Sebiduk Di Batang Kuantan Oleh K Suheimi 20 menit kami berbiduk, 20 menit itu pula istri saya diliputi kecemasan. Setiap naik biduk dia selalu cemas, apalagi biduk yang kami tompangi tidak pakai cadiak. Setiap ditempa air deras biduk oleng istri saya mempererat pegangannya. "Peganglah tepi biduk itu dengan erat" bisik saya. "Andaikan buruk disebut, biduk ini karam, jangan lepaskan pegangan pada biduk itu. Dan jangan berusaha mencari pegangan lain". Walaupun tak pandai berenang biasanya yang berpegangan pada biduk itulah yang akan selamat. Walaupun biduk itu terbalik, dia akan tetap mengapung.
Sebaliknya, walaupun pandai berenang, tapi tak berpegang pada biduk, apalagi saat berenang itu ada pula yang bergayut, biasanya keduanya tenggelam dan menemui ajalnya. Tapi kalau kita berpegang pada tepi biduk dan orang lain yang cemas menggenggam dan ber sigayut pada kita, insyaallah keduanya akan selamat, kerna tidak melepaskan tempat bergantung pada biduk. Didalam perahu di sungai di Batang kuantan kami menyusuri sungai ini ke hulunya, melawan arus, dan menempuh jeram, makanya tentu ada olengnya. Saya lihat istri saya komat kamit berdo'a. Saya sadari orang Magek ini tak pandai berenang dan ndak terlatih untuk itu Seakan sebiduk di sungai musi Ombak pun datang Perahu ku oleng Tersentuhlah ia olehku. Kugenggam jemari itu dan tak kulepaskan untuk mengurangi kecemasannya. Saya nikmati sebiduk di Batang Kuantan sambil menikmati ikan-ikan yang meloncat di sepanjang pinggir sungai. Batang kayu yang besar_besar, sesekali tampak simpai berloncatan. Kadang-kadang ada kodok besar, sama besar dg kodok yang besar di Payakumbuh. Bagi saya enak sekali menyusuru sungai sampai ke hulu. Seperti tahun 68 dulu dari si kabaluan mentawai Utara yang masih hutan lebat, selama 3 hari kami selusuri bersama penduduk setempat sampai ke pelosok-pelosok kampung sambil memberikan pengobatan gratis. Di mentawai saya belajar bahasanya dan kebudayaannya. Bersua dengan ber macam-macam binantang dan ular berkepala merah Dan betapa enaknya makan makanan sagu dicampur ikan yang dimasukkan ke dalam batang bambu. Kenangan melayang ke masa silam, ketika muda, kerja saya jari jurumudi sampan membawa teman-teman berbiduk. Tersentak ku dari lamunan, ketika dihadapan kami ada sebuah bangunan rumah di cat meriah, merah kuning dan hijau. Disanalah dan kesinilah kami berlabuh untuk memulai tantangan baru mendaki dan memanjat bebatuan di sepanjang pinggir air terjun "Batang koban" yang bertingkat 7 dengan penuh peruangan dan semangat yang tinggi. Sebuah ayat suci Nya ingin say petikkan Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.22;30 Batang kuantan 23 Mai 2010 Powered by Telkomsel BlackBerry® -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
