Begitulah cara berfikirnya Polisi Indonesia bagaimana mau
maju................Negatif zinking.* " Manusia kini sudah sudah hilang rasa
dari tubuhnya "
*
Pada 10 Juni 2010 17:19, Riri Chaidir <[email protected]> menulis:

> Sanak ZulTan.
>
> Takajuik ambo karano rasonyo pernah mambaco carito dan manonton di TV
> carito mirip iko, tapi lah lamo.
>
> Sabantako ambo tanyo ka Mak Google, katonyo berita ko adalah berita nan
> ambo baco waktu itu. Kejadiannyo tahun 2005.
>
>
> Riri
> Bekasi, l, 48
>
>
>
>
> 2010/6/10 <[email protected]>
>
>
>> Dunsanak, badoalah awak, untuang-untuang cerito ko indak batua, bia ndak
>> barek bana baban Para Bedebah tu di akhiraik nanti.
>>
>> Innalillahi wa inna illahi rojiun, semoga Allah manjadikan Khaerunisa
>> jalan manuju sarugo untuak Pak Supriono
>> ----
>>
>> PPEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
>> mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
>> PPenumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger,
>> Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38
>> thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
>> memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
>> Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke
>> kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di
>> kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber.
>> Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke
>> RSCM untuk diautopsi.
>>
>> Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang
>> muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan
>> Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya
>> uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya
>> hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp
>> 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong
>> perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa
>> sembuh dengan sendirinya.
>>
>> Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya,
>> Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba,
>> meski hanya terbaring digerobak ayahnya.  Karena tidak kuasa melawan
>> penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu
>> (5/6) pukul 07.00.
>>
>> Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak
>> yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali
>> sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal
>> Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil
>> dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih
>> terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak
>> berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
>> menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di
>> sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
>>
>> Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
>>  Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah
>> si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang
>> tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si
>> sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
>> Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri
>> Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya
>> telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang
>> mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung
>> dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya
>> ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
>>
>> Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi
>> dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang
>> dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga
>> saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah
>> meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul
>> 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen
>> atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki
>> menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan
>> Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos
>> perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan
>> untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
>>
>> Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
>> benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena
>> masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli sesama.
>> “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab
>> untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak
>> memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini
>> merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.Koordinator Urban Poor
>> Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi
>> jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu.
>> Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak
>> mengurusi orang miskin kata Wardah.
>>
>> -------batas kutipan
>>
>> Wassalam,
>> Sent from my BlackBerry®Bold powered by ZulTan, L, 49+, Bogor
>>
>> --
>> .
>> Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di
>> tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>>  1. E-mail besar dari 200KB;
>>  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
>>  3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>> - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
>> - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
>> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>>
>
>  --
> .
> Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di
> tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E>
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke