Iko tulisan pengalaman surang kawan. Mungkin ada manfaatnya.
-------------------------------------------------------- Merajut empati -- Dewi H. Susilastuti Lima belas tahun saya tinggalkan, tentu saja Yogya sudah banyak berubah. Ketika sekitar dua tahun lalu kami pulang kampung, ada beberapa hal yang membuat saya takjub. Rumah berharga satu milyar. Mobil baru serba mengkilap berseliweran di jalan-jalan di Yogya. Setiap long week end, mencari hotel untuk meeting atau rapat adalah mission impossible. Semua fully booked. Wah…wah…orang Indonesia sekarang ternyata banyak yang bisa vacation, menginap di hotel berbintang dan mengunjungi berbagai obyek wisata yang eksklusif. Bu Dewi ketinggalan jaman, kata teman saya. Di Bali ada hotel bertarif USD 8.000 per malam. Yang tinggal di sana bukan hanya orang asing, lho. Banyak orang Indonesia yang mampu menginap di sana. Saya hanya bisa melongo. Ketika saya ke pasar Condong Catur, saya dikagetkan oleh hal yang berbeda. Seorang tukang parkir menjalankan tugas dengan kaki telanjang. Berapa sih harga sepasang sandal jepit, batin saya. Kok pak tukang parkir ini sampai tidak mampu membeli sandal jepit? Kemudian, waktu saya penelitian di Jayapura, saya kaget mendengar ada kasus kelaparan di Yahukimo. Hari gini kok di Indonesia masih ada kelaparan, sih? Semuanya menjadi terang benderang ketika saya membaca tulisan World Bank tentang perkembangan Indonesia. Ternyata Indonesia tidak lagi dikategorikan sebagai negara berkembang, tetapi sebagai “emerging lower middle income country”. “Lower middle income countries have GNI per capita of US$976–$3,855”, kata laporan itu. Untuk melengkapi laporan penelitian saya, saya harus membaca Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014. Pendapatan per kepala Indonesia pada akhir tahun 2008 adalah USD 2.271. Tidak banyak kelihatannya. Tapi USD 2.271 ini adalah rerata, jadi angka ini menyembunyikan kesenjangan yang luar biasa besar. Barangkali ketimpangan sosial yang ada bisa sedikiiiit berkurang rasa pahitnya, bila kita sebagai bangsa mampu merajut empati terhadap kaum underdog – mereka yang kurang beruntung, yang terpinggirkan dalam proses pembangunan. Memang, ada individu yang berusaha mewujudkan kepedulian mereka terhadap kaum underdog ini dalam lingkup yang terbatas. Salah satu mantan dosen saya mencari lulusan SMA dari desa untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga atau tukang kebun, Akan tetapi mereka disekolahkan sampai menjadi sarjana. Seorang teman aktivis mendorong pembantu rumah tangganya untuk meningkatkan kemampuan mereka lewat berbagai kursus. Tujuannya? Supaya mereka tidak menjadi pembantu seumur hidup. Alangkah bagusnya seandainya kecenderungan semacam ini dimiliki oleh sebagian besar orang Indonesia, ya. Ingat "Coin for Prita"? Berapa banyak uang yang bisa dikumpulkan lewat gerakan itu? Di Amerika ada program dengan nama “Penny Harvest.” Uang satu cent atau satu penny (1 USD = 100 cent/penny) memang sering tersia-sia. Terselip di mana-mana. Di simpan di dalam stoples, terus dilupakan. Setiap bulan Oktober atau November, anak sekolah berusia 4 sampai 14 tahun dianjurkan untuk mengumpulkan penny dari orang tua, saudara dan tetangga mereka. Koin yang mereka kumpulkan itu dikelola oleh LSM bernama Common Cents, dan dipakai untuk membiayai berbagai program sosial. Anak-anak menjadi semakin sadar bahwa di sekeliling mereka ada orang yang tidak punya rumah, yang cacat, dll. Mereka diajar untuk peduli pada lingkungan. Mungkin ini yang dimaksud dengan “hidden curriculum” di sekolah, ya? Ada nilai-nilai yang ingin diajarkan oleh sekolah secara tidak langsung. Bagusnya lagi, ada sinergi antara nilai yang diajarkan orang tua dengan sekolah. Di Amerika, saya sering melihat contoh empati yang terkadang membuat tenggorokan saya tercekat karena haru. Sekelompok anak SMA mencukur gundul rambut mereka supaya teman mereka yang sakit kanker, dan gundul karena kemoterapi, tidak merasa sendirian. Teman satu kantor menyumbangkan paid leave (cuti tapi tetap digaji) supaya teman mereka bisa tidak masuk kerja untuk merawat anggota keluarga yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Jet korporasi yang sering ngglondang, banyak kursi kosong, dimanfaatkan untuk menerbangkan keluarga yang hendak menjenguk anggota keluarga yang di rawat di rumah sakit di luar kota atau state. Alangkah indahnya ya seandainya di Indonesia ada kurikulum tersembunyi (atau kurikulum yang diarusutamakan) yang serupa? Yang mengajarkan anak untuk peduli pada orang lain. Yang mendorong anak untuk tidak memikirkan diri sendiri. Salah satu kenangan yang sangat membekas tentang orang Amerika adalah respons yang mereka tunjukkan ketika melihat orang lain “kecelakaan”, entah jatuh, terpeleset, tersedak. Pertanyaan yang mereka ajukan akan seragam: “Are you okay?” Pertanyaan itu diajukan kepada orang yang mereka kenal ataupun tidak. Diajukan oleh anak kecil maupun oleh orang tua. Ini adalah contoh kecil dari kemampuan berempati yang sudah berakar, yang muncul secara spontan. Ah, seandainya....... -- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ - Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ - Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us - Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] - Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- -- Sent from my mobile device Dutamardin Umar ----------------------------------------------------- "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" ------------------------------------ Motto: CINTA PERTIWI PEDULI NAGARI Mission: To express our unending love to home-country, Indonesia, by involvement in the West Sumatra’s human development program in a quest of achieving basic, well deserved human prosperity under the blessing of God, the Almighty. Programs: 1. Endowment in Education 2. Arts and Cultural Promotion 3. Inter Local-government Cooperation. Check our web-page http://groups.yahoo.com/group/MinangUSA http://groups.google.com/group/pulangbasamo/webYahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MinangUSA/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MinangUSA/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ -- Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta, sekarang Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
