Seperti Ruang Perawatan di RSCM Bagi Para Pasien Yang Tidak Mampu Membayar (B)
Ketika pulang dari rumah sakit ke pemondokan, kami diantar oleh sopir ambulans yang pagi tadi dihubungi dr Iva, tetapi katanya "lupa" menjemput kami ke pemondokan walaupun kami sudah menyiapkan "uang lelah" yang dimintanya, yang tentunya sekarang sudah disetor oleh dr Iva kepadanya. Pada perjalanan pulang itu ada jemaah perempuan asal Sumatera Barat yang sudah tua dan lemah dan pengantarnya yang ikut serta, yang tidak urung juga "dipajaki" oleh pak sopir ambulans. Tetapi sekalipun sudah dibayar, diminta berhenti di dekat pemondokan si ibu tua tersebut pak sopir ambulans si "raja tega" itu tidak bersedia. Alasannya, terlalu jauh memutar. (Kemudian kami ketahui, bahwa pasien hanya akan dirawat kalau dibawa ke rumah sakit tersebut pakai mobil ambulans. Jadi merupakan "blessing in disguise" juga pak sopir ambulans "lupa" menjemput kami ke pemondokan, sekalipun kami sudah menyediakan "uang lelah" yang dia minta) Dalam perjalanan pulang terlihat wajah bu Imam sangat geram. Keesokannya saya dengar dari Kur bahwa bu Imam akan mengadukan dokter Iva kepada saudaranya yang menjadi seorang pejabat di Depkes. Saya dapat memahami kegusaran bu Imam atas buruknya pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, terutama di Makkah. Padahal biaya perjalanan haji yang dibayar jemaah haji Indonesia relatif cukup tinggi. Tetapi tidak jelas bagi saya, mengapa dokter Iva yang akan diadukannya. Memang dokter Iva ketika pulang ke pemondokan membawa sejumlah obat-obatan dari rumah sakit, tetapi obat-obat tersebut, yang saya dengar jumlah dan kelengkapannya memang jauh dari memadai, adalah untuk keperluan praktik dokter Iva di pemondokan melayani jemaah kloter kami 2) Ketika meminum OBH Combi yang diresepkan oleh dokter RS yang cukup senior dan melayani kami dengan wajah tanpa ekspresi tersebut, saya malah jadi batuk-batuk dan sehingga obat tersebut akhirnya saya berikan kepada Kur yang beberapa hari terakhir ini terkena serangan batu ringan. Yang saya minum hanya tabletnya. Akhirnya tabletnya pun saya hentikan karena setiap saya telan menyebabkan perut saya mual. Sementara kesehatan saya tidak banyak mengalami perbaikan. Kamis 20 Februari Hari ini kami mengetahui, bahwa mas Parno yang berhaji bersama isteri dan kedua mertuanya juga mendapat kamar tersendiri di sebelah kamar kami. Pasalnya pak Masdoeki, mertua lelakinya yang sudah berusia 71 tahun, selalu batuk-batuk dan tidak tahan dengan ruang ber-AC. Sebelumnya mbak Tati isteri mas Parno pernah ke kamar kami menanyakan apakah masih ada tempat tidur kosong di kamar kami, karena pak Masdoeki dan isteri akan dititipkan di kamar kami. Tetapi tidak jadi, walaupun di kamar kami masih ada tiga tempat tidur kosong. Sewaktu ditanyakan Kur kepada pak Ketua Kafilah, beliau menjelaskankan bahwa pengaturan kamar jemaah sepenuhnya ditentukan oleh maktab. Jumat 21 Februari Kembali merasa kondisi badan saya agak enakan, pagi itu saya dan Kur pergi shalat shubuh ke Masjidil Haram. Pulangnya kami naik taksi dengan bayaran dua riyal. Saya juga agak heran ketika pak sopir bersedia membawa kami hanya dengan bayaran satu riyal seorang, sama bahkan lebih murah dari pada ongkos "angkot" yang kadang-kadang membebani kami dua riyal per-orang. Siangnya Kur mengatakan bahwa dia bertemu pak Ketua Kafilah---yang mengetahui bahwa kami tadi pagi pergi shalat shubuh ke Masjidil Haram----mengingatkan agar saya tidak keluar-keluar pemondokan dulu. "Nanti malah bisa-bisa keinginan Pak Darwin untuk melaksanakan arbain di Masjid Nabawi bisa buyar," jelas beliau kepada Kur. Ketika waktu Jumatan tiba saya ingin shalat di Masjid yang didekat pemondokan kami, tetapi dilarang oleh Kur. Akhirnya saya ganti dengan shalat dzuhur saja di kamar. Ketika turun ke lobby untuk suatu keperluan, saya bertemu bu Imam yang baru keluar dari kamarnya. Rupanya pak Imam dan bu Imam juga sudah dapat kamar sendiri di lobby. Saya lihat wajah bu Imam berseri-seri, dan tidak terdengar lagi akan mengadukan dokter Iva kepada saudaranya yang pejabat Depkes (bersambung) ----------------------------- 2) Setelah kembali ke Tanah Air saya dengar bahwa pengadaan obat-obatan bagi jemaah haji Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Agama dan bukan oleh Depkes. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
