Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Dek carito katam kaji ko, jadi takana lo carito nan alah agak lamo ditulih
pakaro hal nan samo (Nan sabanano ado juo di
http://www.palantalembangalam.blogspot.com).
HELAT KATAM KAJI
Sudah
tiga hari Syamsuddin Sutan Rajo Endah berada di kampung. Akhirnya sampai juga
dia di kampung setelah sembilan tahun tidak menjejak negeri ini. Padahal sudah
berkali-kali pula mamaknya Marah Sutan berpesan menyuruh dia pulang. Sanak
saudara sudah rindu kepadanya anak
beranak. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga. Mereka sekeluarga bisa pulang
kampung ketika anak-anak sedang libur kenaikan kelas. Berkendaraan Kijang
Krista.
Dan
ternyata kampung sedang ramai-ramainya. Sumatera Barat sedang di serbu orang
rantau. Banyak benar orang rantau pulang. Bermacam-macam nomor polisi mobil di
parkir di bawah Jam Gadang. Ada oto dari Medan, dari Pekan Baru, dari Jambi,
dari Palembang, dari Lampung, dari Jakarta (jangan lagi dihitung), dari
Bandung, dari Semarang, dari Surabaya dari Bali, bahkan dari Kalimantan Timur.
Sudah seperti Indonesia kecil Bukit Tinggi.
Ini
adalah hari-hari helat khatam Quran. Di tiap kampung ada perayaan khatam Quran.
Perayaan yang merupakan helat nagari. Berdiri merawa dan umbul-umbul. Ada
gapura dengan baleho
dan tulisan besar. Biasanya tertulis ‘Perayaan Khatam Quran yang ke sekian’,
dengan bilangan kesekiannya bisa mencapai angka 40 atau bahkan lebih. Artinya
sudah empat puluh kali lebih pula perayaan yang sama diadakan setiap tahun.
Tidak
terkecuali di kampung Syamsudin. Pesta kali ini adalah yang ke empat puluh
lima. Meskipun dia pulang
bukan khusus untuk menghadiri Perayaan Khatam Quran, tapi karena sudah di
kampung kenapa pula tidak diikuti saja. Apatah lagi, kemenakannya Kamisah ikut
berkhatam tahun ini. Di rumah ibunya orang sibuk menyiapkan perhelatan besok
hari. Seekor kambing dipotong sore ini dan ibu-ibu bergotong royong memasak.
Mesjid dan gedung Taman Bacaan Al Quran atau yang biasa
disingkat gedung TBA, sudah dihiasi sejak beberapa hari yang lalu. Pintu gapura
mesjid dihiasi dengan gaba-gaba. Bendera adat yang mirip dengan bendera negeri
Jerman itu, atau yang biasanya disebut ‘marawa’ sudahpun terpasang di
kiri-kanan jalan sejak seratus meter dari mesjid dan gedung TBA. Di belakang
gedung TBA orangpun sibuk memasak. Seekor sapi dipotong untuk dibuat ‘gulai
kancah’ yang besok akan di santap orang se nagari.
Helat itu biasanya dilaksanakan hari Ahad. Sejak pagi-pagi
buta semua yang berkepentingan ikut sibuk. Amai-amai yang tadi malam
terpaksa tidur terlambatpun tidak terkecuali, harus cepat-cepat bangun. Dan
anak-anak yang hari ini akan ‘diarak’ sudah bersolek menor-menor. Mereka akan
berarak berkeliling kampung menempuh jarak antara lima sampai tujuh kilometer
hari ini. Yang
wanita berpakaian putih, berrenda-renda, dengan penutup kepala bersunting kecil
berbunga-bunga. Ibu-ibu mereka yang ‘centil’ tidak lupa melepongkan
‘lepongsitip’ di bibir mereka agar bertambah menor. Yang pria memakai jubah
berwarna merah dan bercelana panjang. Lebih sederhana hiasannya. Cukup dengan
‘sorban’ putih disongkok dengan egal kecil. Sesudah siap masing-masing
berangkat menuju mesjid diikuti tukang tudung mereka masing. Tukang tudung yang
akan memayungi mereka selama berarak nanti. Tukang tudung yang wanita adalah
gadis kecil, biasanya kakak, atau sepupu, atau teman, harus berjilbab. Tukang
tudung pria, sama saja, boleh kakak, boleh anak mamak, boleh kawan. Boleh pakai
celana panjang, boleh pakai kain sarung tapi harus berkopiah.
Yang
berkhatam tidak semua yang tinggal di
kampung. Banyak juga yang meninggalkan anaknya dengan nenek mereka untuk
mengaji di kampung. Belajar tulis baca al Quran itu berlangsung setahun. Mulai
dari mengaji alif-ba-ta, sampai pandai merangkai huruf demi huruf , sampai
akhirnya pandai mengaji. Dalam waktu
setahun banyak yang sudah lancar mengaji tapi masih ada juga yang belum begitu
lancar. Tapi semua dikhatam saja. Semua diikutsertakan.
Jam
tujuh mulai diatur barisan di jalan di depan mesjid. Di depan sekali adalah dua
anak muda berbaju putih dan berkopiah membawa spanduk dengan tulisan berisi
nama taman bacaan al Quran. Ada tulisan nomor
perayaan yang ke empat puluh lima di spanduk itu. Dia inilah kepala barisan.
Lalu delapan orang anak gadis
berpakaian adat dengan tutup kepala
bertanduk, masing-masing membawa cerana bagaikan mau mengundang orang banyak
untuk datang ke perhelatan ini nanti. Empat orang yang bertingkuluk tanduk itu
masih memakai jilbab. Sudah ada juga kemajuan. Dibelakangnya barisan
pembawa bendera merah putih sebanyak dua puluh orang anak muda-muda berbaju
putih, berselempang kain merah putih dan berpeci, berbaris empat-empat. Sesudah
itu ada pula sebuah bendi yang sudah dihias, yang entah kenapa harus pula ikut,
membawa seorang anak yang memangku al Quran. Beruntung betul anak kecil yang
duduk di bendi itu. Lalu barisan anak-anak wanita membawa al Quran. Dua puluh
orang banyaknya.
Lalu barisan Drum Band. Inilah nanti yang akan membuat atraksi musik sepanjang
jalan. Di belakangnya berbaris anak-anak perempuan yang di khatam berdua-berdua
dengan tukang tudung. Dibelakang barisan anak perempuan ada barisan
anak-laki-laki pula membawa al Quran. Dua puluh orang juga. Seterusnya
anak-anak laki yang di khatam beserta tukang tudungnya masing-masing. Di
belakang mereka ini kelompok tukang rebana, sembilan orang berumur antara tiga
puluhan sampai yang paling tua mungkin sudah hampir enam puluh tahun,
masing-masing membawa rebana. Di belakang tukang rebana bergerombol sanak
saudara dari yang ikut di khatam. Ada mak etek, mak ciak, pak tangah, etek,
semua lengkap ada disana. Belum selesai,
dibelakang ini berbaris-baris oto urang rantau yang anaknya, atau kemenakannya
ikut di khatam sebagai cadangan kalau-kalau gerombolan yang di depan itu nanti
tidak kuat lagi berjalan.
Hampir
jam delapan barulah semuanya siap, mulailah arak-arakan itu bergerak. Heboh
negeri. Terutama oleh rombongan drum band yang berketintam-ketintam. Rombongan
itu bergerak perlahan-lahan. Menyusuri lebuh yang panjang. Selalu saja ada seksi
repot. Yang sibuk ke muka ke belakang mengingatkan ini itu. Selalu saja ada
tukang foto. Yang amatir, yang pro, yang partikelir. Dan bahkan yang ber ‘handy
cam’, kenapa tidak. Ini biasanya orang rantau. Dan barisan yang ramai sekali
setahun itu riuh rendah berarak-arak.
Ketintam-tam-tam-tam-tam,
ketintam-tam-tam-tam-tam. Bunyi drum band bertalu-talu. Sang ‘komandan’,
beratraksi mempertunjukkan kebolehannya memain-mainkan ‘tongkat komando’ yang
kadang-kadang di’hambung’kannya tinggi-tinggi ke udara bila melintas di depan
orang yang menonton di tepi lebuh. Waktu tongkat itu ditangkapnya kembali orang
yang menonton bertepuk. Kembang kempis hidung ‘komandan’.
Di
barisan belakang, meski suaranya nyaris hilang ditelan suara drum band, tukang
rebana seolah tidak mau kalah untuk
menunjukkan kebolehannya. Dung dung plak, dung plak, dung plak. Dung dung plak,
dung plak dung plak. Dan mereka bernyanyi, tingkah bertingkah dengan suara
rebana yang mereka pukul.
‘Junjungan
kita nabi Muhammad, nabi terakhir pemimpin umat, turuti dia agar selamat, hidup
di dunia sampai akhirat.’ Dung dung plak, dung plak, dung plak. Dung dung plak,
dung plak dung plak.
Arak-arakan
itu bergerak terus pelan-pelan ke jorong tetangga. Bahkan ke nagari tetangga.
Yang di mudik dan di hilir. Yang diujung dan di puhun. Kira-kira jam sepuluh
atau sesudah dua jam berarak-arak, baru setengah jalan yang ditempuh. Peluh
sudah mulai bercucuran. Haji-haji kalakalun, haji sudah ke mekah alun itu,
meski sudah bercucuran keringat tetap berusaha untuk terlihat bersemangat.
Tidak jarang yang kakinya lecet oleh sepatu baru. Terpaksa ditukar dengan
sendal japit yang untung saja sudah disiapkan.
Jam
dua belas, menjelang azan zhuhur barisan itu sudah kembali ke pangkalan.
Rombongan yang berkhatam beserta tukang tudung dibawa ke rumah tempat jamuan
khusus bagi mereka. Yang mengiringi, siapa saja yang mau, menuju ke gedung TBA
yang sudah disiapkan. Di lantai yang beralaskan tikar plastik, dibuatkan
‘jamba’ di atas daun pisang. Nasi dengan gulai kancah, untuk disantap
beramai-ramai. Makan berjamba, makan bersama, berempat berlima satu jamba
menghadapi tumpukan nasi beralas daun pisang itu. Nikmat betul makan
berserigir-serigir seperti itu. Karena tempat tidak mencukupi makan terpaksa
berombongan.
Berganti-ganti.
Hari
itu belum akan dimulai perlombaan membaca al Quran. Karena anak-anak yang
berkhatam itu masih keletihan sesudah berarak-arak.
Dan
di rumah mereka masing-masing sanak saudara berdatangan ‘pergi makan’. Bako,
saudara-saudara perempuan ayah, datang menjunjung talam dan mengempit ayam
betina. Begitu pula adatnya. Sesudah makan minum, mereka yang datang bersalaman
dengan yang berkhatam. Lima ribu, sepuluh ribu,
dua puluh ribu, lima puluh ribu, seratus ribu. Kenapa tidak? Gedang kayu gedang
bahan. Yang
berkhatam tersenyum-senyum. Tiap sebentar dihitung juga uang yang sudah
terkumpul. Mereka sudah punya rencana. Kalau uangnya cukup nanti mau membeli
‘play station’.
Hari kedua adalah hari perlombaan membaca al Quran. Guru
mereka sudah menetapkan bacaan yang akan dibaca pada saat lomba. Lomba membaca
ini diadakan di mesjid. Dibuatkan
panggung khusus. Masing-masing diberi nomor undian untuk menentukan siapa yang
akan dahulu membaca. Ada juri yang akan menilai. Mesjid biasanya dipenuhi kaum
keluarga yang ingin
mendengarkan seberapa baik bacaan anak kemenakan mereka.
Maka
satu persatu naik ke mimbar khusus. Ada yang sudah berdaso, sudah rancak
bacaannya. Ada yang masih berkalentoh pentoh, ada
yang masih berbaur saja panjang dengan pendek. Ada yang demam panggung. Ada
yang tersesak ke belakang tiap sebentar.
Tapi semua harus maju. Semua harus membaca.
Tergantung
jumlah yang berkhatam, biasanya menjelang zhuhur atau lebih sedikit waktu
zhuhur semua sudah kebagian. Tim juri berunding sebentar untuk menetapkan siapa
yang paling baik. Kalau dulu, juaranya ‘mengirit’ kambing karena hadiah
buat yang nomor satu adalah seekor kambing. Sekarang-sekarang ini sudah lebih
bervariasi. Kadang-kadang cincin emas, bahkan kadang-kadang uang dalam bentuk
tabungan di BRI.
Pengumuman
pemenang akan dilakukan nanti malam sesudah shalat isya. Beramai-ramai pula
kembali ke mesjid. Pada
kesempatan malam ini digunakan juga untuk bertemu muka dengan perantau. Panitia
akan meminta perantau yang ‘boneh‘ untuk berpidato. Bolehlah kalau ingin
menyampaikan pesan dan kesan. Asal jangan lupa, kalaupun tidak sempat pulang
tahun depan namun ‘pekirim’ saja boleh jugalah. Karena orang rantau memang ikut
membiayai helat itu.
Dan
puncak acara bagi anak-anak yang dikhatam malam ini adalah pengumuman juara.
Dimulai dengan juara harapan tiga, harapan dua, harapan satu. Lalu juara tiga,
juara dua dan….juara satu. Masing-masing untuk putera dan puteri.
Bermacam-macam hadiah yang dibagikan. Hadiah yang disponsori orang rantau.
Kadang-kadang terjadi juga ironisnya hadiah. Hadiah nomor satunya sebuah TV
berwarna 14 inci. Apa daya listrik di rumah yang jadi juara belum masuk.
Kamisah,
kemenakan Sutan Rajo Endah, atau cucu mak Marah dapat juara dua. Hadiahnya
radio tape merek ‘National’.
Selesai
helat di mesjid. Helat di rumah bisa berhunyai-hunyai. Bukan apa-apa, siapa
pula yang akan sanggup makan sampai sepuluh kali sehari? Karena setiap datang
ke tempat yang berkhatam harus makan. Sebuah ‘harus’ yang memang harus
dibold menulisnya. Kalau tidak makan,
tidak baik namanya dalam adat.
*****
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
________________________________
From: MEDYA AGUSTINA <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, June 22, 2010 11:04:18 AM
Subject: [...@ntau-net] Tradisi Khatam Alquran di Nagari kami di Canduang
Assalamualaikum WW
Dunsanak palanta yang terhormat,
Sabantako medi di telpon adiak di kampuang bahwasanyo di Canduang
sadang rami jo khataman kini ko. Patang di Surau V Kampuang dan hari ko
di Surau Ganggo...yo sabana rami nagari
kecek adiak cako tun.
Nan tapikia di Medi kini ko baako di IV Angkek Canduang dan sekitarnyo
samiang yang menjadi tradisi kok di tampek lain di Sumbar ndak tadanga
bana, baa nyiak mamak dan dunsanak nan lain di palanta...atau medi nan
kurang mandanga? Kalau di Kecamatan IV Angkek
Canduang iyo baralek bagi nan mampu di rumah
masiang-masiang atau badua di surau sajo ndak baa jo doh.
Kalau ado info di dunsanak nan lain ,tolong lah dilewakan disiko , bia lebih
tarang di medi ko a.
Demikianlah dunsanak, makasih sebalum no
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.