Assalamualaikum ww para sanak sapalanta,
Saya teruskan tulisan dari Sanak Wildan Rasyid, guru SMA 3 Batu Sangkar, 
tentang cara memilih pemimpin yang tepat. Ulasan beliau sangat islami dan enak 
dibaca.
Mudah-mudahan bermanfaat dalam musim pilkada sekarang inim
Wassalam,
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Wildan Rasyid <[email protected]>
Date: Fri, 30 Apr 2010 20:58:33 
To: pakguruonline<[email protected]>
Subject: [pakguruonline] Tips Akurat Memilih Pemimpin yang Tepat





Tips
Akurat Memilih Pemimpin yang Tepat

Oleh : Wildan Rasyid

SMA Negeri 3 Batusangkar

 

Pemimpin negara,
baik itu presiden, gubernur, bupati/walikota, sampai ketua RT dan RW, semua itu
adalah pemimpin bagi setiap warganya. Seoranng pemimpin merupakan faktor
penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di saat suatu daerah atau kota 
dipimpin oleh
pemimpin yang bersahaja, jujur, cerdas dan amanah, maka insya Allah rakyatnya
akan aman, makmur dan sejahtera. Namun jika sebaliknya, daerah/kota itu
dipimpin oleh pemimpin yang korup, tidak jujur, zalim terhadap rakyatnya,
niscaya rakyat akan sengsara. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam
memilih pemimpin itu, perlu bagi kita menyiapkan langkah yang baik dalam
menentukan pilihan, kita mesti memiliki tips akurat memilih pemimpin yang
tepat. Agar pemimpin yang kita pilih benar-benar mampu mengayomi rakyatnya.

Dalam menilai
seorang pemimpin kriteria yang tepat adalah dengan merujuk pada gaya/sifat
kepemimpinan Rasulullah. Ada
beberapa sifat yang dimiliki oleh para nabi dan rasul, yaitu : Amanah (dapat
dipercaya), Siddiq (benar), Fathonah (cerdas/bijaksana), serta tabligh
(menyampaikan), keempat sifat ini juga layak untuk dimiliki oleh seorang
pemimpin.

Pilihlah
pemimpin yang amanah, agar dia benar-benar berusaha menyejahterakan rakyat,
mampu menaungi rakyat, mampu menghidupi rakyat, bukannya mencari hidup dari
rakyat, mampu melayani rakyatnya, bukan minta dilayani rakyat. Bukan hanya bisa
menjual asset negara atau kekayaan alam daerah untuk kepentingan pribadi dan
kelompoknya.

 Pilihlah pemimpin yang cerdas, agar dia tidak
mudah ditipu anak buahnya atau kelompok lain yang membuat rugi daerah/kotanya.
Seorang pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan dan
menyejahterakan rakyatnya. Dan juga mampu menegakkan keadilan dengan 
kebijaksanaannya
dalam mengambil keputusan.

Kadang-kadang
kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih untuk
golput(golongan putih). Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan
sikap yang kurang baik. Seandainya calon pemimpin itu tidak ada yang sesuai
criteria kita, maka pilihlah orang yang lebih baik akhlaknya dan dekat dengan
ulama, walau ia tidak sepintar yang lainnya, dari pada memilih orang yang
pintar, namun tak beragama. Tapi itu langkah terakhir yang ditempuh, sebaiknya
pilihlah yang cerdas intelektualnya dan mantap iman dan akhlaknya. 

Di dalam islam
kepemimpinan itu sangat penting, sehingga nabi pernah berkata, “jika kalian
bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin , jika hanya berdua, maka salah
satunya jadi pemimpin”. Shalat wajib pun yang paling baik adalah yang ada
pemimpinnya (imam). Oleh karena itu, kita mesti menyiapkan tips dan berpikir
kritis dalam memilih pemimpin. 

Sebagaimana
Allah telah berfirman,”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan
mendapatkan siksaan yang pedih, yaitu : Orang-orang yang mengambil orang-orang
kafir  menjadi teman-teman penolong dengan
meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir
itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An-Nisa’,4 :138-139).

 

Adapun beberapa
tips akurat dalam memiliih pemimpin yang tepat yaitu :

1.     
Memilih
pemimpin yang jujur.

Dari Ma’qil ra. berkata : “saya akan menceritakan kepada engkau hadist
yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda,
“Seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau
ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau
surga. (HR.Bukhari)”. Kita mesti memilih pemimpin yang jujur, yaitu jujur
terhadap diri sendiri, maupun orang lain. Jujur dengan kekuatan yang dimiliki,
sadar akan kelemahan dalam dirinya, serta berusaha untuk memperbaikinya.

2.     
Memilih
pemimpin yang transparansi dalam kepemimpinannya, ramah dan bersikap terbuka.

Pemimpin yang transparan dalam pemerintahannya dan bersikap terbuka, ia
akan mau menerima saran dan kritikan dari rakyat, bahkan ia takkan segan untuk
meminta pendapat langsung dari rakyat, demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya.
Dengan transparansi juga, rakyat akan percaya kepada pemerintah (karena tidak
ada bohong diantara kita). Selain itu carilah pemimpin yang bersikap terbuka,
yaitu yang mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi
kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.

3.     
Memilih
pemimpin yang memiliki latar belakang yang baik.

Hal ini dapat kita lihat dari pendidikannya, kehidupan, keluarga dan
keturunannya. Kita dapat mengetahuinya, setelah kita mencari tahu tentang siapa
dia (pemimpin) itu. (jangan-jangan ia mantan napi).

4.     
Memilih
pemimpin yang adil

Dewasa ini, memilih pemimpin yang adil sangatlah sulit, jika dibandingkan
dengan criteria lainnya. Kebanyakan pemimpin sekarang gayanya membela untuk
kepentingan rakyat, namun dibalik itu rakyat dibikinnya sengsara, demi
kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

            “sesungguhnya Allah SWT akan
melindungi negara yang menegakkan keadilan, walaupun ia kafir, dan sebaliknya,
Allah tidak akan melindungi negara yang zalim (tiran), walaupun ia muslim”
(mutiara I dr Ibn Abi Thalib)

Disaat rakyat kecil yang berlaku salah, katakanlah itu mencuri sebuah
coklat ataupun sebuah semangka, itu pun karena kelaparan, tidak ada uang
membelinya. Lalu mereka disidang dengan hukuman penjara. Namun disaat
tikus-tikus berdasi itu beraksi, mengakibatkan puluhan milyar negara dirugikan.
Tak ada hukuman bagi mereka, mereka masih dibiarkan berkeliaran bebas,
menari-nari diatas penderitaan rakyat, menikmati uang haram hasil gelapannya.
Hati-hati dengan pemimpin yang demikian, kita tentu tidak mau jika pemimpin
yang kita pilih, akan zalim kepada rakyatnya. Allah telah mengingatkan, “Hai
orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan
janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena
itu lebih dekat dengan taqwa” (QS.Al-Maidah : 51).

Di zaman Rasulullah, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun harus
dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta
Usama Bin Zaid, supaya memohonkan  kepada
Rasulullah utnuk membebaskannya. Rasulullah pun marah. Beliau bahkan
mengingatkan bahwa kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh
ketidakadilan dalam supremasi hokum seperti itu. 

Dikatakan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Adakah patut
engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang
diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah dan berkata : Hai
para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa
dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka
dibebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya
hukuman” (HR.Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud,Ahmad, Darlini dan
Ibnu Majah).

Begitu pentingnya pemimpin yang adil itu. Muhammad Isa Dawud dalam bukunya
“Dajjal Akan Muncul dari Segitiga Bermuda,
(1997:17) mengatakan bahwa negeri Swedia yang merupakan negeri terindah di
bumi ini, yang bagaikan surga firdausnya dunia, memiliki Raja Karl Gustav yang
merupakan seorang penguasa paling adil di muka bumi ini bersama rakyatnya.
Selain itu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengatakan, bahwa
ada 7 golongan yang akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah di
akhirat kelak, satu diantaranya adalah Pemimpin/imam  yang Adil. 

5.     
Memilih pemimpin
yang pandai dan cerdas

Antara orang pandai dengan orang cerdas tidaklah sama. Orang pandai ialah
orang yang dapat menjawab semua persoalan dengan ilmunya, seperti kecerdasan
berhitung, ilmu teknologi yang bersangkutan dengan kecerdasan Intelektualnya
(IQ). Namun orang cerdas mampu membaca keadaan, mencari kesempatan di tengah
kesempitan, kalau orang Minangkabau mengenalnya dengan orang yang arif dan
bijak. Orang cerdas/arif bijaksana bukan hanya pandai, tapi juga dapat
berpandai-pandai demi kemaslahatan rakyatnya. Itulah beda orang pandai dengan
orang cerdas atau arif dan bijaksana.

      Sebagai pemilih kita mesti cepat tanggap
dalam menilai, mana pemimpin yang pandai dan cerdas, mana pemimpin yang cuma
pandai. Orang yang banyak bicara dan banyak mengumbar janji, “saya kalau
terpilih, saya akan membangun ini dan itu…., mengratiskan ini dan itu….!” Biasa
orang seperti itu adalah orang yang bodoh, seperti kata peribahasa “air beriak 
tanda tak dalam”.

6.     
Memilih
pemimpin yang mampu berkomunikasi, semangat “team work”, kreatif, percaya diri,
inovatif dan mobilitas.

7.     
Jangan Memilih
pemimpin yang menjatuhkan atau mejelek-jelekkan orang lain/pemimpin yang sedang
berkuasa.

Kalimat yang demikian dapat kita lihat, ketika ia menggelar kampanye.
Menjatuhkandan menjelek-jelekkan orang lain, seolah ialah orang yang paling
benar. Hati-hatilah dengan orang yang demikian, tidak usah saja dipilih.

8.     
Memilih
pemimpin yang memiliki rasa kehormatan diri, kewibawaan, karisma dan
kedisiplinan seorang pemimpin

Dengan demikian ia mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas
semua kebijakannya. Kita dapat melihat kewibawaan dan karisma/figur seorang
pemimpin itu, saat ia berbicara di depan umum dan dalam kepribadian
sehari-harinya.

9.     
Kemudian
pilihlah sesuai dengan hati nurani kita.

Jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk Golput (golongan putih) atau
tidak memilih. Ingat…! Satu suara kita menentukan bangsa dan daerah ini 5 tahun
yang akan datang.

“Jadilah bangsa yang cerdas, pintar, dan berbudaya”. 

Dan ingatlah…! Kita harus mencegah kerusakan dan kemungkaran itu. Sesuai
dengan sabda Rasulullah,

 “Barang siapa melihat kemungkaran,
maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya 
merubah
dengan lisannya, jika tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati, yang
demikian itu adalah selemah-lemahnya iman(HR.Muslim).” 

 

 

 

 

 




-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke