Pak Emi Dulu pernah ambo manulih tentang kota Bagan Siapiapi, iko ambo postingkan sekedar info buek Pak Emi, kalau pulang dari sinan oleh2nyo nan khas jaan sampai lupo di bali ikan pari nan tipih co dendeng ado di kadai cino dikota atau pusat perdagangan (pasa) di bagan nan manjua aneka ikan asin dll (kalau lah buliah manitip tolong ambo balikan agak 1 Kg Pak, ikan pari kariang nan tipih2 ko) salain tu kacang tumbuaknyo lamak dan khas juo
Wass-Jepe *** BAGANSIAPIAPI KOTA TUA YANG SEDANG BERBENAH Oleh : Jepe Bagi generasi seusia saya yang menempuh SD ditahun 1972 sampai 1976, tentunya tidak asing lagi dengan pertanyaan ketika menghadapi ulangan mata pelajaran yang dulu disebut IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), pertanyaan tersebut adalah “Kota mana penghasil ikan terbesar di Indonesia bahkan di dunia”, rata-rata hampir semua siswa bisa menjawabnya dan juga nama kota ini gampang diingat yaitu Bagansiapiapi. Pertama kali saya menginjakan kaki di Kota Bagansiapiapi (disingkat Bagan) sekitar tahun 1995 saat itu kota ini masih merupakan sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Bengkalis-Riau. Sejak dua tahun terakhir saya sering ditugaskan perusahaan ke Bagan untuk koordinasi dan mengurus ijin teknis di bidang Kehutanan dengan instansi terkait Pemerintahan Daerah Kabupaten Rokan Hilir. Semenjak pemekaran Kabupaten Bengkalis menjadi dua Kapubaten yaitu Kabupaten Bengkalis (Induk) yang ibu kotanya Bengkalis satunya lagi Kabupaten Rokan Hilir yang ibu kotanya Bagansiapiapi, kota Bagan saat ini sibuk berbenah diri dari kota tua penghasil ikan yang sumpek dan kumuh menjadi kota pusat pemerintahan ,. tujuan wisata. budaya dan perdagangan dikawasan pantai timur Sumatra yang menghadap selat Malaka. Pembangunan fisik sedang giat dan berdenyut saat ini dilaksanakan sebut saja gedung-gedung pemerintahan, jalan dan jembatan, pasar, pusat perbelanjaan dengan bangunan modern serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Penduduk kota Bagan didominasi oleh warga keturunan atau lazim disebut Cina Bagan, populasi mereka sekitar 70 % dari total penduduk Bagan, sedangkan 30 % sisanya penduduk asli (Melayu Bagan) serta pendatang dari Minang, Jawa dan Batak. Tidak seperti kebanyakan warga keturunan dikota-kota besar di Indonesia yang rata-rata mata pencaharian mereka disektor perdagangan dan hidupnya lebih “eksklusif dan tertutup”, Cina Bagan layaknya masyarakat kebanyakan berada disemua lapisan (strata), mata pencaharian mereka mulai dari buruh kasar, nelayan, tukang becak, menjual sembako di warung-warung dan ruko, usaha rumah makan dan warung kopi, pedagang keliling dengan becak dan sepeda sampai pedagang lapisan atas yang kaya atau lazim disebut para Toke. Mereka semua berbaur dengan masyarakat tempatan atau Melayu Bagan dalam kehidupan dan interaksi sosial sehari-hari. Umumnya masyarakat Melayu Bagan dan pendatang bekerja disektor pemerintahan menjadi PNS, TNI dan POLRI. Kota Bagansiapiapi saat ini bukan lagi sebagai penghasil ikan terbesar dan juga sebagai pembuat kapal yang terkenal. Ketika saya berkunjung ke Kota ini saya sempat melihat bekas-bekas masa kejayaan dan keemasan kota ini sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia yang terletak di muara sungai Rokan yang menghadap laut lepas pantai timur Sumatera. Jalan menuju kesana hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor atau becak dayung menyusuri jalan semen selebar lebih kurang dua meter. Disepanjang muara sungai Rokan banyak terdapat bangunan tua seperti gudang dengan material kayu tempat penampung hasil ikan tangkapan nelayan atau disebut juga dengan bang liau. Bangunan tua ini halamannya yang luas berjejer rak-rak serta lantai semen yang kusam tempat menjemur ikan.Hasil tangkapan ikan nelayan dari pantai timur Sumatra ini tidak berlimpah ruah lagi layaknya jaman keemasan Bagansiapiapi sebagai penghasil ikan terbesar sejak jaman Belanda sampai dengan paling tidak akhir tahun 70- an, sempat tercatat hasil tangkapan nelayan Bagan pernah mencapai 150 ..000 Ton pertahun, bahkan daerah ini pada masa jayanya adalah pelabuhan dengan produksi ikan kedua terbanyak di dunia setelah Norwegia Kejayaan itu menyurut seiring perkembangan jumlah nelayan yang tidak terkendali dan perambahan peraiaran oleh nelayan liar. Empat tahun terakhir kondisi semakin memburuk, pencurian ikan dengan pukat harimau semakin marak, semua jenis ikan mulai dari telur, anak ikan sebesar jarum seperti ikan teri bahkan terumbu karang yang masih muda ikut tersapu oleh pukat harimau ini.Pada tahun 2004 menurut data dari Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir produksi ikan tinggal sekitar 33.000 ton saja per tahun, jumlah nelayan menurun menjadi 40-an nelayan saja Begitu juga galangan tempat membuat kapal kayu yang tersisa hanya puing-puing kapal tua serta bangunan-bangunan tempat pengerjaan kapal , tidak ada hiruk pikuk kegiatan dari para pekerja dan ahli pembuat kapal kayu yang terkenal di kota Bagan ini. Dimasa jayanya Bagansiapiapi terkena pembuat kapal atau perahu kayu berkualitas tinggi yang mampu menembus berbagai karakteristik lautan sehingga banyak digunakan nelayan seantero Nusantara, karya-karya para ahli pembuat kapal dari Bagansiapiapi ini juga diminati oleh nelayan-nelayan Sri Langka, India bahkan Amerika.Saat ini jikapun ada hanya satu dua galangan yang masih membuat kapal kayu ukuran kecil itupun tergantung pesanan. Industri kapal kayu ini mati suri karena kesulitan bahan baku kayu berkualitas tinggi seperti kayu giam untuk lunas, kayu kulim untuk dinding kapal dan jenis punak serta kayu meranti kelas satu untuk rusuk-rusuk bilik di dek Menurut sejarahnya kota ini dibangun oleh perantau China pada era 1820-an, bermula dari sekelompok orang Fujian bermarga Ang yang mencoba mengubah peruntungan nasib dinegeri orang. Kelompok ini menyeberangi lautan untuk mencari tanah baru di negeri harapan dengan kapal kayu sederhana yang disebut wangkang atau tongkang. Asal usul nama Bagansiapiapi ada beberapa versi. Versi , yang diperjaya banyak masyarakat adalah munculnya petunjuk Dewa Kie Ong Ya berupa cahaya api daratan ketika tongkang marga Ang kehilangan arah, namun ada pula versi yang mengatakan Bagan berasal dari kata tempat penangkapan ikan, sementara api berasal dari pohon api-api yang banyak tumbuh di daerah pantai. Versi lain menyebutkan ketiga Marga Ang berada dilautan dengan tongkangnya melihat suatu daerah malam hari bercahaya kerlap kerlip, dugaan mereka adalah pelabuhan atau daerah yang dihuni penduduk, lalu mereka mampir berlabuh sesuai dengan tujuan mereka ingin memperbaiki nasib dirantau orang, mereka berasumsi dimana api disanalah ada kehidupan dan mereka yakin disinilah daerah yang bisa merubah nasib mereka, tapi setelah mereka sampai didaratan tersebut tidak ada tanda-tanda kehidupan masyarakat, sedangkan cahaya kerlap kerlip menyerupai api yang mereka lihat ditengah laut berasal dari jutaaan kunang-kunang yang bersinar di hutan rawa pinggir pantai. Karena kecewa dan juga persediaan bahan makanan tidak ada lagi dalam melanjutkan pelayaran merantau kenegeri orang untuk memperbaiki nasib, akhirnya Marga Ang sepakat untuk tinggal di daerah pantai yang banyak kunang-kunang ini Mereka memulai kehidupan baru dipinggir pantai tersebut, agar tidak ada dari mereka yang berkeinginan melarikan diri maka kapal atau tongkang mereka satu-satunya yang digunakan selama ini berlayar dibakar.Disinilah bermula acara ritual Marga Ang ini yang dikenal dengan “Acara Bakar Tongkang” atau juga disebut Go Cap Lak, dimana ritual tersebut diadakan setiap penanggalan Imlek bulan kelima (Go) tanggal ke 16 (Cap Lak) setiap tahunnya Acara ini baka.r tongkang juga merupakan wujud rasa terima kasih warga China perantau atas rezeki yang berlimpah didapatkan terutama kepada Dewa Kie Ong Ya yang telah memberi petunjuk.Sumber lain menyebutkan merupakan pemujaan untuk memperingati hari lahir Dewa Kie Ong Ya. Sesuai agam yang mereka anut yaitu Khonghucu.Acara bakar tongkang ini menjadi agenda parawisata Propinsi Riau setiap tahunya yang cukup penting dan menyedot pengunjung baik wisatawan domestik maupun manca negara terutama warga keturunan yang meranta..Acara ini. sangat meriah dan biaya pelaksanaan mencapai miliaran rupiah, kemeriahan acara ini bahkan mengalahkan kemeriahan merayakan tahun baru Imlek di Bagansiapiapi. Saat Imlek banyak perantau warga keturunan (Cina Bagan) tidak mudik, tetapi pada saat acara ritual bakar tongkang keinginan mudik jauh lebih besar Kini penduduk Bagansiapi yang dibangun Marga Ang denyut perekonomiannya tidak bertumpu lagi pada hasil ikan tangkapan nelayan dan industri pembuat kapal kayu. Masyarakat terutama Cina Bagan lebih banyak memelihara walet pada bangunan-bangunan ruko bertingkat dan pemerintah mengandalkan pendapatan asli dari sektor perdagangan, jasa dan parawisata.Potensi perikanan laut masih ada, tetapi butuh kepedulian dan kejelian pemerintah daerah dan pusat untuk membangun kembali agar Bagansiapiapi kembali menjadi sebuah kota yang dikenal dunia sebagai penghasil ikan terbesar nomor dua di dunia. *** Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
