Bartahallul Kubra, Memungut Rambut Di Lantai Masjid (B) Karena tidak melihat seorangpun jemaah dari kafilah kami, saya mendekati seorang jemaah haji Indonesia yang juga baru selesai bersa'i dan minta tolong dia memotongkan rambut saya sedikit—sebelum menemukan tukang cukur—lalu dia pun minta tolong saya memotong rambutnya. Kemudian saya memotong pula rambut Kur sedikit. Kami tidak sadar bahwa kami masih berada di salah satu bagian Masjid. Seorang petugas menghampiri dan menegur kami dengan gusar, lalu menyuruh saya memunguti rambut yang berserakan di lantai, yang segera saya kerjakan dan kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Setelah itu kami berjalan keluar masjid untuk mencari tukang cukur "amatir", yang konon banyak berkeliaran di sekitar Marwah untuk mencukur habis rambut saya seperti yang saya niatkan dari semula. Tetapi yang saya temukan adalah sejumlah kios-kios cukur orang India. Kami lalu menuju ke sana. Ada cerita-cerita lucu berkenaan dengan tukang-tukang cukur "amatir" ini. Karena salah komunikasi, tidak jarang maksud hati hendak bercukur pendek, eh sang tukang cukur langsung mulai main babat habis. Mau diteruskan awak tak suka, mau dihentikan ditengah jalan, masak mau jadi haji "punk?". Tetapi ada juga haji "punk terpaksa". Soalnya ketika sedang asyik bercukur, tiba-tiba pak tukang cukur membenahi peralatannya, termasuk kursi lipat yang sedang digunakan `klien'-nya, lalu kabur. Rupanya dia melihat ada askar yang akan mengusirnya mendekat, karena kegiatan tukang cukur PKL tersebut merupakan kegiatan "illegal". Tinggallah wak haji kita terbengong-bengong dengan kepala gundul sebelah. Di kios cukur India tersebut kami bertemu dengan mas Andi yang juga berniat mencukur habis rambutnya. Tarif cukur di Kios Cukur India itu 5 riyal untuk cukur pendek dan 10 riyal untuk cukur habis. Tarif yang tidak terlalu murah untuk ukuran Indonesia. Tetapi karena saat itu "demand" lebih besar daripada "supply" suka-tak suka, konsumen harus rela membayar tarif yang ditetapkan penjual. Selesai bercukur mas Andi sengaja mengantar kami pulang ke pemondokan. Ketika itu kami belum tahu tempat menunggu "angkot" yang rutenya ke arah pemondokan kami di Hafair, sehingga kami pulang dengan berjalan kaki. Mula-mula ikut bersama kami pak Tutu dan isterinya bu Komara. Tetapi di tengah jalan pak Tutu dan isteri memisahkan diri karena ingin membeli sesuatu. Selesai mengantar kami, mas Andi kembali ke Masjidil Haram guna menjemput mbak Dewi isterinya yang masih berada di Masjid untuk melakukan shalat dhuha. Mas Andi, laki-laki asal Soppeng yang tampan itu terlihat sangat serasi dengan mbak Dewi isterinya yang berdarah Jawa-Sunda itu. Serasi dalam rupa, serasi dalam ketaatan dan kerajinan beribadah dan serasi dalam kesantunan terhadap sesama jemaah. Siang harinya saya Jumatan dengan pak Tukiman dan mas Juliansyah di Masjid yang terletak sekitar 200 meter dari pemondokan kami. Petangnya di pemondokan kami terdapat kesibukan yang agak luar biasa. Jemaah haji Indonesia dari salah satu kloter awal terlihat sedang berkemas-kemas untuk pulang ke Tanah Air. Besok petang setelah melakukan thawaf wada atau thawaf perpisahan, mereka akan masuk "madinatul hujjaj", asrama debarkasi haji Indonesia di Jeddah dan lusa akan terbang kembali ke Indonesia. Sedangkan kafilah kami sebagai jemaah yang termasuk kloter terakhir, dijadwalkan baru akan kembali ke Tanah Air tanggal 15 Maret, artinya 28 hari lagi sejak hari ini. Sebanyak sembilan hari di antaranya akan digunakan untuk berziarah dan melakukan arbain, shalat wajib 40 waktu berurutan di Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah, saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua jemaah, termasuk kami tentunya. Di Masjid Nabawi pula terdapat makam Al-Mustafa Muhammad Rasulullah Sang Junjungan, Salallahu `Alaihi Wassalam…. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
