Kami baru sampai di Mina sesudah waktu ashar karena bus sering terhenti disebabkan oleh kemacetan lalu lintas selama perjalanan.
Ketika bus berhenti untuk kesekian kalinya karena jalan hampir macet total, kami berlima turun berikut barang bawaan kami. Sebelum kami turun, orang Parepare itu meminta kami membayar 5 riyal seorang sebagai "konpensasi" bagi teman-teman mereka yang menurut dia terpaksa naik ke atap mobil karena adanya kami di dalam bus, yang tanpa banyak cincong segera kami bayar. Kami masih berjalan kaki lebih kurang 500 m sebelum bertemu dengan anak-anak yang rupanya ditugasi maktab untuk mencari jemaah-jemaah kloter kami, sehingga dengan relatif mudah kami dapat menemukan kemah yang diperuntukkan bagi kafilah kami di Daerah Mina II , yang terletak lebih kurang 1,5 km dari ketiga jumrah.. Setelah diabsen, seluruh anggota kafilah kami berhasil tiba dengan selamat di kemah yang disediakan maktab, kecuali satu orang yang sempat pingsan karena mengalami dehidrasi, padahal badannya kekar. Di sepanjang jalan di Mina sebenarnya banyak terdapat keran air zam-zam yang dialirkan langsung dengan pipa berdiameter besar dari sumur zam-zam di Masjidil Haram, Makkah. Sangat mungkin jemaah itu tidak mengetahui betapa pentingnya sewaktu-waktu minum air jika berjalan di bawah terik matahari di kawasan yang berkelembapan rendah seperti di Saudi Arabia, yang menyebabkan cairan tubuh yang keluar dalam bentuk keringat cepat sekali menguapnya. Dan seperti gurauan ustad kami sebelum menaiki mobil di Arafah tadi malam, beliau memang tiba lebih dahulu di Mina, walaupun saya dengar kemudian, beliau cukup "kenyang" juga berjalan kaki hari ini. Setelah berputar-putar tujuh kali baru beliau berhasil menemukan kemah kami. Sedangkan pak Ketua Kafilah baru meninggalkan Muzdalifah setelah semua anggota kafilah berangkat atau terangkut oleh bus. Jadi "betul" juga, beliau berangkat lebih dulu tetapi tiba paling belakangan. Kami berdua sudah tidak punya lagi tikar yang akan kami gunakan untuk tidur, karena digunakan mas Juliansyah sebagai alas tidur dan penutup tubuh bapak tua jemaah haji plus yang pingsan di Muzdalifah tadi pagi sehingga terpaksa "nebeng" dengan tikar jemaah yang bersebelahan. Kami termasuk yang merasa sangat lega setelah mendapat kabar bahwa bapak tua tersebut akhirnya bisa diselamatkan dengan ambulans. Kafilah kami mendapat dua kemah, yang satu diperuntukkan bagi jemaaah laki-laki dan yang lainnya bagi jemaah perempuan. Terpal pembatas kedua kemah di bagian depan kemudian digulung sedikit ke atas sehingga para suami dan isteri dapat berkomunikasi dengan mudah. Semua kemah di Mina dilengkapi dengan AC. Kamar mandi dan toilet yang disediakan bagi para jemaah berupa bangunan permanen dan airnya cukup, tetapi ya itu, harus antri. Beberapa jemaah perempuan dari sebuah kloter malahan ada yang menggunakan keran untuk berwuduk guna mencuci pakaian, sehingga mengganggu jemaah pria yang hendak mengambil air sembahyang. Sesuai dengan yang direncanakan, sehabis shalat dan makan malam kafilah kami melakukan pelemparan jumrah hari pertama, yaitu jumrah Aqabah. Alhamdulillah, kegiatan peribadatan ini berjalan dengan lancar. Setelah selesai kami langsung bertahallul (awal), di mana jemaah laki-laki sudah boleh mengenakan pakaian biasa, tetapi masih terkena larangan ihram, utamanya melakukan hubungan intim suami-isteri. Selama dalam perjalanan pulang-pergi dan melempar jumrah, saya tidak mengalami masalah yang berarti. Namun ketika hendak tidur, saya merasa kondisi saya kembali agak menurun dan napas saya agak sesak. Saya teringat dan kemudian mengirim SMS untuk minta bantuan terapi jarak jauh kepada pak Haji Mugiharto 2), guru dan sahabat keluarga kami di Jakarta. Tidak lama setelah itu saya merasa dada saya yang sebelah kanan panas, sesak napas hilang dan kemudian tertidur dengan tenang. (bersambung) ------------------- 1) Setelah kembali ke Tanah Air saya mengetahui bahwa sistem ini sudah diujicobakan kepada jemaah asal Turki tahun sebelumnya dengan hasil baik. Sepanjang yang saya ketahui kebijakan Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia tersebut lebih sesuai dengan yang apa disunahkan oleh Rasulullah SAW. 2) Ketika itu menjadi Pelatih Tetada Kalimasada Cabang RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
