Nadhifah Az Zahra
by Aryandi @ http://www.hnsbis.com/content/nadhifah-az-zahra
Seusai menjemput Dhila seperti biasanya di rumah, kedatangan kami ditunggui 
oleh istri dan Imam. Namun suasana agak berbeda ketika saya melihat ada sebuah 
tas kecil dan tas sandang istri yang siap untuk diangkat. Secara spontan saya 
tanya ke istri, “Bun, sudah ada tanda-tandanya?”. Pertanyaan ini sering saya 
tanyakan secara bercanda, namun kali ini ada nada seriusnya. Hanya dengan 
senyuman manis istri, aku sudah bisa harus bertindak apa. 
Setelah anak-anak tidur siang dan hujan pun mulai reda, kami berangkat ke Rumah 
Sakit Sari Asih. Menjelang jam tiga sore, kami sudah berada di Lantai tiga, 
ruangan persalinan. Istriku mendapatkan pemeriksaan awal dan dinyatakan sudah 
mengalami pembukaan tiga serta dilakukan rekam medis terhadap janin. Sesuai 
saran dari dokter kandungan, dr Riyana SPOG akan dilihat perkembangannya hingga 
jam 21.30. 
Tak lama sesudah itu, aku minta Fera dan Rini, adik-adikku yang menemani 
anak-anak dirumah hingga malam dan nanti akan digantikan oleh Yolanda. Yolanda 
pulang kantor langsung ke rumah sakit. Setelah melihat kondisi kakaknya, kami 
minta untuk menemani anak-anak malam ini di rumah. Yolanda kos di daerah 
Grogol, dekat kantornya, kadang weekend baru mampir ke rumah kami. Sekitar jam 
20.30 wib Fera dan Rini kembali ke rumah mereka karena mereka sudah 
berkeluarga, punya anak dan suami.
Menjelang jam 22.00 Wib, Nova baru mengalami pembukaan empat dan kemudian rekam 
mediknya diulangi, re-chek kondisi bayi yang bisa saja berubah sewaktu-waktu. 
Setelah semuanya OK, induksi dilakukan. Alhamdulillah selama induksi ini, istri 
saya bisa tidur lebih kurang dua jam lebih. Saya bersyukur, itu artinya dia 
bisa menjaga stamina untuk melahirkan nanti. 
Sekitar jam 1.00 dini hari, dia terbangun, merintih sakit karena kontraksi yang 
mulai sering dirasakan dan makin cepat durasinya. Dibantu oleh perawat, Nova 
pun pindah ke ruangan persalinan dan ternyata di ruangan tersebut dr. Riyana 
sedang membantu persalinan seorang Ibu. Alhamdulillah proses persalinan ibu ini 
bisa berjalan dengan mudah, normal. Ibu dan bayi laki-lakinya selamat. 
Doa yang saya panjatkan sedari siang tadi saya ulangi lagi, berusaha lebih 
khusyuk dan lebih khusyuk lagi. Dan menurut dokter, insya ALLAH dalam waktu 
kurang dari satu jam, istri saya pun akan melahirkan. Saya berwudhu’ dan sholat 
hajat di musholla lantai tiga, bermunajat pada ALLAH untuk kemudahan, 
kelancaran dan keselamatan untuk istri dan anak kami ini.
Melihat kelahiran sebelumnya, istri saya tampak lebih cerah dan bersemangat. 
Apalagi dokter muda ini, orangnya sangat sabar dalam membantu kelahiran. Rini, 
adik saya setahun yang lalu dia juga yang membantu persalinannya. Saran dari 
Rini ini pula yang menetapkan Nova untuk selalu konsultasi dengan dr Riyana 
ini. 
Dokter muda ini ternyata memotivasi Ibu yang melahirkan tadi. Dia yakinkan 
dengan sepenuh hati bagaimana Ibu ini sanggup untuk melahirkan dengan normal. 
Ini adalah kelahiran anaknya yang kedua. 
Ibu ini bercerita bahwa tiada perawat ataupun bidan yang mendamping saat akan 
melahirkan di salah satu RS di kawasan ciledug. Akhirnya dia tak sanggup lagi, 
kehabisan tenaga saat pembukaan delapan dan akhirnya anak pertama lahir 
terpaksa lahir dengan caesar. Ibu ini mengalami trauma, namun alhamdulillah 
dengan motivasi dari dr Riyana ini ternyata dia bisa melahirkan dengan normal. 
Berbeda dengan apa yang kami lihat dan rasakan di Sari Asih ini, team 
perawatnya senantiasa stand by, mendampingi pasiennya. Dr Riyana ini pun 
termasuk salah satu dokter kandungan yang selalu menyarankan pasiennya untuk 
bisa melahirkan dengan normal. 
Menjelang setengah dua dini hari, kontraksi istriku pun makin cepat, dan 
kelihatan dia berusaha manahan sakit dengan senantiasa berucap ALLAHU’AKBAR. 
Entah kenapa sehabis sholat hajat tadi, dengan mantap saya usap rambut istri 
dengan penuh kasih dan terucap dalam hati, “ALLAH akan memudahkanmu, sayang”. 
Istriku ini termasuk orang yang suka memudahkan urusan orang lain dan saya 
tambah yakin bahwa ALLAH akan memudahkan persalinannya. 
Saat kontraksi, dengan bantuan perawat, kami bantu untuk mengatur tarikan 
nafasnya. “Tarik nafas bun…., tiup pelan-pelan”. Enam atau tujuh kali ini 
ucapan ini berlalu, saya lihat perawat sudah memanggil dokter Riyana dan 
sejawatnya yang lain. Baru saja saya diminta dokter untuk mengangkat kepala 
istri, tanpa saya sadari ternyata sang bayi sudah berada diatas perut istri.
Subhanallah… spontan saja entah beberapa kali kalimat ini terucapkan. Ya ALLAH 
engkau telah mengabulkan permntaanku. Aku cium kening istriku beberapa kali 
sambil berucap kebesaran-Nya. Ku lihat wajah istri ku sangat berbahagia, tak 
terkirakan. Tak ada ucapan yang keluar dari mulut dia selain menyebut nama 
ALLAH selama sakit menahan kontraksi, begitu juga saat bahagia ini. 
Tak diduga, ternyata tangan dokter Riyana ini sudah mengulurkan sebuah gunting 
padaku untuk memotong ari-ari. Aku tidak meminta, tapi sepertinya dia tahu apa 
yang menjadi keinginanku. Keinginan yang tak sempat terucapkan selama ini. 
Dengan tangan kanan yang masih mengangkat kepala istri, aku terima gunting 
tersebut dengan tangan kiri. Ternyata sangatlah susah bagi aku memotongnya, 
alot sekali. Beberapa kali dicoba ternyata tidak juga putus. Aku tersadar 
setelah dengan halus dokter Riyana meminta menggunakan tangan kanan. Perlahan 
aku turunkan kepala istri ke bantal, dan dengan ucapan basmallah, sreeet, 
sekali gunting ari-ari tersebut putus. Aku membathin, “Nak, engkau telah 
menyadarkan ayahmu, semoga kelak Dhifa menjadi anak yang sholehah ya sayang.” 
Dan memang islam mengajarkan segala sesuatu dimulai dengan basmallah dan selalu 
dahulukan tangan kanan.
Segera sesudah itu aku pun mengikuti perawat yang membawa bayi kami ke ruangan 
sebelahnya untuk dibersihkan, ditimbang, diukur dan diambil sidik jari. 
Kesempatan tersebut aku gunakan untuk mengambil photo Dhifa dengan kamera HP. 
Setelah bersih secara perlahan aku lafazhkan adzan dan iqomah di telinga kanan 
dan kirinya, dengan harapan semoga kelak dia tidak lupa dengan perintah sholat, 
karena sholat adalah tiang agama. 
Perlahan aku angkat si kecil, digendong dan aku bawa menemui bundanya yang 
sedang dibersihkan. Bundanya tersenyum sembari bersyukur. Aku letakkan bayi 
kami disisinya, dan aku mengambil pakaian ganti. Tak lama berselang, istriku 
sudah bersih, ari-ari sudah terletak dibawah tempat tidurnya, sementara bayi 
kami sudah dicoba untuk disusui oleh bundanya.
Akupun mulai mengabari sanak famili dan sahabat tentang kelahiran bayi kami ini 
lewat sms. Namanya pun langsung disampaikan, yakni Nadhifa Az Zahra, sesuai 
kesepakatan kami berdua. Dhifa lahir dengan berat 3,4 kg dan panjang 50 cm pada 
4 Mei 2010 jam 02.40 WIB. 
Nadhifah artinya bersih, Az Zahra artinya bunga. Mudah-mudah kelak dia seperti 
apa yang kami namai, karena dibalik sebuah nama ada doa dan pengharapan dari 
kami selaku orang tuanya.
Setelah beberapa kali sms, saya lihat dr Riyana berjalan pulang. Ada keriangan 
di wajahnya yang telah membantu dua persalinan malam itu. Saya salut dan sangat 
berterima kasih atas apa yang dia lakukan. Dibalik kehamilannya yang sudah 
memasuki usia delapan bulan, dia tetap energik, senantiasa berusaha menolong 
pasiennya dengan penuh kesabaran di tengah malam.
“Terima kasih dokter”, ucapku ketika dia pulang. 
 
ARYANDI, 37 th 
note: tulisan ini saya dedikasi untuk Dhifa dan dr Riyana SPOG, yang melahirkan 
secara caesar di Depok pada 5 Mei 2010.


      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke