sekali kejutan, terutama dalam kata-kata para mahasiswa dari beragam kampus,
> khususnya di Universitas Indonesia. Beberapa nama hadir di ruangan ini.
> Sebelum mereka benar-benar bertarung untuk alih generasi dalam beberapa saat
> lagi, biarlah riwayat mereka hadir dan menjadi cermin bagi kita semua.
>
> Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Terlebih dan terkurangnya, saya
> mengucapkan terima kasih. Wallahu’alam Bissawab...
>
> Wassalamu’alaikum Wr Wb
> Hormat Saya,
>
> Indra Jaya Piliang
>
>
>
>
>
> --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>  1. Email besar dari 200KB;
>  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
>  3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>
> To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.
>



-- 
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta, USA.
sekarang Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"Jauhilah buruk sangka, mematai matai, suka membicarakan/mendengar kejelekan
orang, dengki dan membenci. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara (HR
Bukhari-Muslim)

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke