INDRA JAYA PILIANG : BELAJAR DARI KEKALAHAN

May 30, 2010 2:16 pm

Salah satu model pembelajaran yang sering dipergunakan di dunia ini menurut 
Garvin (seorang profesor di Harvard Business School) adalah learning after 
doing, atau menarik lessons learned dari apa yang telah dilakukan, baik 
kesuksesan maupun kegagalan ataupun kekeliruan. Apalagi jika lessons learned 
tersebut dituliskan secara eksplisit oleh pelakunya, maka semakin mudah untuk 
dipelajari oleh pihak-pihak lain yang tertarik, karena sudah terjadi perubahan 
dari tacit knowledge (melekat kepada pelaku) menjadi explicit knowledge (yang 
dituliskan dan sistematis).

Dengan demikian pada konteks learning after doing ini, penulisan memoar seorang 
pelaku sejarah menjadi penting. Apalagi jika di pelaku itu juga sanggup 
menguraikan hal-hal penting yang menjadi pembelajaran dari apa yang sudah di 
lakukan dan alami. Semua pengetahuan yang tadinya hanya tersimpan di dalam 
pikirannya (tacit knowledge) akan berubah menjadi pengetahuan yang bisa 
dipelajari setiap orang (explicit knowledge). Hanya saja, di negara ini mungkin 
tidak banyak orang yang mau atau bersedia menuliskan pengalaman kekalahan atau 
belajar dari kegagalan. Banyak buku yang kita temui di toko buku dan 
perpustakaan berbagai kisah keberhasilan atau kritikan terhadap sesuatu, tetapi 
jarang kita temui tulisan kritis dari si pelaku sejarah mengenai kekalahan atau 
kegagalan yang dia alami.

Itulah sebabnya, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada sahabat saya, 
Indra Jaya Piliang, atas publikasi bukunya “Mengalir Meniti Ombak : Memoar 
Kritis Tiga Kekalahan”. (Walaupun saya mencatat sebenarnya ada 4 kekalahan, 
yaitu kekalahan tidak terpilih sebagai anggota KPU untuk pemilu 2008, kekalahan 
dalam pemilu legislatif untuk DPR RI tahun 2008, kekalahan sebagai tim 
pemenangan JK dalam pemilihan Presiden RI tahun 2008, serta kekalahan sebagai 
tim sukses Yuddy Chrisnandi dalam pemilihan Ketua Umum Golkar, tetapi Indra 
menulis hanya 3 kekalahan). Terlepas dari itu semua, saya setuju dengan judul 
buku ini, yaitu menggunakan kata-kata “kekalahan”, dan itu bukanlah sebuah 
“kegagalan”. Walaupun makna kekalahan dan kegagalan itu sendiri sangat 
bervariasi, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Dilihat dari buku ini, 
menurut saya Indra memang mengalami “kekalahan”, tetapi bukan “kegagalan”, 
karena dia sanggup menarik lessons learned dari semua yang dialami, dan bahkan 
pelajaran itu dibagi kepada kita semua. Dari perspektif proses pembelajaran, 
saya menilai Indra sudah sangat berhasil. 

Membaca buku, kita seakan disuguhi berbagai fragmen dan dimensi. Ada fragmen 
masa remaja Indra mencoba bangkit menantang kehidupan dan bermuara kepada 
keberhasilan menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia. Fragmen ini 
dilanjutkan dengan pencarian jati diri dengan berbagai kegiatan dan aktivitas 
yang banyak sekali dia coba, tetapi tidak semua dia tekuni. Fragmen berikutnya 
adalah kehidupan Indra selama 8 tahun sebagai intelektual yang menarik jarak 
dengan dunia praktis. Terakhir adalah fragmen kehidupan sebagai aktor politik, 
sesuatu yang bertentangan dengan fragmen sebelumnya, walaupun masih ada 
kaitannya. Dimensi lain yang terbaca dari buku ini adalah pergulatan 
lahir-batin Indra dalam menyikapi banyak hal. Misalnya bagaimana dunia politisi 
sangat berbeda dengan dunia pengamat atau intelektual. 

Saya bersahabat baik dengan Indra sewaktu kami kuliah di Universitas Indonesia 
dulu. Saya kuliah di Ilmu Komputer, dan Indra di Sejarah, tetapi kami sama-sama 
aktif di Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Indonesia “Eka Prasetya”. Indra 
dan saya juga berasal dari daerah yang sama, yaitu Sumatera Barat. Sewaktu 
kuliah dulu, saya akui analisis politik kawan yang satu ini memang hebat dan 
brilian. Rupanya sehabis kuliah, Indra memutuskan berkarir di dunia politik. 

Sebelumnya dia juga pernah menjadi aktor politik dan bergabung dengan Partai 
Amanat Nasional (PAN), dan kemudian mengundurkan diri, dan berprofesi sebagai 
pengamat atau analis politik di CSIS (Center for Strategic and International 
Studies). Terakhir Indra bergabung dengan Partai Golkar, kalah dalam pemilu 
legislatif untuk DPR RI, dan sekarang tetap berada di Partai Golkar. Dua tahun 
yang lalu (2008), saya sempat mengirimkan sms singkat kepada IJP, begitu 
panggilan saya kepada Indra, “IJP, selamat berjuang dalam sistem, gw percaya 
angku bisa, pls tetap menjadi IJP yang kritis dan penuh integritas, my friend“ 
sewaktu dia memutuskan untuk menjadi politisi dan bergabung dengan Partai 
Golkar.

Membaca separuh terakhir dari buku ini, saya merasa disuguhi semacam kuliah 
politik praktis tingkat tinggi, yang jarang-jarang bisa diperoleh, kecuali jika 
anda bergabung dengan dunia tersebut. Banyak sekali pelajaran yang diperoleh 
dari berbagai kegiatan atau aktivitas Indra, serta berbagai kejadian politik 
yang dia alami, bagaimana konflik terjadi, serta bagaimana menyikapinya, 
bagaimana solusi secara intelektual tidak selalu sejalan dengan solusi yang 
diperlukan dalam teater politik, dan sebagainya. Saya mencatat pada buku ini, 
banyak sekali Indra mengalami pergulatan batin, karena suka tidak suka, dia 
pernah berada di dunia intelektual.

Indra pernah mengalami 2 (dua) dunia pada saat yang bersamaan dalam kehidupan 
aktor politiknya. Dia berada pada lapisan terbawah dalam teater politik yaitu 
kaum akar rumput atau grassroot di daerah pemilihannya, terutama sekitar 
Pariaman – Sumatera Barat, dan pada saat yang bersamaan dia berada pada 
lingkaran elit dunia politik Indonesia dan muncul di televisi untuk konsumsi 
nasional. Indra terjun dan berada di dua dunia ekstrim tersebut, dan semua itu 
membutuhkan gaya komunikasi, gaya membuat keputusan, serta gaya kepemimpinan 
yang berbeda. Menurut saya, Indra sanggup memainkan berbagai gaya tersebut 
sehingga pas pada tempatnya.

Tetapi Indra juga manusia, yang bisa saja terperangkap ke dalam kebingungan dan 
kebimbangan alias dilema. Hal ini terlihat saya pemilihan Ketua Umum Partai 
Golkar, di mana Indra menjadi pendukung Yuddy Chrisnandi. Dalam beberapa hal, 
dia tidak sepakat dengan Yuddy, tetapi persahabatan dengan Yuddy juga agak 
menghalangi langkahnya dalam bersikap.

Afterall, terlepas dari semua itu, saya berharap, Indra masih seperti Indra 
sahabat saya sebelumnya, kritis, idealis, dan penuh integritas. Apakah Indra 
bisa memberikan suatu landscape baru untuk Partai Golkar? Di tempat lain, Anas 
Urbaningrum sudah membuktikan suatu landscape baru di Partai Demokrat (walaupun 
masih perlu pembuktian lebih lanjut). Menurut saya, Indra perlu didukung dan 
diberi kesempatan untuk membuktikan itu semua … I believe you are, my friend … 
good luck !

Salam
Riri Satria

P
~~."IJP".~~

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke