Selepas melayat ke rumah orantua Ust. Subhan, ibu beliau wafat senin dini hari, 
di daerah kemandoran tadi malam, kami berlima saling bercerita penghilang rasa 
kantuk. Gerimis dan dinginnya ac mobil menemani perjalanan kami. Agar mata 
tetap terjaga kami bercerita tentang kekhasan daerah masing-masing. Ada yang 
dari padang, sunda, betawi dan yang beristrikan orang Bangkalan, Madura. 
 
“Pak, di Madura itu tidak ada gembok, ?”, kata pak Supri yang istrinya orang 
Bangkalan. “Ditanya ke ke toko material pun, orang tak tahu dengan gembok”, 
lanjutnya. Yang lain jadi penasaran, bengong. “Hehehe”, dia ketawa, “saya 
pernah dikerjain ama ipar di Madura, dikasih duit, disuruh beli, maaf ya, 
kon*** (porn*)”. “Saya binggung, dan ternyata gembok itu bahasa maduranya yai 
itu tadi”, lanjutnya. Kami pun tertawa, terbayang bahwa itu ada dimana-mana di 
setiap rumah bahkan di motor juga.
 
“Oh ya, di Madura itu juga tidak ada warna hijau, sama sekali tidak ada”, kata 
ust Hadist. “yang ada BIRUH”,lanjutnya. “Loh kok biru?”, tanya kami. “Biruh, 
bukan BIRU, pake H. Jadi kalo di Madura itu ada BIRUH DAUN ,” lanjutnya. 
 
“Di Kampung pak Andi juga tidak ada Premiun, Pertamax”, lanjut pak Murtadho 
sambil nyetir. Beliau pernah mengantarkan mobil ke padang, riau, bahkan ke 
medan juga. Saya teringat sesuatu, namun yang lain sudah bertanya, “kalo begitu 
orang di sana menyebutnya apa pak RT?”. Dia menjawab, “Di sana yang ada hanya 
ada MINYAK”. “Saya binggung ketika teman bertanya, pak MINYAK nya sudah 
habis?”, lanjutnyanya. Kami tertawa semuanya.
 
“Satu lagi di kampung pak Andi juga nih. Di sana orang pasang instalasi 
listrik, tidak pake setrum”, katanya ust. Hadist. “Orang disana kalo pasang 
listrik pake API”, lanjutnya. “Api disana sama dengan setrum di jawa”, beliau 
melanjutkan. Saya tertawa, teringat ketika saat pemasangan listrik minggu lalu, 
saya bertanya pada pak Hadist ini, “Ini sudah ada API-nya atau belum pak 
Hadist?”. Dia terdiam sebentar. " Oh iya-ya, bahasa orang seberang ya?", 
lanjutnya. 
 
“Satu lagi, kalo urang sunda yang kerja di SCTV, ndak pernah benar kalo 
ngucapin tempat dia bekerja”, kata ust Hadist, karyawan SCTV ini. “Selalu saja 
CETEPE”, lanjutnya. Hahahaha…. tawa kami pun semakin membuncah, tapi tidak ada 
ada yang tersinggung. Mungkin inilah hikmahnya kalo kita berani menertawakan 
diri sendiri, pikir saya dalam hati.
 
ARYANDI 


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke