Minggu, 9 Februari, lewat tengah hari.

Begitu dokter Iva datang dan diberi tahu oleh suster Enny, ia langsung 
mengunjungi saya di kamar. Pertama-tama dokter Iva minta dipanggilkan pak Erman 
kepala regu kami, dan meminta bantuannya untuk berusaha mencarikan kembali 
Berodual inhaler di apotek-apotek. Setelah berdebat beberapa lama, pak Erman 
akhirnya pergi juga ditemani oleh pak Radjikin.

Perempuan dokter itu mengeluarkan ponselnya, mengirim SMS, lalu minta saya 
bangun, mendekat dan duduk persis di depannya. "Pak Darwin akan saya terapi 
dengan Reiki yang enersinya dikirimkan oleh guru saya dari Jakarta," ujarnya. 
"Saya hanya sebagai perantara," lanjutnya, sembari menaruh kedua telapak 
tangannya di kedua iga saya. Tidak lama kemudian saya merasakan rasa panas 
merayap dari kedua tangannya dan merambat ke seluruh tubuh saya.

 "Panas?", tanya dokter Iva.

"Ya dok," jawab saya yang merasa napas saya mulai agak lega, dan darah mulai 
mengalir kembali ke wajah saya yang pucat. Saya bersyukur kepada Allah SWT 
dalam hati, dan keyakinan bahwa saya tidak perlu diusung dengan ambulans di 
Arafah semakin menguat. Kur dan teman-temannya sekamar—ibu Aisyah yang uaknya  
mas Juliansyah, ibu Djuminem isteri pak Tukiman, mbak Eti boru Harahap isteri 
mas Juliansyah dan mbak Lily yang dosen FT USAKTI—menyaksikan hal tersebut  
dengan wajah lega.

"Dekat-dekat saya saja di Arafah," ujar dokter Iva ketika meninggalkan kamar 
dan meminta saya meneruskan meminum tablet Bricasma pemberian pak Erman.  Mbak 
Enny yang ramah itu lalu menotok-notok punggung saya, dan sejumlah lendir 
keluar dari paru-paru saya. "Totok sekali lagi Mbak," ujar bu Djuminem. Tetapi 
saya belum sepenuhnya pulih dan masih merasa letih. Karena itu memutuskan untuk 
beristirahat dulu di kamar Kur.

Tidak lama kemudian ketua kloter kami pak Anshori Syafii masuk bersama seorang 
laki-laki baya yang setelah memperkenalkan dirinya, kami ketahui bernama Abdul 
Azis, seorang ustadz dan ketua salah satu kafilah di kloter kami. Ustadz Azis 
yang mengaku berasal dari Cirebon dan mempunyai darah Minang serta fasih 
berbahasa Minang itu seorang yang kocak.  Dia segera menunjukkan "kebolehannya" 
dengan menebak tepat usia ibu Aisyah dan ibu Djuminem, yang membuat kami semua 
tertawa.

Ustadz Azis minta minyak angin dan mengerik punggung kiri saya dengan 
tangannya, lalu menepuk-nepuknya dan—Masya Allah—lendir kental sebesar-besar 
ujung jari berhamburan dari mulut saya. Kemudian ia minta satu gelas air 
zam-zam, yang setelah dido'akannya meminta saya meminumnya. Tidak lama kemudian 
saya muntah disertai dengan sejumlah lendir kental.

Walaupun tidak terlalu terkejut atas kejadian tersebut, saya sangat bersyukur 
kepada Allah SWT karena berkat ridho dan pertolongan-Nya saya telah berhasil 
melewati saat-saat dramatis yang berlangsung sejak kemarin. Saya katakan saya 
tidak terkejut, karena sangat sering mendapat  pertolongan Allah melalui jalan 
yang tidak terduga ketika semua ikhtiar sudah buntu, yang saya haqqulyakin juga 
pasti dialami setiap orang beriman yang yakin akan Kemahakuasaan, 
Kemahapengasih dan Kemahapenyayangan-Nya. Kadang-kadang saya suka malu juga, 
kenapa saya yang banyak dosa dan masih sering melanggar larangan-Nya ini kok 
masih disayang dan diberi-Nya kesempatan untuk bertaubat.

"Kalau ada apa-apa di Arafah hubungi saya" kata Ustadz Azis sebelum pergi.

Tidak lama dokter Iva kembali ke kamar untuk menyerahkan Atrovent inhaler1), 
yang berhasil diperoleh pak Erman dan pak Radjikin di sebuah apotek. Karena 
kondisi saya sudah hampir membaik, saya minta agar inhaler tersebut dipegang 
dokter Iva saja, sehingga jika dibutuhkan dapat digunakan untuk memberikan 
pertolongan cepat kepada jemaah lain yang mendapat serangan Asma. 

Kur yang sempat panik—karena ada pembeitahuan dari ustadz kami, bahwa 
keberangkatan ke Arafah direncanakan sesudah maghrib, tetapi jamnya belum jelas 
dan kalau pada saat keberangkatan ada jemaah yang belum siap akan 
ditinggalkan—menyuruh saya buru-buru membersihkan diri dan menggunakan pakaian 
ihram.

"Ah, teman-teman saya pasti tidak akan membiarkan saya ditinggalkan," jawab 
saya santai.

Ketika kembali ke kamar, teman-teman sekamar sangat tercengang dan gembira 
melihat keadaan saya


Minggu, 9 Februari, petang

Menjelang maghrib kami sudah  siap untuk berihram. Sebagaimana jemaah lainnya, 
kami juga telah  menyiapkan handbag berisi pakaian biasa2), yang akan kami 
kenakan setelah bertahallul awal sehabis melempar jumrah Aqabah di Mina, 
makanan ringan, jus buah dalam botol, perlengkapan mandi, tikar plastik untuk 
alas tidur di Arafah dan di Mina serta air zam-zam di dalam termos. 

Sehabis shalat maghrib yang dijamak dengan isya, kami mengganti pakaian kami 
dengan pakaian ihram. Setelah itu kami melakukan shalat sunat dan melafazkan 
niat haji: "Labbaykallahumma hajjan". Sekitar jam delapan malam kloter kami 
berangkat dengan sejumlah bus ke Arafah3).  

Arafah yang terletak 25 km di sebelah Timur Makkah, merupakan sebuah lembah 
seluas 1.500 m persegi yang dikelilingi oleh ngarai dan bukit berbatu yang 
membentuk busur di bagian Timurnya. 

Perjalanan ke Arafah berjalan dengan sangat lancar, karena bus-bus kami 
menggunakan jalan raya by pass khusus bagi jemaah haji Asia Tenggara yang baru 
dibangun tahun ini oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Menjelang masuk ke 
Arafah ustadz kami menunjukkan kepada kami Masjid Namirah, yang dulu—yang 
tentunya belum semegah sekarang—pernah digunakan oleh Rasulullah untuk shalat 
sebelum berwukufdi Arafah.

Kafilah kami mendapat satu buah tenda besar. Begitu tiba di dalam, teman-teman 
langsung mencarikan tempat yang nyaman buat saya beristirahat  dan membantu 
menggelarkan tikar plastik untuk tidur. Karena semuanya mengenakan pakaian 
ihram yang tidak ada lagi pelapis di dalamnya, jemaah laki-laki mengambil 
posisi tidur beradu kepala.

Kalau tidak, bisa "lucu" juga ya.

Saya masih batuk sesekali yang disertai sekresi lendir, yang langsung saya 
bersihkan dengan tisu yang saya taruh di tas paspor yang selalu tergantung di 
leher saya, yang membuat pernapasan saya terasa semakin lega. Setelah makan 
malam yang disediakan oleh Maktab: nasi boks, buah-buahan dan air kemasan, 
rombongan kami bersiap-siap untuk tidur.

Ketika saya mulai merebahkan badan, tiba-tiba dari tenda sebelah4) terdengar 
suara  talbiyah yang dilantunkan bersama-sama dengan lembut, khusuk dan syahdu, 
dan seakan-akan berasal dari alam lain.

Ketika saya mencoba mengikutinya, saya tak kuasa menahan tangis saya.

Aku datang Ya Allah, memenuhi panggilanMu.
Aku datang Ya Allah, tiada yang setara denganMu.
Segala puji dan nikmat hanyalah milikMu, segala kekuasaan jua milikMu.
Tiada yang setara denganMu. 

Dibuai oleh suara talbiyah yang dilantunkan dengan lembut, khusuk dan syahdu 
itu, saya terlelap dengan tenang.

Seperti kebiasaan saya di rumah, jam 2 dini hari saya terbangun, lalu 
bertayamum guna melaksanakan shalat tahajud. Saya hanya sanggup melakukan dua 
kali dua rakaat, tanpa witir.

Setelah itu saya merebahkan diri, sembari mencoba berzikir dalam hati menunggu 
waktu shubuh, yang jatuh pada jam 5.30 waktu setempat.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke