Si Polan yang Egois dan Tak Peduli
Aku mempunyai dua orang ponakan di depok, Nadhia , kelas 3 SDIT mempunyai
hobby main game ,sedangkan Katrina sudah kelas 2 SMP hobby bersilancar di
internet, hamper tiap hari mereka berebutan mengunakan komputer, sampai keluar
peraturan kalau komputer Cuma dipergunakan hari jumat,sabtu dan minggu.
Hari jumat Katrina nyaman main komputer karna Nadhia pergi les sampai jam 7
malam, hari sabtu adalah hari yang nyaman oleh Nadhia karna hari sabtu dari
siang sampai jam 6 sore Katrina latihan basket, nah hari minggu adalah hari
rebutan, siapa yang duluan mengunakan komputer, sering sekali mendengar
perkataan seperti ini,
Kak, aku duluan dong, bentar aja kata nadhia kebetulan si kakak yang duluan
mengunakan komputer, enak ajah, kan aku duluan, ntar dong dedeknya, dedek mandi
ajah dulu atau main ajah dulu sahut Katrina, kenapa ngga kakak ajah yang mandi
duluan? Kenapa sih dek? Kan aku yang duluan, antri dong! Ah kakak, yang tua
ngga mau ngalah ama yang kecil ( mulai sok nih anak kan?) , dedek jg kaga’
ngertiin kakak, yang kecil itu harus nurut dan harus ngertiin ! Kakak yg harus
ngertiin!!! Eh dedek dong!!! Sahut2an diantara mereka sampai2 orang tua pun
ikut2an teriak2….dedek yang sabar dong , biar kakak duluan kalau ntar dah
selesai baru dedek main gamenya kan 1 jam ini, katanya mama, ah mama, kakak
mulu yang di belain, dedek napa sekali2…., kemudia si papa nyahutin juga,
sudah lah kak kasihlah dedeknya sebentar paling ngga lama, lama2 jg bosan,…. ah
papa kaya’ ngga tau dedek ajah...dedek mah betah mainnya pa…ntar kalau dah
giliran nana kaga’ mau
digantiin….sahut Katrina.
Yah kalian berdua kaya’ si polan ajah!!!!….kataku, siapa tu si polan nte?
Tanya mereka…. Si Polan itu seorang anak lelaki yang ayah tukang roti, nah
suatu hari si Polan disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Si
Polan itu segera berangkat berjalan kaki. Emang kotanya jaruh nte? Yah jarak
antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga yah seperti rumah kita
ke pasar depok deh. Lalu perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil
seperti di jembatan serong sebelum pasar depok itu…lanjutku.
Setelah ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Dia melihat anak lelaki sebaya
diseberangnya yang berjalan ke arahnya.Anak lelaki itu dan si Polan sama-sama
berjalan di jalur yang sama. Waktu mereka bertemu tepat di tengah-tengah
jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan.Si polah berhenti dan si anak itu
juga berhenti , mereka saling berpandangan. Si Polan berpikir, "Wah, kurang
ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku."
Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama,
"Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku."
Truss gimana dong nte? Tanya Nadhia
Yah karna tidak mau pada mengalah akhirnya mereka lama sekali saling berdiri
di tengah jembatan dan tak memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa
"Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian." Keduanya saling berpandangan
tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.
Ih mau2nya mereka yah nte? Katrina ikut nimbrung….Trus ayahnya nungguin lama
dong ? sambung nadhia?
Sampai Siang ayah si polan mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga
kembali. Ayah si polan lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya
ia sampai di jembatan dan melihat si Polan dan anak laki2 itu saling berdiam
dan berhadap-hadapan.
Pasti dimarahin sama ayahnya deh,..kata Katrina, yah iyalah kak….sahut Nadia ,
( aku Cuma tersenyum mendengarkan mereka) lanjutin nte…kata mereka
Lalu ayah berteriak pada si Polan "Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di
situ?" Si Polan menjawab, "Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali
tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?"
ayah mulai kesal lalu menarik nafas dalam2. Ia lalu berkata pada anaknya,
"Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli
tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak
memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!"
Lah koq gitu sih nte? Harusnya ayah si polan mengusir ke dua2nya koq malah
gantiin si Polan, mereka tetap panas2an dong di jembatan, papar Katrina.
Yah sama ajah dengan kalian berdua ini, rebutan computer , kalo tidak mau
ngalah, lama2 papa dan mamamu yang akan ribut, mau seperti itu?
Yah tante, ujung2nya ke kita….( mereka berdua cemberut )
Lalu datanglah mama mereka….dari pada ribut…mending komputernya dimatiin…dan
kakak dan dedek mandi lalu sarapan….!!!! Kaga’ ada cerita2 main computer hari
ini…kalo masih ribut…
Tuh kan…tante bilang apa…coba tadi….ada yg ngalah atau main berdua…kaga’
seperti ini kan jadinya….
Nah para sobatku…Teguh hati memang boleh. Sesekali mengalah demi tercapainya
tujuan bukanlah hal yang tercela. Tetapi bukan berarti lalu kita harus menjadi
tembok bagi tercapainya tujuan orang lain bukan?
Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan
itulah andaJangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya kerana kepandaiannya
berkata-kata tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya
Jangan menyalahartikan kegigihan dan ambisi menjadi egoisme dan ketidakperdulian
renny,ancol
www.renisy.blogspot.com
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe