Engku Jamaludin Mohyiddin sarato dunsanak di palanta nan ambo hormati.

Bukan ambo hendak menjawab sarupo nan engku minta "*Saya mohon pembetulan
dalam tulisan saya ini. Maklumlah banyak kelemahan pada diri ini*.", akan
tetapi adalah berkehendak *baiyo batido* sesuai dengan tuntunan surat wal
'ashri.


===*cara bijaksana melayani atau mengurus perubahan itu dan kewajiban kita
mengolah atau mencorak atau mewarna'i akan nya sesuai dengan "status kita
sebagai Wakil Allah" di bumi*

--Pandapek ambo: Kurang setuju dengan ungkapan "manusia disebut sebagai
wakil Allah di bumi" untuk diberitahukan/dipublikasikan/dipakai bagi
penggunaan bahasa oleh khalayak awam. Sedangkan untuk pemahaman pribadi,
silakan saja paham "manunggal ing kawulo lan gusti" ini dipakai sendiri oleh
yang telah memahaminya.

 Menurut pengertian bahasa Melayu "wakil" bisa menjadi menggantikan "yang
diwakilinya. Ini mustahil manusia menggantikan sang penciptanya.

== *Pengertian Takambang itu juga mengambil kira, dalam jangkaan saya,
"unsur perubahan."
Saya belum baca uraian terperinci filsafah Takambang ini tetapi saya yakin
telah ada penulisan dan perbahasan filsafah Takambang ini dalam persuratan
Minangkabau (Lama).*

--Pandapek ambo: "alam" adalah makhluk yang diciptakan Allah --->sifat dan
bentuk tak akan sama dengan sang pencipta.

Cupak nan Dua --->"tertutup" dan "takambang".
Takambang ---> boleh/bisa dipelajari, sedangkan kalau tertutup tentu tak
bisa.

Ambo memahami "alam" ini sebagai "kitab" (ayat) yang diturunkan sebagai
makhlukNya, *yang hanya bisa dipahami manusia, apabila orang tsb. telah
mengerti "ilmu menilai kuantitatif (ilmu berhitung yang memakai bilangan
angka angka)" dengan kata lainnya bisa melakukan "pareso"<---inilah nan
disebut sebagai "kitabullah yang diturunkan tidak tertulis".*

Sedangkan yang satunya lagi ialah kitab Allah, diturunkan melalui
perantaraan malaikat Jibril kepada nabi nabi untuk didakwahkan kepada
seluruh umat manusia.
silakan lihat sistematikanya di animasinya
http://nagari.or.id/gambar/sistematika.php

===*Unsur "ketetapan" adalah wilayah agama. Faham Tauhid berdimensikan unsur
tetap, kekal dan suci. Faham Tauhid ini inti percayaan Sarwar Islami/Islamic
Worldview. Tetapi berbeda dalam hal beragama, yang ada hanya "unsur
perubahan" dan tidak bertaraf suci*

---Pandapek ambo: "unsur perubahan". Kalau boleh ambo berpendapek bisa
diganti dengan istilah "peningkatan" kemampuan "*merasa*" dan peningkatan
kemampuan "*memeriksa*" terhadap alam ini (makhluk)--->untuk hal ini orang
orang perlu belajar/memahami ilmu estetika, etika, arithmatika, matematika.

===*Tetapi bagaimana cara "mengurus perubahan" itu? Ustaz Nakha'ie menjawab
aturcara melakukan perubahan itu juga tertaklok kepada disiplin keilmuan dan
keIslaman dengan harapan pengendalian perubahan itu memberi faedah dan
bermanfa'at kepada ummat. Memahami dan melaksana perubahan itu kita mesti
berilmu dan mempunyai keintelektualan tinggi. Maka para agen perubahan juga
bersifat saorang ilmuwan. Bersifat ilmuwan ini penting kerna mengekal
dinamika perubahan tersebut.
*
----Pandepek ambo: "mengurus perubahan" --->jangan keluar dari tuntunan
Kitab tertulis (qur'an, hadis) serta harus memahami ilmu ilmu estetika,
etika, arithmatika, matematika, sedangkan yang telah ada (budaya) selama ini
tidak perlu dilarang, silakan diteruskan.

*===Agenda perubahan berdimensikan bebas budaya akan menemui kegagalan. Ad
din ul Islam yang diterapkan itu mesti berpijak dalam  warisan budaya
setempat.
*
---Pandapek ambo: setuju sekali

=== *Prioritas utama ialah sistem pendidikan berunsurkan roh dan rohani
keIslaman. Pembaikan sistem ini berlansung dalam satu generasi dan dari
generasi inilah lahirnya bakal pemimpin, panglima, ahli birokrat  dan
pedagang. Dari kolam regenerasi inilah datangnya Panglima Salahuddin Ayyubi
*
--- Komentar ambo: Ambo mendoakan beliau, Salahuddin Ayyubi di mesjidnya
agar Allah memberi pengampunan dan balasan yang setimpal atas jasanya
meningkatkan marwah kaum Islam ketika perang salib.

Akan tetapi mengapa sekolah, universitas yang telah ada di Mesir ketika itu,
tidak bisa menyamai kemampuan intitusi yang serupa di negeri negeri salib
sampai kini? Apakah ada dipengaruhi unsur budaya pula.

Tapi kalau kita mendakwakan pada pengaruh budaya, kenapa kok negara negara
Islam yang dikenal kaya-kaya di Timur Tengah juga belum mampu meningkatkan
ilmu pareso/periksa mereka.

Bahkan kerajaan mereka kini lebih berkembang menjadi negara negara/kawasan
di mana orang orang Barat mendirikan proyek *menggalas*/berhura
hura/<--padahal rujukannya mestinya surat al Mukminun.

Salam dan maaf bila indak sapendapek!

Abraham Ilyas
www.nagari.org

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke