Assalamualaikum wr wb
Pak Saaf , pak Abraham sarato dunsanak sapalanta,

Manukuak saketek, bahwa salain Koto Gadang, nagari  Banu Hampu alah lamo
pulo  nan bagotong-royong mamajukan pendidikan tinggi bagi putra-putrinyo.
Hampir satiok kota 'pelajar' seperti Bandung, Yogyakarta, Medan didirikannyo
asrama mahasiswa.  Ambo yo  ndak ado data sarupo nan disampaikan Pak
Abraham. Tapi asrama mahasiswa nan di bangun dari mereka untuk mereka.  Baa
caronyo ?  Para mahasiswa nan barasa dari Banu Hampu mambantuak "Panitia
Pembanguan', lalu  menggerakan pangumpulan dana dari rang BH nan di
rantau,,,, terutamo para saudagar baik di 'Tanah Abang' dan sejenis.
Biasanya mereka membeli sebuah rumah tinggal dan berlokasi sekitar kampus
--mis di Bandung di Cisitu Baru-- lalu mereka rehab sesuai peruntukannya.
Semua kegiatan mulai dari Perencanaan, Pembangunan di laksanakan oleh para
mahasiswa,  sekaligus sebagai ajang 'praktek' bagi mhs nan hampie salasai.
Setiap kemanjuan pekerjaan pembangunan dibuatkan laporanannya lengkap dengan
foto dsb sebagai pertanggung jawaban kepada donatur............. dengan
demikain para donatur yaitu masyarakat BH ikut berpartisipasi.

 Asrama mahasiswa ini diperuntukan pula bagi 'calon mahasiswa' nan baru
datang dari kampung untuk di bimbing dalam menghadapi test masuk PT.

Motto inspiratif dari mhsw Banu Hampu kl " Ku Bangun Kampungku Untuk
Nusantara" ( mohon maaf tepatnya ..... tolong dikoreksi'

Kiranya sakitu sen tukuak dari ambo, semoga ado gunono'
Talabiah takurang bari maaf ambo

Wassalam
Masrur Siddik, >68th
di Bandung


2010/5/13 Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>

> Pak Abraham dan para sanak sapalanta,
>
> Tarimo kasih ateh kiriman fakta sejarah Koto Gadang. Ambo setuju Koto
> Gadang bisa dijadikan *case study* untuak tahu baa caronyo suatu
> masyarakat bisa unggul dari masyarakat nan lain, nan intinyo adolah adonyo
> visi dan organisasi nan mandorong dari dalam, digarakkan dek surang tokoh
> visioner dan kharismatik saroman Jahja Datoek Kajo. Dalam hal iko, Koto
> Gadang bisa jadi contoh.
>
> Kok baitu, usaho supayo di Minangkabau bisa lahia jenius-jenius -- kok iko
> memang diinginkan -- adolah antaro lain 'manikam jajak' Koto Gadang, nan
> paralu dirintis dek ' Jahja Datoek Kajo-Datoek Kajo' Minangkabau abad ka 21.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta)
>
>
>
> --- On *Thu, 5/13/10, Abraham Ilyas <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Abraham Ilyas <[email protected]>
> Subject: Re: Nomor Kaceo DAMI Bara?===>Re: [...@ntau-net] JENIUS-JENIUS
> MINANGKABAU. KENAPA TIDAK?===>Jenius-jenius Indonesia
> To: [email protected]
> Date: Thursday, May 13, 2010, 5:52 PM
>
>
> *1. Yang menjadi pertanyaan dalam diri saya adalah: mengapa TAK SEORANGPUN
> YANG BERASAL` DARI RANAH MINANG ?
> Bukankah adat Minangkabau justru menyuruh kita agar ber-'alam talambang
> jadi guru' yang bisa diartakan secara canggi agar anak-anak Minang menjadi
> jagoan ilmu fisika, kimia, biologi dan teknologi tinggi ?
>
> 2. Apa karena kita tidak menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan
> tumbuh dan berkembangnya 'industri otak' seperti yang pernah disampaikan
> oleh Prof Dr Emil Salim ?
>
> 3. Perlukah topik penyediaan dukungan beasiswa ini kita masukkan ke dalam
> Draft 17 Kesepakatan Bersama Kongres Kebudayaan Minangkabau ?
> *
> Pak Saaf dan dunsanak di palanta nan ambo hormati.
>
> Bukan ambo hendak menggurui Bapak bapak, ibu ibu atau dunsanak sapalanta
> nan alah mengetahui permasalahannyo, tapi ambo cuma maulang ulang kaji lamo
> satantangan permasalahan nan disampaikan pak Saaf
>
> Nan partamo sumbernyo tantu dari kondisi/kesehatan/pendidikan ibunyo
> sendiri; selanjutnyo sangat tergantung dari makanan nan diberikan pada saat
> anak berusia  bayi/pemakaian ASI eksklusif dan asupan makanan/gizibalita.
>
> Penyebab dari luar iolah lingkungan masyarakat. Nan iko mungkin kito bisa
> mancontoh nan alah dikarajokan oleh urang gaek gaek awak nan barasa dari
> nagari Koto Gadang (dianggap sukses dalam bidang pendidikan) sarupo nan ambo
> kutipkan dari wikipedia sbb:
>
> *Koto Gadang merupakan nagari/desa yang paling banyak melahirkan sarjana
> di Indonesia[rujukan?]. Sejak zaman penjajahan hingga sekarang,
> keluarga-keluarga di Koto Gadang tetap mengutamakan pendidikan kepada
> anggota keluarganya. Kalau masyarakat daerah lain di Minangkabau merantau
> umumnya untuk berdagang, maka masyarakat Koto Gadang merantau untuk menuntut
> ilmu pengetahuan.
>
> Tahun 1856, dari 28 Sekolah Desa dengan masa belajar tiga tahun yang
> berdiri di berbagai nagari di Sumatera Barat, satu terdapat di nagari Koto
> Gadang.
>
> Menurut laporan Steinmetz, sejak didirikan, ada 416 murid Sekolah Desa.
> Namun hanya 75 orang yang selesai. Selebihnya putus di tengah jalan, karena
> menikah atau lantaran berbagai sebab lain.
> Steinmetz menilai, kemajuan paling pesat tampak pada anak-anak Agam
> terutama dari Koto Gadang yang rajin dan cerdas.
>
> Kesadaran menuntut ilmu di Koto Gadang dimulai di awal abad-20 ketika
> pembaharuan dimasukkan oleh laras Koto Kadang, Jahja Datoek Kajo (bertugas
> dari tahun 1894-1912) yang meramalkan bahwa hanya melalui pendidikan,
> corak kehidupan dapat didatangkan ke Koto Gadang.
>
> Dengan perencanaan yang sistematis dan dengan sistem kepemimpinan yang
> kharismatik, Jahja Datoek Kajo mendorong setiap anak lelaki dan perempuan
> pergi ke sekolah.
>
> Sekolah untuk anak laki-laki didirikan di tahun 1900, dan di tahun 1912
> didirikan pula sekolah yang terpisah untuk anak-anak gadis Koto Gadang.
>
> Sebuah badan tersendiri yang dinamai studiefonds (dana pelajar) didirikan
> untuk mengumpulkan dana dari orang kampung guna mengirim anak-anaknya
> melanjutkan studi di Jawa, dan bahkan di negeri Belanda.
>
> Menurut laporan di Soeara Kemadjuan Kota Gedang (1916), demi kepentingan
> pendidikan, para orang tua yang waktu itu berpenghasilan rata-rata 15 gulden
> per bulan, sanggup membayar uang sekolah anaknya yang mencapai 5 gulden per
> bulan.
>
> Sebelum ada Hollands Inlandsche School (HIS), Sekolah Dasar tujuh tahun
> dengan bahasa pengantar Belanda, dan Meer Uitgebreid Lager Onderwojs (MULO)
> berdiri awal tahun 1900, sudah banyak anak Minang bersekolah ke STOVIA,
> sekolah tinggi kedokteran di Jakarta, atau NIAS di Surabaya, terutama
> anak-anak Koto Gadang.
> Menurut data tahun 1926, dokter lulusan STOVIA asal Minang berjumlah 32
> orang.
>
> Semangat menuntut ilmu ini diteruskan sampai sekarang di Koto Gadang, yang
> akibatnya praktis setiap orang kampung di Koto Gadang melek huruf, pintar
> membaca dan menulis, serta pintar-pintar bahasa Belanda.
> Makanya jangan heran, tahun 1917, dari 2.415 penduduk, sebanyak 1.391orang di 
> antaranya sudah bekerja, antara lain 297 orang jadi amtenar dan 31
> orang menjadi dokter.
>
> Penelitian yang dilakukan Mochtar Naim menunjukkan, di antara 2.666 orang
> yang berasal dari Koto Gadang di
>
> tahun 1967: 467 atau 17,5 persen merupakan lulusan universitas.
> Di antaranya 168 (orang menjadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang
> jadi sarjana hukum, dan kira-kira 10 orang doktorandus ekonomi dan
> bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya.
>
> Kemudian di tahun 1970, 58 orang lagi lulus universitas. Jadi, dengan 525
> orang lulusan universitas (tidak termasuk mereka yang bergelar sarjana
> muda),
>
> Koto Gadang yang punya penduduk kurang dari 3.000 tak terkalahkan
> barangkali oleh desa mana saja, bahkan tidak oleh masyarakat-masyarakat yang
> telah maju lainnya di dunia.*
> --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>
>
>  --
> .
> Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
> lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
>

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke