Assalammualaikum wr wb

Angku, mamak, bundo & dunsanak sapalanta rantaunet yang saya hormati
Terkadang saya sering mendengar pada masa reses anggota DPR RI sering
mendapat bingkisan, hadiah, atau gratifikasi dari pejabat daerah.
Malah kabarnya tiket pesawat pulang pergi sudah ada yang menalangi.
Entah kabar itu benar atau tidak, namun menurut saya sebuah pemberian
seperti bingkisan, gratifikasi kepada seorang anggota DPR RI tentu
memiliki maksud tertentu. Cuma ini yang sulit dibuktikan, sebab
pemberi dan penerima tentu saja tidak akan mempublikasikan hal itu.

Sebenarnya terjadi 2 lembaga yang bekerja bersamaan, DPRD Tk 1 dengan
DPR RI yang mengawasi wilayah yang sama. Saya setuju dengan pendapat
pak Abraham Ilyas. malah saya berpikir 560 Anggota DPR RI itu sebaik
lebih diciutkan sehingga pegawasan daerah propinsi cukup dilakukan
oleh DPRD tk propinsi, dengan demikian lebih menghemat biaya seperti,
rumah dinas, gaji, tunjangan, mobil dinas, sekretaris dewan, gedung
dll. Terkadang saya tertawa mendengar seorang anggota DPR RI dari
kalangan artis yang mengatakan harus belajar lebih banyak lagi untuk
menangani tugas-tugasnya sebagai legislatif.

"Roem Kono : Realitasnya, anggota DPR hanya bisa memberi janji-janji
tanpa realisasi kepada konstituennya, karena usulan masyarakat yang
disampaikan kepada pemerintah realisasi minim," kata anggota DPR dari
Fraksi Partai Golkar ini.

Menyimpulkan bahwa selama ini kerjasama DPR RI & Pemerintah tidak
berjalan dengan baik. Sebagai lembaga yang menampung aspirasi
masyarakat, sudah seharusnya DPR RI meneruskannya pada Pemerintah,
dimana pemerintah pusat akan membagi alokasi anggaran yang tersedia,
dengan menentukan skala prioritas. Tentu saja DPR RI akan melakukan
kontrol apakah alokasinya sesuai dengan ketentuan, karena fungsi
legislatif salah satunya adalah kontrol terhadap pemerintah. Ibarat
sebuah keluarga yang memiliki 5 anak, tentu semua anak memiliki
keinginan sendiri-sendiri, namun sebagai orang tua kita harus
menentukan skala prioritas mana yang lebih penting diantara permintaan
ke 5 anak tadi. Berbeda apabila keluarga itu sangat mampu, mungkin
bisa dipenuhi semuanya. Kembali kita harus bercermin, apakah Indonesia
memiliki kemampuan seperti sebuah keluarga yang kaya.

Reformasi sudah memiliki momentum yang tepat sesuai perkembangan
demokrasi, sayang masyarakat & anggota partai politiknya belum siap &
dewasa menghadapi arti reformasi itu.

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke