dari milis Surau dan atas izin beliau
ambo sebarluaskan tulisan ini.
wassalam
boes
================
Pengalaman Di Imigrasi Bandara Minangkabau
Negara-negara yang kaya biasanya akan mengeluarkan biaya yang banyak
untuk mempromosikan tempat-tempat menarik di negara mereka agar tourist
datang. Ini karena setiap tourist yang datang pasti akan membelanjakan
uang yang banyak dan itu akan menjadi sumber pendapatan yang akan
menghidupkan lagi putaran perekonomian dan dengan sendirinya akan
membuka peluang lapangan pekerjaan seperti dibidang perhotelan,
restoran, travel agenci, investasi dan sebagainya kepada anak negeri.
Sumatera Barat saat ini sangat memerlukan income untuk membangkitkan
lagi perekonomian daerah setelah di uji dengan kehancuran disebabkan
oleh gempa baru-baru ini. Sesuai dengan kebijakan Pemda yang
mempromosikan Sumbar sebagai tempat tujuan wisata, diharapkan berbagai
pihak mendukung kebijakan ini.
Selama ini orang Malaysia lebih suka datang ke Australia, Inggris, Tokyo
dan sebagainya. Karena adanya krisis ekonomi saya melihat tourist dari
Malaysia sangat suka datang ke Sumatera Barat sebab biayanya murah,
adanya hubungan kekeluargaan, seagama, suku kaum antara Malaysia dengan
Sumbar dan juga karena indahnya alam Sumbar. Akan tetapi beberapa
laporan yang saya terima layanan yang mereka dapatkan di Sumbar tidak
sama dengan layanan yang mereka dapatkan di negara lainnya.
Saya takut para tourist akan jera dan kapok untuk datang lagi ke Sumbar
yang dengan sendirinya akan merugikan Sumbar dengan hilangnya sumber
devisa negeri.
Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini birokrasi di RI terburuk nomor
2 se Asia. Saya sudah mengadukan pengalaman ini ke Humas Imigrasi pusat
dan nampaknya belum ada tanggapan hingga saat ini. Di Malaysia tempat
kami belajar saat ini pernah mengadukan berbagai macam pelanggaran dan
penyimpangan aparat dan itu ditanggapi dengan cepat dan bahkan ada
petugas yg dipecat.
Beberapa pengalaman saya sebagai konsumen yang membayar airport tax
setiap menggunakan Bandara ini adalah;
a. Diwaktu antri mau men cop pasport di Bandara Minangkabau kita
sudah disambut dengan muka masam dan bengis dengan praduga bersalah
bahwa seolah-olah semua yang berbaris itu adalah penjahat yang sedang
mau menerima hukuman. Petugas merokok seenaknya waktu bekerja dsbnya.
Seharusnya petugas tersenyum melihat orang yang datang karena mereka
membayar masuk kesini dan petugas dibayar gaji setiap bulannya untuk
melakukan pekerjaan, tugas dan kewajiban mereka dari pajak yang dibayar
rakyat.
b. Yang tidak salah dicari-cari kesalahannya dan yang salah sedikit
diperbesar dan dipersulit urusannnya yang ujung-ujungnya minta uang
minum dan sebagainya. mereka biasanya di bawa ke dalam kamar khusus dan
dibawa kebelakang yang ditutupi oleh layar dan disanalah berlakunya
transaksi dan tawar menawar. Saya pernah diminta uang karena kartu
keluar Indonesia lupa membawanya. Alasan petugas minta uang untuk
mengirim surat laporan itu ke Jakarta dan setelah saya katakan saya
mahasiswa mereka tidak berani meminta uang. Di aceh saya hanya disuruh
mengisi kartu kedatangan yang baru tanpa perlu membayar apapun karena
juga lupa membawa kartu kedatangan itu. Beberapa orang yang berada di
dalam imigrasi Padang dengan saya mereka diminta uang ringgit, padahal
mereka adalah TKI yang bekerja susah payah membanting tulang siang dan
malam di negara orang.
c. Seorang rakyat Malaysia yang tidak memiliki kesalahan apapun
pernah diminta uang karena petugas sudah mengenal mangsa karena
seringnya datang ke Sumbar.
d. Baru-baru ini Tamu Bapat Tarmizi Taher (Mantan Menteri Agama)
seorang ulama besar Malaysia Uthman el-Muhammady, diminta uang Rp. 2
Juta karena dia sedikit terlambat datang check in ke Bandara. Setelah
melalui pertengkaran mulut yang sampai melibatkan seorang aparat
akhirnya ulama tersebut bisa terbang tanpa perlu membayar uang sogokan
sebanyak 2 Juta tersebut.
e. Tanggal 15 Mei 2010 saya membawa 5 orang Dosen University
Malaya untuk tujuan penyelidikan. Salah seorang dosen itu di dipaksa
membeli tiket kembali ke Malaysia waktu itu juga dengan sikap yang
kurang hormat. Padahal kami sudah ke Aceh, Medan, Palembang, Surabaya,
Jakarta, Jogja dan sebagainya tidak pernah diminta tiket kembali. Ini
karena biasanya kami tidak tahu pasti tanggal berapa kami pulang dan
dimana kami akan keluar karena hanya mengikut keadaan kunjungan
tersebut. Seorang petugas imigrasi bernama DF bersikap seperti preman
dan tidak layak disebut sebagai petugas negara yang tidak memiliki
keramahan dan kesopanan sama sekali.
Ada banyak cara sebenarnya kalau pimpinan instansi berkaitan (Imigrasi)
mau merubah semua itu;
1. Dengan menukar petugas di pintu masuk Bandara secara berkala,
agar petugas tidak mengenal mangsa dan biasa dengan budaya Korupsi. Cara
seperti ini dilakukan oleh imigrasi Malaysia diperbatasan negara mereka.
2. Membuat kotak aduan di Bandara atas layanan yang kurang
menyenangkan atau minta uang korupsi lainnya. Nama-nama petugas yang
sering diadukan agar dipindah dinaskan saja ke daerah-daerah terpencil
seperti Irian Jaya dan sebagainya atau dipecat saja karena ulahnya
sangat merugikan masa depan dan jangka panjang perekonomian daerah,
dengan menghalangi tourist dan investor datang ke daerah ini.
3. Sebaiknya tidak perlu ada ruang khusus yang ditutupi dengan
layar tersebut agar transaksi gelap minta uang rokok dan sebagainya bisa
di atasi dan nama Sumbar tidak tercemar oleh perangai segelintir petugas
yang tidak bertanggung jawab.
4. Harus ada seorang pimpinan tertinggi atau atasan mereka yang
mengawasi para petugas yang saya lihat masih sangat muda dan tidak
matang itu. Diharapkan dengan adanya atasan yang mengawasi kerja mereka,
para petugas itu akan takut melakukan penyelewengan dan budaya korupsi
lainnya.
5. Sebaiknya ditempatkan orang-orang yang sangat mencintai Sumatera
Barat (Putra Daerah) sebagai petugas imigrasi dan petugas lainnya agar
dia berpandangan jauh dan bukan hanya menginginkan keuntungan seketika
tanpa memikirkan akibat jangka panjang yang akan menimpa Sumbar nantinya.
6. Sebaiknya di baju para petugas imigrasi di tulis logo “AKU ANTI
KORUPSI” agar budaya korupsi dan segala penyimpangan lainnya bisa
dihentikan.
Demikianlah aduan ini semoga bisa dicari solusi dan jalan keluarnya. Apa
yang saya kemukakan adalah pengalaman pribadi yang saya ketahui secara
pasti kebenarannya dan tentu saja masih banyak lagi kasus-kasus
penyelewengan dan pelanggaran lainnya yang belum saya ketahui tetapi
pasti pernah berlaku.
Kuala Lumpur, 31 Mei 2010
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.