Dedena dkk yth, Ongkos politik yang menggunung seperti itu dan tak sepadan sama sekali dengan return yang didapatkan dari gaji total selama menjabat kalau terpilih, adalah konsekuensi logis dari sistem yang dianut a/n demokrasi yang kita pilih dan yang sangat liberal itu. Akibatnya, yang bermain di belakang layar adalah para cukong yang demi kepentingan trade dan bisnis mereka, merekalah yang mengendalikan para kontestan politik itu dari belakang layar. Sayang kasus Century belum membukakan sampai ke sana, siapa sesungguhnya actor intelektualis dari semua permainan politik itu. Salam saya, MN
--- On Fri, 5/21/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [Imsa] Fw: Mochtar Naim: "Revolusi Biru dan Nasib Kaum Nelayan" To: [email protected] Date: Friday, May 21, 2010, 8:22 PM Assalamualaikum, Ongkos politik sangat mahal untuk penjadi pemimpin tertinggi di pusat dan daerah sampai puluhan milyar. Dengan kondisi ini apakah bisa kita mengharapkan pemimpin yg mau merombak total dari pola yg kolutif (untuk mengembalikan modal) ke arah yg bersih? Modal politik pasti tidak akan terbayar kembali. Hanya sedikit (sangat jarang)pemimpin yang naik panggung tertinggi dengan ongkos politik yang kecil. Wassalam. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! From: Mochtar Naim <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 21 May 2010 18:26:45 -0700 (PDT) To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; Emil Habli HasanNaim<[email protected]>; <[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; <[email protected]>; Ilhamy Elias<[email protected]>; Miko Kamal<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; Fasli JALAL<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; irman gusman<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; Harlizon MBAu<[email protected]>; Hifni H Nizhamul Putera Limeks<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; Ir Rd Renny Pudjiati<[email protected]>; <[email protected]>; Laode Ida<[email protected]>; muhammad ichsan<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; Kornelius Purba<[email protected]>; <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [Imsa] Fw: Mochtar Naim: "Revolusi Biru dan Nasib Kaum Nelayan" --- On Fri, 5/21/10, Mochtar Naim <[email protected]> wrote: From: Mochtar Naim <[email protected]> Subject: Fw: Mochtar Naim: "Revolusi Biru dan Nasib Kaum Nelayan" To: [email protected], "sudharto pgri jateng" <[email protected]>, "ade novli el sultani" <[email protected]>, "asmun syueib" <[email protected]>, "DDII Prov Sumbar" <[email protected]>, "DEWI SARTIKA SARI" <dewi sa [email protected]>, "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]>, "Eri Bagindo Rajo" <[email protected]>, "KURNIA SARI" <[email protected]>, "Meuthia Suyudi" <[email protected]>, "minang saiyo sydney" <[email protected]>, "miss shahreza" <[email protected]>, "Muslih Sayan" <[email protected]>, "Prof.Dr Emil SALIM" <[email protected]>, "Resthy Anggreta Sari" <[email protected]>, [email protected], "ridwan gmail" <[email protected]>, "rina novita" <[email protected]>, [email protected], "Riri Chaidir" <[email protected]>, [email protected], "rita desfitri" <[email protected]>, [email protected], "rudi.rusli" <[email protected]> Cc: "Mochtar Naim" <[email protected]> Date: Friday, May 21, 2010, 4:26 PM --- On Fri, 5/21/10, Mochtar Naim <[email protected]> wrote: From: Mochtar Naim <[email protected]> Subject: Mochtar Naim: "Revolusi Biru dan Nasib Kaum Nelayan" To: "rahmi naska" <[email protected]>, "Ahmad Rifa'i" <[email protected]>, "Arief Rangkayo Mulia" <[email protected]>, "BADRUL MUSTAFA" <[email protected]>, "Eri Bagindo Rajo" <[email protected]>, "Gusti Ramli" <[email protected]>, "Ir Rd Renny Pudjiati" <[email protected]>, "rahmad" <[email protected]>, "rahmi gusnetti" <[email protected]>, [email protected], [email protected], "[email protected]" <[email protected]>, [email protected], [email protected], "[email protected]" <[email protected]>, "Resthy Anggreta Sari" <[email protected]>, [email protected], "ridwan gmail" <[email protected]>, "rina novita" <[email protected]>, [email protected], "Riri Chaidir" <[email protected]>, [email protected], "rita desfitri" <[email protected]>, [email protected], "rudi.rusli" <[email protected]>, [email protected] Cc: "Mochtar Naim" <[email protected]> Date: Friday, May 21, 2010, 4:11 PM Kawan2 di dunia maya, Berikut dan terlampir adalah esai saya mengenai "Revolusi Biru dan Nasib Kaum Nelayan" dalam menyambut ikon baru dari Menteri Kelautan, Fadel Muhammad: Revolusi Biru. Kebetulan, kitapun dalam rangka Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010, telah memasukkan topik bahasan mengenai pengembangan usaha kelautan di perairan Sumatera Barat, karena kita dikarunia oleh Allah dengan panjang pantai yang melebihi 2000 km, termasuk kepulauan Mentawai dan tempayan/basin: "Laut Minangkabau." Di hadapan kita terbentang pilihan alternatif: ikut arus pembangunan dengan menyerah-andalkan kepada penguasa ekonomi non-pri, seperti selama ini, dengan kita hanya sebagai obyek, atau membangun ekonomi kelautan berbasis ekonomi kerakyatan-kenelayanan, sebagai subyek. Kita perlu mengancang-ancang bagaimana bentuk pembangunan kelautan yang akan kita reka ke masa depan, di saat ketika tanah ulayat daratan praktis sudah habis tandas diserahkan kepada para penguasa ekonomi non-pri untuk perkebunan sawit, dsb., dengan kita kembali menjadi kuli di atas tanah ulayat kita sendiri. Mari kita persekapkan masalah revolusi biru dan nasib kaum nelayan ini. MN 22/05/10 REVOLUSI BIRU DAN NASIB KAUM NELAYAN Mochtar Naim K ECUALI Jepang, negara-negara Skandinavia dan negara-negara maritim maju lainnya di dunia ini, laut di manapun di Dunia Ketiga dikuasai oleh para kapitalis non-pribumi yang bergerak di bidang ekonomi maritim kelautan ini. Tidak terkecualinya dengan Indonesia. Indonesia yang merupakan negara maritim terbesar di dunia, lautnya dikuasai oleh para kapitalis luar dan dalam negeri sendiri, sebagaimana juga dengan daratannya dan seluruh kekayaan alam yang ada di atas dan di bawahnya. Yang menarik juga, kegiatan pembangunan apapun yang dilakukan di negara-negara Dunia Ketiga itu, baik di darat, di laut maupun di udara, yang membangun itu, dan yang sekaligus diuntungkan, adalah para kapitalis non-pribumi, baik yang bercorak MNCs secara global maupun non-pri yang lokal dan nasional maupun regional. Non-pri yang lokal, nasional dan regional tersebut, untuk ukuran Asia Tenggara dan Asia Timur ini adalah non-pri Cina -- yang tadinya Jepang --, yang basisnya ada di negara-negara bersangkutan di wilayah Asia Tenggara dan Timur itu. Berhasilnya mereka bergerak secara leluasa di bidang kelautan maupun daratan ini adalah akibat dari orientasi pembangunan ekonomi di negara-negara terkait, yang tekanannya adalah pada ekonomi makro dan yang sasarannya adalah pada peningkatan GNP dan GDP serta Income per Capita, dengan lalu membiarkan jurang menganga antara penguasa ekonomi yang non-pri itu – yang jumlahnya di bawah 5 % dalam konteks Indonesia, tapi bisa sampai 40-an % dalam konteks Malaysia -- dengan penduduk pribumi yang relatif tidak ikut dan tidak terlibat dalam derap pembangunan ekonomi makro itu. Penguasa politik dan pemerintahan yang rata-rata adalah pribumi, umumnya berpihak kepada kelompok kapitalis non-pri ini dengan motif yang sangat jelas, yaitu karena mereka lebih mengutamakan kepentingan diri dan kelompok kepentingannya sebagai akibat dari sistem feodalisme dan etatisme masa lalu yang masih berlanjut terus yang menempatkan mereka sebagai “the ruling elite” dengan privilese-privilese yang mereka miliki. Kerjasama kolutif yang mesra antara penguasa ekonomi non-pri dan penguasa politik pribumi inilah yang menggelindingkan pembangunan ekonomi makro di bidang apapun, laut, darat dan udara, sampai saat ini. Sendirinya, karena keunggulan pengalaman dan jati diri serta akses yang langsung ke pusat-pusat pengambilan keputusan di pusat maupun di daerah, kelompok penguasa ekonomi non-pri ini telah menggantikan kedudukan kelompok kolonial Eropah di masa lalu. Bermula dari penguasaan dan penjajahan ekonomi, lalu merembet ke penguasaan dan penjajahan politik dan sosial-budaya, seperti yang bersua di negara jiran: Filipina, dan yang puncaknya tentu saja adalah penguasaan total: Singapura. Kasus Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos dan Kambodia agak sedikit bervariasi, karena adanya keinginan yang kuat dari penguasa politik pribumi yang ingin memajukan dan mendahulukan kepentingan rakyat pribumi ketimbang penguasa ekonomi non-pri. * Fadel Muhammad yang ketika jadi Gubernur Gorontalo telah memperlihatkan bekas tangannya dengan mengangkatkan ekonomi pertanian jagung sebagai ikon pembangunan daerahnya, sekarang tengah memasang kuda-kuda selaku Menteri Kelautan untuk menciptakan ikon baru di bidang ekonomi maritim: “Revolusi Biru.” Fadel tentu saja merasakan dan sekaligus menyadari bahwa ikan di laut bukanlah jagung di darat. Tak masalah dengan jagung, karena sektor ekonomi riel di bidang pertanian kerakyatan yang masih bersifat tradisional ini, nyaris tak disentuh dan tak dimasuki oleh raksasa-raksasa konglomerat penguasa ekonomi non-pri. Pertama karena ukuran besarannya dan kedua karena dampak multiplaiernya. Silahkan saja mengembangkan ekonomi perjagungan karena besaran maupun dampak multiplaiernya yang relatif kecil. Tapi jangan coba-coba dengan ekonomi maritim perikanan dan perkapalan yang potensi riel maupun prospektif ke depannya sangatlah signifikan dan salah satu dari kunci kekuatan ekonomi dari sebuah negara maritim seperti Indonesia ini ke masa depan. Fadel tentu saja bukan hanya akan berhadapan dengan para konglomerat yang menguasai ekonomi maritim ini, tapi tentu tak pelak juga akan berhadapan dengan kelompok pengendali politik dan kekuasaan, baik di eksekutif maupun di legislatif, di pusat maupun daerah. Karena, periuk nasi mereka juga ada di sini dalam kerjasama kolutif dengan kelompok penguasa ekonomi non-pri. Dengan merubah sikap dan tempat tegak untuk sekarang berpihak kepada rakyat nelayan dan rakyat kecil pribumi lainnya yang secara struktural berada pada lapisan terbawah dari piramida sosial-ekonomi penduduk, sendirinya pendapatan ekstra seperti yang didapatkan secara gampang selama ini tentu tidak akan masuk lagi. Dalam sebuah kehidupan yang dilandasi pada pangkat dan kedudukan serta kemewahan materi seperti yang mendasari budaya feodalisme yang hidup subur di tengah-tengah masyarakat pribumi selama ini, umumnya di Dunia Ketiga, tapi tak kurangnya juga di Indonesia sendiri, Fadel akan berhadapan dengan kolega seprofesi sendiri yang begitu “powerful” tetapi yang motif hidupnya adalah pada kemewahan materi dan gengsi kepangkatan itu. Mereka sejauh ini masih terbuai oleh pendekatan ekonomi makro demi peningkatan GNP, GDP dan pendapatan per kapita penduduk tanpa menghiraukan tebaran menurut pelapisan sosial-ekonominya. Bagi mereka, mengutamakan kepentingan rakyat kecil dengan berbagai jargon dan slogan hanyalah muncul tiap kali ada hura-hura pemilu, sementara yang selebihnya lebih untuk mengutamakan kepentingan diri. Demi untuk mengejar kursi dan kepangkatan di bidang eksekutif maupun legislatif mereka tak segan-segan menghamburkan berjut-jut, bahkan berem-em, dari dana kampanyenya, yang jumlahnya jauh melebihi dari jumlah gaji yang akan diterimanya manakala terpilih di kursi yang diperebutkan itu. Biang korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan ada di sini. Jelas, karenanya, ada kaitan korelasional yang erat antara sistem ekonomi kapitalistik yang diluncurkan dengan sistem politik berdasarkan demokrasi separuh tambah satu ala Barat yang mengutamakan might daripada right, dan sistem sosial-budaya pribumi yang feodalistik-etatik-despotik yang tetap dipertahankan seperti selama ini. Akan lain halnya kalau sikap pemerintah dan pihak penguasa politik Indonesia, di semua jajaran kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif, di pusat maupun di daerah, menyuarakan suara koor terpadu, seperti yang dilakukan sekarang di Cina, India dan negara-negara Asean daratan lainnya, yang melakukan perombakan transformatif secara struktural dan mendasar dengan sasaran: menghapus kemiskinan dan keterbelakangan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat pribumi yang merupakan pewaris yang sah dari negara yang dibangun itu. Dan itu hanya bisa jika kesadaran itu dimulai dari atas, dari orang pertama, di pusat maupun di daerah, dan dari sistem yang total harus dirubah yang mengutamakan serta mendahulukan kepentingan rakyat pribumi yang miskin dan terbelakang, termasuk para nelayan yang nasibnya tak kunjung berubah. *** Ciputat, 22 Mei 2010 -- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ - Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ - Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us - Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] - Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- -- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ - Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ - Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us - Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] - Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
