Siang tadi, saya dikabari oleh Indra Sakti Nauli, wartawan di Padang, bahwa
ketika ia kembali dari Batusangkat, dapat kabar setelah pelayat pulang dari
kubur, Inyiak Palatiang, perempuan pendekar dan pencipta ratusan dendang
saluang, meninggal dunia dalam usia 110 tahun. Innalillahi wa inna illaihi
rojiun. Semoga inyiak mendapat tempat terbaik di sisiNya. Amin. untuk mengenang
beliau, berikut saya kutipkan tulisan saya tentang beliau, yang pernah dimuat
di Kompas.
KOMPAS - Jumat, 09 Jan 2004 Halaman: 12 Penulis: Yurnaldi Ukuran: 7441
Foto: 1
--------------------------------------------------------------------------------
INYIAK UPIAK PALATIANG, SEMANGAT TRADISI MINANG
DINGIN membalut Kota Bukittinggi. Jam Gadang di depan Istana Bung
Hatta menunjukkan pukul 23.30. Minggu, 14 Desember 2003, itu
berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran
Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang
pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran
bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. Mereka semua berusia 70 tahun ke
atas.
Yang mengejutkan sekitar 200 hadirin adalah munculnya perempuan
pandeka satu-satunya, yang dalam usia 104 tahun masih tetap
berkesenian, melestarikan, dan mewariskan silat tradisi Minang.
Namanya Inyiak Upiak Palatiang atau disapa Inyiak. Ia tampil bersama
anak dan cucunya.
Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat
Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. Gerakannya
lincah, sorot matanya tajam dan waspada. Ia menghalau serangan dengan
elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih). Ketika tangan lawan mengarah
ke dadanya, dengan secepat kilat ia tangkap dan memelintirnya dengan
satu gerakan mengunci. Inyiak memberi hormat, permainan usai. Tepuk
tangan riuh, pertanda salut dan kagum.
"Kecepatan dan ketangkasan gerak silat Inyiak sepertinya
menyaksikan perempuan berusia 30-40 tahun. Padahal Inyiak telah
berusia 104 tahun. Luar biasa dan mengagumkan," kata H Indra Catri,
pengamat seni tradisi dan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kota
Padang.
***
TIDAK sulit mencari Inyiak di kediamannya di Dusun Kubugadang,
Kecamatan Batipuah, Nagari IV Koto, Kabupaten Tanah Datar. Semua
orang tahu.
Pagi itu Inyiak tengah beristirahat sembari menikmati rokok
keretek setelah membersihkan halaman rumahnya. Duduk lesehan, Inyiak
bercerita dengan penuh semangat, sesekali mencontohkan gerakan silat
dengan jurus-jurus unggulannya, baik dalam posisi berdiri maupun
dalam posisi rebah di lantai.
Inyiak masih melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah, bahkan
ke sawah, menyiangi padi. Ingatan, pendengaran, dan penglihatannya
ternyata masih normal dan tajam.
Inyiak mengatakan, silat merupakan salah satu jenis tradisi
Minang yang banyak diminati masyarakat. Silat di lahirnya mencari
kawan, sedang di batinnya mencari Tuhan. Maksudnya, silat adalah
ajang untuk silaturahmi, memperkokoh persaudaraan dan persatuan.
Dari mana saja mereka berasal, kalau sudah menyebut nama sang guru,
berarti mereka bersaudara. Karena itu, amat jarang ada perkelahian
antarkampung, antardaerah.
Mencari Tuhan, maksudnya, bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya.
Menyadarkan orang yang berniat jahat sekaligus menyadarkan kita
sendiri. "Makanya, dalam prosesi bersilat, turun ke gelanggang,
berdoa kepada Tuhan dan keselamatan atas Nabi menjadi yang utama.
Murid yang ingin menuntut ilmu silat pun harus memenuhi persyaratan,
misalnya mempunyai niat dan hati bersih, tidak untuk gagah-gagahan.
Perlu diingat, silat bukan untuk membunuh orang, tapi membunuh sifat-
sifat buruk seseorang, seperti busuk hati, dengki, buruk sangka, sok
jagoan, dan sebagainya. Pada akhirnya murid silat akan dekat kepada
Tuhan," katanya menjelaskan.
Sebagai ilmu bela diri, silat tak kalah hebat dari ilmu bela diri
lainnya. Silat itu ilmu Tuhan. Ia runcing tapi tidak menusuk, ia
tajam tapi tak menyayat. Begitu salah satu filosofinya.
Menurut Inyiak, keunggulan silat tradisi Minang itu di gelek,
semacam gerak refleks yang bagaikan kilat. Pada saat lawan mau
menghunjamkan pisaunya, misalnya, tendangan atau gerakan tangan kita
sudah bersarang di titik-titik vital di tangan lawan sehingga senjata
tajam terlepas.
"Apa pun jenis senjata, termasuk peluru yang ditembakkan, bukan
hal aneh dalam silat tradisi Minang. Secepat peluru melesat, lebih
cepat lagi tangan menangkap peluru tersebut. Seseorang yang mendalami
ilmu silat bisa jatuh bak kapas atau hinggap di daun seperti kapas,"
papar Inyiak.
Didampingi anaknya kemudian, Mawardi (58) dan Zulfachri (42)
alias Uncu, Inyiak mengiyakan apa yang dijelaskan anaknya itu.
"Aliran silat tua di Minang cukup banyak, puluhan. Salah satunya,
yang kini diajarkan dan diwarisi Inyiak, adalah silat Gunung
(Marapi)," kata Uncu.
***
INYIAK Upiak Palatiang tidak hanya seorang perempuan pendekar
satu-satunya yang masih hidup dan masih tetap bersilat, tetapi juga
seniman yang telah menciptakan ratusan syair/lagu dendang saluang dan
pantun-pantun pertunjukan randai. Bahkan, ia juga seorang pendendang
terkenal.
"Inyiak telah menciptakan ratusan syair/lagu dendang saluang dan
pantun-pantun untuk randai, yang sampai kini karya-karyanya masih
dikagumi orang. Inyiak juga seorang pendendang terkenal dan mempunyai
karisma. Pitunang (daya pikat, bagai magnet) suaranya mengagumkan,"
kata Musra Darizal Rajo Mangkuto (56), seniman tradisi Minang dan
murid Inyiak.
Lagu/syair dendang ciptaan Inyiak yang terkenal antara lain
Singgalang Kubu Diateh, Singgalang Gunuang Gabalo Itiak, Singgalang
Ratok Sabu, Singgalang Layah, Singgalang Kariang, Singgalang Alai,
Indang Batipuah, dan Parambahan Batusangka.
Menurut Musra, atau lebih dikenal Dakatik, lagu terakhir yang
sempat ia pelajari dari Inyiak adalah Singgalang Gubalo Itiak.
Syairnya begini: Urang Gunuang gubalo itiak/ Hari sadang pukua duo/
Kalau rancak usah diambiak/ Nantikan rila dek nan punyo//. Syair ini
bercerita tentang seorang perempuan cantik, yang membuat banyak
pemuda tergila-gila. Namun, meski ia cantik, tak usah diambil
(digaet), tanpa seizin yang punya (pacar atau suaminya). Pesan yang
hendak disampaikan adalah hidup ini harus berjelas-jelas.
Yang khas dari syair-syair ciptaan Inyiak adalah ia suka lagu-
lagu ratok (ratap) atau lagu-lagu rusuah (risau hati). Pilihan kata
atau sampiran pada lagu/syair ciptaannya cerdas dan punya logika.
Tidak asal bunyinya sama. Sampirannya tidak terlalu jauh.
Contohnya Manga dek bolai nan dibubuik/ Bungo tampunik lareh
balun/ Manga dek carai tuan sabuik/ Niaik di hati sampai balun//.
Bolai adalah jenis kunyit yang harum. Namun, bungo tampunik lebih
harum lagi. Di situ terlihat bahwa sampirannya lebih mengandung isi.
Pesannya adalah janganlah ada niat memperistri lagi perempuan cantik,
sementara istri yang lebih cantik belum terniat untuk menceraikannya.
Menurut Musra, kalau syair-syair itu didendangkan sendiri oleh
Inyiak, kekuatannya menjadi lain. Sebab, garinyiak suaro (vibra,
semacam anak suara yang diiringi cengkok) atau pitunang suaro Inyiak
memukau. Katanya, "Mendengar suara Inyiak, orang bisa tertarik,
terkesima, dan jatuh hati. Sesuatu yang tidak dipunyai oleh banyak
pendendang lain."
Kelebihan lain, Inyiak juga guru bagi sejumlah peniup saluang.
Inyiak pandai mengajarkan garitiak saluang, bagaimana "menikam"
garinyiak suara/dendang.
"Melihat peran yang begitu besar dan kecintaan Inyiak kepada
kesenian tradisi Minang, seperti silat, randai, saluang, hingga
menciptakan ratusan syair/lagu yang abadi sampai kini, bahkan di
usianya yang lebih 100 tahun masih terus berbuat, seharusnya
pemerintah atau lembaga kesenian memberikan penghargaan buat beliau,"
kata Musra dan Indra Catri. (YURNALDI)
Foto:
Kompas/yurnaldi
INYIAK UPIAK PALATIANG
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe