Cinta
Oleh K Suheimi

Pagi ini saya dapat kiriman dari irham. Tulisan yang sangat menyentuh. Untuk 
jadi renungan.


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah 
melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai 
menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah 
dengan suara terbatas memberikan  kutbah,

 "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka 
taati dan bertakwalah  kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, 
Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku,  berarti mencintai aku 
dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

 Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan  
penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan 
berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman 
menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat 
itu telah datang, saatnya sudah tiba. 

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. 
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda 
itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah 
yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau 
mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik 
berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. 
Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang 
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba 
dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 

"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya 
masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan 
dan menutup pintu Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah 
membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak 
tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah 
lembut

‎​‎​Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. 
Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. 
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah 
yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, 
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, 
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian 
dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut 
ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di 
hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu 
langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka 
lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan 
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.  "Engkau tidak senang mendengar 
khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku 
kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah 
berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad 
telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya 
Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh 
Rasulullah bersimbah peluh urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit 
sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang 
di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah 
kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada 
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih 
Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah 
memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut 
ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan 
Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

‎​Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan 
telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat 
dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai 
terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di 
wajahnya,dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai 
kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, 
berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita 
mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.


Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Sucinya dalam Al_Qur'an

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang 
belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia 
tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang 
ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan 
Allah bagi kaum yang berfikir. 39;42

Pekanbaru 10 Juni 2010

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke