Pada suatu hari Ustadz Abdul Azis datang mengunjungi saya di kamar. Beliau 
memberikan beberapa nasehat yang membesarkan hati saya dan  mengatakan agar 
saya bersabar.  "Bapak tidak sakit, tetapi diberi kesempatan oleh Allah SWT 
untuk langsung mengadu kepada-Nya." Kemudian dilanjutkannya, "Menurut saya 
sakit ini lebih baik dari pada sehat." 

Saya lama termenung merenungkan kata-kata Ustadz Azis. Sejak menderita sakit 
menjelang wukuf di Arafah saya banyak menerima perhatian, simpati dan 
pertolongan dari rekan-rekan sesama jemaah. Bahkan tidak kurang pula yang 
mengirimkan makanan suplemen seperti sereal, biskuit bergizi tinggi dan susu 
bubuk yang diperkaya. Setiap bertemu Kur para jemaah, termasuk yang di luar 
kafilah kami  sering menanyakan bagaimana kondisi saya dan mendoakan agar saya 
cepat pulih.

Selain bekas teman-teman sekamar saya dan Kur, pak Ustadz juga sempat dua kali 
menjenguk saya.

Sekali pernah terpikir oleh saya, bagaimana kalau kehilangan suara yang saya 
alami ketika itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi kemampuan saya untuk 
bekerja selanjutnya.  Tetapi pikiran itu tidak membuat saya kecil hati, karena 
apapun yang akan terjadi, pilihan untuk pergi ke Tanah Suci adalah pilihan saya 
sendiri, dan Agama Islam yang mewajibkan penganutnya yang mampu untuk melakukan 
ibadah haji, adalah agama yang saya anut dengan sadar dan penuh keyakinan.

Sementara itu saya tetap berusaha untuk makan nasi semampu saya walaupun seret, 
dan minum sebanyak-banyaknya walaupun tetap sering terbatuk-batuk, sampai saya 
temukan cara yang agak aman untuk minum, yaitu dengan agak menelengkan kepala 
saya ke kanan karena bagian yang sensitif di pangkal kerongkongan terletak di 
bagian sebelah kiri, walaupun kadang-kadang, bagian yang sensitif tersentuh 
juga yang menyebabkan saya kembali batuk-batuk.

Masuknya  air zam-zam dalam jumlah yang agak berarti, menyebabkan kondisi saya 
berangsur-angsur baik. Dan kalau napas mulai terasa sesak sehabis batuk-batuk, 
saya segera menghirup Atrovent inhaler.

Sayapun sudah mulai dapat kembali shalat dengan berdiri.

Sesekali saya masih mengirim SMS kepada pak Haji Mugiharto dan Iben anak kami 
yang tertua guna menceritakan perkembangan kesehatan saya.

Ketika Kur menelepon ke rumah, anak kami yang tertua itu menceritakan bahwa 
para tetangga dan anak-anak yatim yang menghadiri pengajian mingguan yang 
diselenggarakan di rumah selama kami berada di Tanah Suci selalu mendo'akan 
keselamatan kami. Demikian pula para peserta latihan Tetada Kalimasada di SD di 
sebelah rumah juga tidak pernah lupa mendoakan kesembuhan saya.  

Dokter Iva yang menyangka bahwa kondisi kesehatan saya tetap payah, memberi 
tahu Kur, bahwa saya kembali akan diterapinya dengan reiki. Tetapi kami harus 
membeli sendiri di apotek obat-obatan yang akan direspkannya. Ketika saya 
datang ke tempat praktiknya di lantai enam, dia agak terkejut melihat kondisi 
saya yang rupanya tidak seperti dibayangkannya sebelumnya. Ketika hendak 
kembali ke kamar saya diberinya dua strip tablet multivitamin.

Beberapa hari terakhir ini ponsel saya sudah tidak bisa lagi mengakses Al 
Jawwal, ko-operator Telkomsel di Saudi. Rupanya kartu Hallo saya sudah kena 
blokir karena saya tidak ingat untuk menaruh deposit sebelum berangkat ke Tanah 
Suci. Akibatnya saya tidak bisa lagi mengirim SMS ke Tanah Air.

Jumat 29 Februari, tiga hari lagi menjelang thawaf wada dan saatnya berangkat 
ke Madinah, saya kembali mendatangi dokter Iva guna berkonsultasi dan minta 
izin untuk keluar pemondokan guna melakukan shalat maghrib di Masjidil Haram. 
suster Enny yang berada di samping dokter Iva sangat mendukung keinginan saya. 
Dokter Iva menyetujuinya asal saya menggunakan kendaraan umum setiap pulang dan 
pergi dari Masjidil Haram.

Dalam keadaan normal, sakit adalah hal yang sangat menjemukan, dan hari-hari 
terbaring sakit terasa sebagai hari-hari yang panjang. Tetapi yang saya rasakan 
di Tanah Suci adalah sebaliknya. Hari-hari terbaring sakit sejak sekembalinya 
dari kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Makkah, berjuang agar 
tetap makan nasi walaupun terasa seret dan minum sebanyak-banyaknya walaupun 
sering terbatuk-batuk karenanya, sepertinya berlangsung sangat cepat, bahkan 
terasa sebagai hari-hari yang hilang.  

Hari itu saya masih mengganti shalat Jumat dengan shalat dzuhur di kamar, dan 
kalau berbicara masih setengah berbisik. Tetapi saya sudah mulai berfikir 
mengenai persiapan saya untuk melaksanakan thawaf wada yang tinggal tiga hari 
lagi. Rencana untuk shalat maghrib di Masjidil Haram menjelang thawaf wada, 
merupakan bagian dari persiapan itu.

(bersambung)


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke