Copy of SURYADI - Malewakan Datuak.jpg

 

WALEWAKAN GELAR DATUAK di Minangkabau pada zaman kolonial harus mengundang
pejabat kolonial setempat, seperti komandan militer atau tuan kontrolir
(controleur) dan orang-orang penting lainnya. Dalam catatannya ketika
bertugas di Pariaman, komandan Militer Belanda, J.C. Boelhouwer (1841)
mengatakan bahwa ia juga diundang menghadiri perhelatan seorang datuak di
Pakandangan. Dia disuruh pula makan sirih dan mencoba makan dengan tangan.
Foto ini dibuat sekitar 1910 di kanagarian Cimpago, Padang Pariaman.
Tampaknya datuak yang dilewakan gelarnya adalah yang duduk di tengah di
bawah payung kebesaran dengan pakaian kebesarannya pula. Di sebelah kanannya
duduk seorang Belanda dengan pakaian resminya, lengkap dengan dasinya, yang
sangat mungkin adalah pejabat kolonial setempat. Sedangkan yang lain-lain
tampaknya adalah para datuak yang diundang dan mungkin juga tuanku laras.

 

Foto ini memperlihatan model pakaian resmi pejabat pemerintah zaman dulu:
jas warna putih dengan kerah tertutup yang dikombinasikan dengan pantalon
warna putih. Mereka juga bersepatu, yang membedakannya dengan rakyat
berderai. Yang berpakaian warna lain mungkin juga menunjukkan jabatannya
dalam administrasi pemerintahan kolonial. Tampaknya warna putih sangat
favorit. Mungkin warna itu dipilih sebagai simbol bahwa seorang pejabat
pemerintah harus 'bersih', meskipun dalam kenyataannya banyak juga yang
korupsi. Tapi ada yang mengatakan bahwa warna putih dipakai untuk
menyesuaikan diri dengan udara tropis yang panas. Dulu, para pegawai sipil
atau militer Belanda yang didatangkan dari Belanda ke Hindia Belanda akan
bertukar pakaian dari warna hitam ke warna putih setelah kapal yang mereka
tumpangi melewati wilayah laut Afrika atau Terusan Suez (sesudah terusan itu
dibuka bulan November 1869). Di Belanda (atau Eropa pada umumnya) yang
berhawa dingin hampir sepanjang tahun, orang pada zaman itu cenderung
memakai pakaian berwarna hitam karena warna hitam menyerap panas. Entah
kenapa dalam foto ini (dan dalam foto-foto klasik pada umumnya) tak satu pun
wajah yang kelihatan tersenyum. Wajah-wajah itu kelihatan tegang, barangkali
karena teknologi kamera (fotografi) pada waktu itu masih dianggap aneh dan
baru.

 

Suryadi - Leiden, Belanda. (Sumber foto: KITLV Leiden).

Singgalang, Minggu, 20 Juni 2010

http://niadilova.blogdetik.com/2010/06/20/minang-saisuak-03-malewakan-datuak
/

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

<<image003.jpg>>

Kirim email ke