Manolah Angku Abraham;

Ambo pun cuma tahu saketek-sakatek mengenai ilmu ekonomi (makro) dari nan ambo 
palajari labieh dari 40  tahun silam---indak talampau mandalam sabab nan ambo 
palajari, dulu namamo ekonomi perusahaan---baparui senek-senek sesuai dengan 
kebutuhan karajo. Dulu nan dipalaraji pun anyo PDB/PNB. Saingek ambo, PDRB baru 
diintrodusir di awal pemerintahan Orba, itupun perhitungannya masih dilakukan 
dengan metode alokasi. Jadi kok ado pandapek ambo  nan salah, mohon cerdik 
pandai di Palanta ko nan labieh menguasai masalah ko dapek mangoreksinyo.

Seperti diketahui bersama PDB/PDRB, nilai dan pertumbuhannya merupakan 
indikator macro utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan kebijakan dan 
pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat/Daerah.

Semakin tinggi pertumbuhan (ril)nya semakin baik; semakin besar nilainya 
semakin bagus, karena semakin besar potensi wilayah;  Hal itu juga berhubungan 
dengan PDB/PDRB yang dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang 
bersangkutan, merupakan indikator mengenai  tingkat  kemakmuran masyarakat 
sebuah wilayah (walaupun sebenarnya sangat bersifat agregatif). Lebih lanjut, 
semakin besar sumbangan sektor-sektor  `modern' (dianggap) semakin kuat 
struktur perekonomian wilayah tersebut.

Pertanyaannya dari dulu ialah, siapa yang menikmati kue pertumbuhan tersebut?

Kalau sektor pertanian memberi makan kepada hampir dua pertiga penduduk, 
seyogyanya pembangunan ekonomi daerah berpihak kepada sektor ini.

Saya sendiri belum pernah membaca RPJ-P  dan RPJ-M Sumbar, karena itu tidak 
mengetahui seperti apa kebijakan perekonomian daerah Sumbar. Tetapi saya tahu 
provinsi Sulsel ketika dipimpin Prof A Amirudin 1983 – 1993 (dua periode) 
mempunyai visi, sasaran dan  program yang bagus  di bidang pertanian, yaitu 
setiap kabupaten di Provinsi tersebut diarahkan untuk mengembangkan hanya budi 
daya pertanian yang paling sesuai dengan karakter wilayah di kabupaten yang 
bersangkutan. Pemerintah membantu, antara lain, melalui pembangunan 
infrastruktur. 

Ketika terjadi krismon 1997/98, provinsi ini malah memperoleh keuntungan dengan 
meningkatnya nilai rupiah dari ekspor produk-produk pertanian yang disebabkan 
oleh terjadinya apresiasi dollar yang tajam terhadap rupiah. Provinsi Jawa 
Timur di bawah Gubernur Imam Utomo pernah mengkopi program tersebut, tetap 
kurang berhasil.

BTW, PDB/PDRB perkapita sebagai indikator kemakmuran memang penuh "jebakan", 
karena PDB/PDRB bila dihitung dengan pendekatan pendapatan (income approach) 
[1],  merupakan penjumlahan dari imbalan faktor-faktor produksi yang ikut di 
dalam proses produksi di suatu negara/region yang bersangkutan . Balas jasa 
tersebut adalah upah dan gaji untuk tenaga kerja , sewa  untuk lahan, bunga 
untuk modal  dan keuntungan untuk kewiraswastaan/perusahaan.  Jadi kalau di 
suatu wilayah banyak perusahaan/industri yang besar-besar maka kue pertumbuhan 
dimiliki oleh segelintir orang pemilik perusahaan. Apalagi kalau perusahaan 
tersebut milik orang-orang yang bukan penduduk negara/region tersebut, 
keuntungannya akan pergi keluar negara/region tersebut, sesuai dengan 
pengertian (d)omestik dalam PDB/PDRB [2].

Oleh sebab itu dalam beberapa dekade terakhir ini dikembangkan 
indikator-indikator lain yang lebih komprehensif untuk mengukur tingkat 
kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Yang paling terkenal adalah indeks 
pembangunan manusia (IPM). Provinsi Jawa Barat adalah salah satu provinsi di 
indonesia yang secara spesifik menetapkan IPM sebagai salah satu indikator 
keberhasilan dalam pembangunan wilayahnya.

Saya tidak tahu bagaimana Sumbar.

Wallahu a'lam  


Wassalam, HDB-SBK (67-) 

[1] Sampai saat ini BPS belum menyajikan perhitungan PDB/PDRB dengan pendekatan 
pendapatan (income approach) seperti di negara-negara maju seperti Amerika 
Serikat. 

[2] Khusus untuk provinsi/kabupaten/kota  sampai saat ini belum bisa dilakukan 
perhitungan pendapatan penduduk provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan saja 
(PRB). karena masih belum tersedianya data/mekanisme yang dapat menghitung  
arus pendapatan yang mengalir antar daerah. 


--- In [email protected], Abraham Ilyas <abrahamil...@...> wrote:
>
> *Menurut data tahun 2005, sektor pertanian menyumbang 23,6 persen terhadap
> PDRB dan memberikan lapangan kerja bagi  60,8 persen penduduk Sumbar.
> *
> Pak Darwin Yth.
> 
> Ambo indak tahu ilimu ekonomi, tapi membaco data nan ditampilkan, ambo baru
> paham bahwa petani (bidang pertanian)  hanya memberi sumbangan kecil pada
> PDRB.
> 
> Mungkin iko nan manjadi alasan dek "pengambil kebijaksanaan pamarintah"
> untuak memasarkan jenis jenis karajo lain (nan katonyo bisa mendatangkan
> banyak pitih secara cepat).

......

> 
> Salam
> 
> Abraham Ilyas
> anak nagari Tanjuang Sungayang
> 
> -- 


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke