Seluruh jemaah haji Indonesia akan diberangkatkan ke Tanah Suci dalam dua 
gelombang. Jemaah haji gelombang pertama akan ke Madinah terlebih dahulu guna 
berziarah dan melaksanakan arbain (shalat wajib 40 waktu) di Masjid Nabawi. 
Sedangkan jemaah haji gelombang kedua langsung diberangkatkan ke Makkah. untuk 
melaksanakan seluruh rukun dan wajib haji. Sepuluh hari menjelang kepulangan ke 
Tanah Air, jemaah haji gelombang kedua berangkat ke Madinah untuk berziarah dan 
melaksanakan arbain dan setelah selesai mereka langsung diberangkatkan ke 
Jeddah2 dan pulang ke Tanah Air. Sesuai dengan jenis kegiatannya, berziarah dan 
melaksanakan arbain di Masjid Nabawi di Madinah bukan merupakan rukun atau 
wajib haji, melainkan hanya sunnah haji, namun sunnah yang kalau tidak terpaksa 
sekali sangat jarang sekali ditinggalkan oleh para jemaah haji, utamanya jemaah 
haji reguler. Hal itu dapat dimaklumi karena di Masjid Nabawi terletak makam 
junjungan kaum muslimin, Nabi Muhammad SAW.  

Pada akhir Desember 2002 kami diberitahu bahwa kafilah kami termasuk jemaah 
haji gelombang kedua Kloter No. 61 Embarkasi Jakarta. Keberangkatan kami 
dijadwalkan pada tanggal 4 Februari 2003, atau 8 hari menjelang hari Tarwiyah. 
Dengan demikian, kafilah kami termasuk kafilah yang terakhir tiba di Bandara 
King Abdul Azis, Jeddah, yakni satu hari sebelum Terminal Haji di Bandara 
tersebut ditutup bagi kedatangan penerbangan haji pada musim haji tahun 1423 
Hijriah.  

Setelah adanya kepastian keberangkatan tersebut kami, terutama isteri saya 
Kur—karena waktu saya hampir sepenuhnya tercurah kepada tugas-tugas di kantor 
yang akan saya tinggalkan selama 42 hari—melakukan berbagai persiapan dan 
menyiapkan pakaian dan berbagai  bekal selama di Tanah Suci nanti, termasuk 
menyelenggarakan "ratiban haji" atau walimatussafar dengan mengundang para 
tetangga, sanak famili dan sahabat kami. Acara yang kami laksanakan secara 
sederhana namun cukup berkesan tersebut diisi oleh ceramah seorang ustadzah 
yang menyampaikan pesan-pesan dan nasihat yang disampaikan dengan cara yang 
sangat menarik.

Waktu terus mengalir menuju Hari-H. Akhirnya pada Senin siang  tanggal tanggal 
3 Februari 2003, setelah memberikan wasiat kepada anak-anak dan melaksanakan   
shalat sunnat safar dua rakaat, dengan dilepas oleh para tetangga dan sesepuh 
di lingkungan tempat tinggal kami, dengan diantar oleh beberapa tetangga dekat, 
kenalan, kerabat anak-anak, menantu dan cucu, kami berangkat dari rumah menuju 
Plaza Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto di tempat mana seluruh jemaah kafilah 
kami dilepas oleh keluarga masing-masing.

Di sini Ira, bungsu kami yang sudah semester lima di sebuah Akademi memeluk 
kami dan menangis seakan-akan melepas jenazah kami untuk dibawa ke kuburan, dan 
meminta kami untuk membatalkan keberangkatan kami. "Siapa yang akan menyayangi 
Dede kalau papa dan mama tidak ada," ujarnya di sela-sela tangisnya. Sesudah 
dibujuk dengan susah payah baru Ira berhenti menangis dan bersedia pulang ke 
rumah.

Setelah menyerahkan koper-koper kepada Panitia untuk ditimbang dan diserahkan 
kepada maskapai penerbangan serta mengikuti acara pelepasan singkat yang diisi 
dengan beberapa sambutan dan pembacaan do'a, seluruh jemaah haji kafilah kami 
diangkut dengan 4 buah bus ke Asrama Haji Embarkasi Jakarta di Pondok Gede, 
Jakarta Timur. Kami hanya membawa tas dokumen dan handbag berisi peralatan 
mandi, pakaian yang akan dikenakan selama di Asrama Haji dan dalam perjalanan 
Jakarta-Jeddah serta pakaian ihram yang akan dipakai saat berihram di tempat 
kami bermiqat di Bandara King Abdul Azis, Jeddah. 

Seluruh jemaah haji "biasa" diharuskankan menjalani karantina selama lebih 
kurang 24 jam di Asrama Haji Pondok Gede. Di sini setiap jemaah menerima Buku 
Kesehatan, Paspor dan boarding pass yang dicantolkan ke paspor, gelang 
identitas haji dan living cost selama di Saudi sebesar 1.500 riyal per-orang. 
Dari jumlah tersebut sebanyak 500 riyal diserahkan kepada Yayasan untuk 
membayar dam yang diwajibkan bagi jemaah yang memilih haji tamatu' dan berbagai 
pengeluaran lainnya di Saudi yang tidak ditanggung oleh Panitia Haji Indonesia. 
Di luar living cost tersebut kami juga membawa uang dalam US Dollar, tidak 
banyak, untuk cadangan dan membeli oleh-oleh. Menurut hemat saya keharusan 
menjalani karantina ini cukup baik karena dapat membantu para jemaah lebih siap 
secara  mental untuk berangkat. Sayangnya asrama haji ini, terutama kamar-kamar 
tidurnya kurang terawat dan kurang nyaman karena hanya dilengkapi kipas angin. 
Kamar mandi dan airnya juga agak kotor.

(bersambung) 

-------------
1)      Diterbitkan oleh Gema Insani Pers, Jakarta 1996-2001
2)      Atau dari Madinah langsung terbang ke Tanah Air bagi jemaah haji yang 
menggunakan maskapai penerbangan Saudia Air


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke