Maaf-Jiko ado nan tertarik. Nan mambuek acara adolah


   *KpSHK - Konsorsium pendukung Sitem Hutan Kerakyatan*
   Jl. Sutriragen V NO. 14, Indraprasta - Bogor. Jawa Barat. Indonesia 16153

   Tel : 0251-8380301, Fax : 0251-8380301
   E-mail : [email protected]



Salam


andiko

*
*

*Matinya Hutan Adat*



Pilihan hukum atau legal bagi penguasaan dan pengelolaan kawasan hutan
negara oleh masyarakat pinggir hutan dan dalam hutan sangat beragam.
Perhutanan Sosial yang berbentuk Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa,
Hutan Tanaman Industri Rakyat (HTR), dan Kemitraan sesuai Undang-Undang
No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan (PP No.6 tahun 2007 atau PP No.3 tahun
2008) sebagai kerangka hukum yang mewadahi dan memberikan kesempatan bagi
pengakuan pengelolaan kawasan hutan negara oleh masyarakat.



Masyarakat pinggir hutan dan dalam hutan tidak hanya masyarakat lokal.
Masyarakat adat yang saat ini jumlahnya tidak kurang dari 75 juta jiwa
adalah kelompok masyarakat pinggir dan dalam hutan yang bergantung langsung
dengan keberadaan hutan dengan posisi lebih kuat. Historikal, masyarakat
adat memiliki hak asal-usul (yang terwaris) atau hak ulayat atas tanah
hutan. Bahkan UU No.41 tahun 1999 pada bagian ketentuan umum, menyebutkan
istilah Hutan Adat (walau pengertiannya mengundang kritik dari banyak pihak
yaitu hutan negara yang berada di wilayah masyarakat hukum adat).



Proses penerjemahan UU No.41 tahun 1999 terutama berkenaan dengan Hutan Adat
hingga ke tingkat peraturan pelaksanaan, RPP Hutan Adat, sudah menjadi
wacana para pihak. Namun yang mengemuka kemudian adalah adanya penolakan
atas RPP Hutan Adat oleh masyarakat adat, semisal Majelis Rakyat Papua (MRP)
menolak RPP Hutan Adat, dan beberapa organisasi dari perwakilan kelompok
masyarakat adat lebih ekstrim  bersikap menolak dengan meminta revisi UU
No.41 tahun 1999.



Kondisi hutan dan kawasan hutan, sikap dan perilaku pemerintahan berubah,
dan ini menyebabkan demokratisasi di sektor kehutanan semakin terbuka.
Perhutanan Sosial menjadi pintu keterbukaan seluas-luasnya bagi peran
masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sumberdaya dan kawasan hutan. 2,1
juta hektar Pemerintah mencadangkan lahan hutan produksi, hutan produksi
terbatas dan hutan lindung yang kritis untuk pelaksanaan Perhutanan Sosial.



Peluang percepatan pelaksanaan demokratisasi kehutanan tersebut tidak
menutup kemungkinan mendorong masyarakat adat secara pragmatis menjadi
pengaju dari jenis-jenis Perhutanan Sosial. Apalagi dikaitkan dengan
kepentingan pelaksanaan Perhutanan Sosial untuk pengentasan kemiskinan dan
mitigasi perubahan iklim (REDD+ dari LoI Indonesia-Norwegia) yang saat ini
menjadi perhatian semua pihak.



Saat hal tersebut terjadi, ada dua kondisi yang perlu menjadi pertimbangan
paradigmatik dan filosofis, kemajemukan sistem hukum di Indonesia akan pupus
karena keberadaan masyarakat adat yang bhinneka sangat terkait dengan
keberagaman sistem hukum tersebut, dan masyarakat adat yang memiliki
kemandirian atas kedaulatan sosial-budaya-ekonomi tunduk kepada kedaulatan
negara secara penuh dengan memberikan penguasaan hak ulayat atas kawasan
hutan mereka dalam kerangka hukum positif.



Matinya Hutan Adat akan segera menjadi keniscayaan, tanpa adanya upaya-upaya
mengembalikan pelaksanaan demokratisasi kehutanan pada porsi yang
semestinya, yaitu mengembalikan kedaulatan masyarakat adat atas hak
penguasaan dan pengelolaan kawasan hutannya sesuai dengan hak-hak asal-usul
dasar bawaan (terwaris) mereka. Van Vollenhoven (abad 19) menyebutkan 13
masyarakat hukum adat yang masih menerapkan sistem hukum berdasarkan
adat-istiadat masing-masing.



Untuk itu, KpSHK yang berkedudukan di Bogor akan menyelenggarakan diskusi
“Matinya Hutan Adat” pada 19 Juni 2010. Tujuan diskusi ini untuk menemukan
kembali semangat memperjuangkan pengakuan sistem-sistem pengelolaan
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat adat. Diskusi ini
merupakan diskusi rutin bulanan KpSHK dengan jumlah peserta terbatas.



*Acara diskusi*

*Tema: “Matinya Hutan Adat”*

*Narasumber: Andiko Sutan Mancayo*

*(dalam konfirmasi)*

*Waktu: Sabtu, 19 Juni 2010*

*Pukul: 09.00-11.00*

*Tempat: Kebun Kita-Bogor (dalam konfirmasi)*

*Panitia: Dewi dan Ronald, t: 0251 380301*

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke