Dunsanak di palanta nan ambo hormati.
Assalamualaikum wr. wb.

Ambo copykan kutipan artikel dari harian ibukota tg. 14 Juni 2010, tulisan
Prof. A. Syafii Maarif, karano pada akhir artikel ada ungkapan khas bahasa
Minang, *"antahlah yuang!"*

Ungkapan ini, merupakan sindiran yang hanya bisa dipahami dengan *"raso"*;
dengan demikian manuruik ambo kesimpulan artikel ada pada diri kito masing
masing.
Untuak yang telah membacanya di koran tsb, silakan dilewati saja !

*Kisah negeri antah berantah*

Alkisah, tersebutlah suatu negeri di planet Bumi bernama Antah-berantah
karena letaknya sukar ditentukan, baik menurut lintang selatan maupun dari
sudut bujur timur.

Menurut informasi yang datang dari dunia maya, sejatinya sumber alam negeri
itu sangat kaya, tetapi rakyatnya masih banyak yang miskin dan menderita
karena sering ditipu oleh kaum elitenya atas nama sistem demokrasi.

*Elite puncaknya pandai sekali bersilat lidah dan menjual tampang sehingga
yang tertipu bukan saja rakyat di akar rumput, melainkan juga para sarjana,
doktor, dan kelompok lain yang sering dikategorikan intelektual.
*
Golongan terakhir ini sebagian produk domestik perguruan tinggi negeri
Antah-berantah, yang lain dari perguruan tinggi planet lain yang menguasai
bahasa asing.

Omongan mereka memukau karena diselingi ungkapan-ungkapan asing sekalipun
tak pernah singgah di otak rakyat biasa.
Golongan terpelajar yang berhasil merapat ke lingkungan elite puncak itu
umumnya menikmati berbagai fasilitas materi dan sedikit kekuasaan.

Bukan main bangganya mereka dengan situasi semacam itu, apalagi sebagian
mereka berasal dari kawasan pedesaan negeri itu, yang *menurut Ibn Khaldun,
orang desa itu rindu sekali meniru pola dan gaya hidup kota. *

Talenta bersilat lidah juga dimainkan oleh golongan yang merapat itu.

Tujuannya satu: bagaimana agar sebagian penduduk negeri Antah-berantah itu
merasa "bahagia" ditipu melalui bermacam cara dan retorika.
Tipuan ini sudah dirasakan sejak memasuki proses kampanye pemilu puluhan
tahun lalu.

Akan tetapi, berkat kelihaian teknik elektronik para doktor alumni planet
lain, semuanya bisa ditutupi.
Seolah-olah sistem politik negeri itu telah berjalan dengan lurus, jujur,
terbuka, dan adil, sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang diakui
dunia.

*Tiarap*

Ujungnya, sekalipun ada juga pihak-pihak yang sangat skeptis dan ragu dengan
cara demokrasi manipulatif itu, mereka pada akhirnya tidak berdaya apa-apa.
semuanya tiarap dengan penuh keprihatinan dan kegusaran.

Sebagian malah terus mengomel dalam, keputusasaan. Mereka saling curhat
sebagai pelipur lara.
Hanya *seorang paranormal* (?) yang terus berteriak bahwa manipulasi politik
itu harus diakhiri dengan kedatangan sebuah gorogoro, berdasarkan ramalan
duo leluhur yang dipercayainya.

Goro-goro menurut tuturan paranormal itu pasti membawa bencana akan banyak
korban, bahkan separuh penduduk jahat negeri akan maiti terbunuh.

Pesta berdarah akan berlaku, tidak dapat dihindari, karena sudah pakem,
katanya.
Tentu saja orang normal tidak mau membeli dagangan paranormal mengerikan
itu. Akan tetapi,ada sesuatu yang menarik pada diri paranormal ini.
Dia paham betul rakyat banyak telah ditipu permainan lidah dan lagak santun
para elite, semata-mata untuk menyesuaikan dengan pola-tingkah elite puncak
yang spektakuler itu.

Dengan segala kehebatan superfisial itu, sesungguhnya bangunan kekuasaan
elite puncak sangat rapuh. Indikatornya mudah dilacak. Tak ada satu pun
masalah fundamental yang beres di tangannya.
Dari cerita orang yang tahu, kerapuhan negeri itu tidak mengada-ada. Riil.

*Semakin oleng*

Di antara pejabat teras yang dekat dengannya sebenarnya sudah mengerti bahwa
elite puncak ini tidak memiliki kepercayaan diri. Maka, untuk menutupi se
gala kelemahan itu, berbagai lembaga dan badan diciptakannya demi
mengamankan posisinya yang semakin oleng.

Namun, akan tahan berapa lama? Yang busuk dan yang culas, lambat atau cepat,
pasti akan terbau dan ketahuan juga akhirya, bukan?
Inilah pertanyaan serius yang dibincangkan orang di seantero negeri yang tak
pernah jelas letaknya itu, tak terkecuali di warung-warung kopi di kawasan
pinggik.

Rakyat kecil ini langsung merasakan kesulitan hidup yang semakin parah dari
hari ke hari.
Pupuk tidak saja mahal, tetapi sulit didapat, petani tak berdaya dalam
ketersungkuran nasib.

Politik uang telah mewabah sampai ke ujung-ujung negeri.
Lagak para elite Ibu Kota tak berubah, glamour. Peduli amat jeritan rakyat
kecil, mengapa mau jadi kawula alit.


Bukan kesalahan elite, tetapi kawula alit itulah yang tak mau mengubah jalan
hidupnya.

*Tengoklah kami yang lagi berada di atas angin bisa belajar ke planet lain
sehingga terserap magnet elite puncak yang gagah perkasa.*

Kisah itu berlanjut. *Mantan atasan* elite puncak itu menjadi gusar dengan
kondisi negeri Antah-berantah yang dirasakan semakin merapuh, pada akhirnya
membuka kotak pandora.

Tuturnya: "Sewaktu elite puncak itu sedang berada di bawah bimbingan saya,
perilakunya sangat impresif, pintar, sopan, dan rendah hati. Akan tetapi,
itu semua adalah untuk kepentingan dirinya, bukan untuk kebaikan Negeri
Antah-berantah. Apakah pada akhirnya negeri itu akan terkapar atau
tenggelam, dia takkan hirau.

Yang penting posisinya tetap di atas. Saya gagal mendidiknya." *Antahlah
Yuang!*
AHMAD SYAFII MAARIF
Mantan Ketua Umum
PP Muhamrnadiyah

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke